
"Mau kemana lagi?"
Seseorang menghentikan langkah Putri. Tepat ketika gadis itu melintasi sebuah jalan setapak, di taman melingkar yang terletak di pinggir sebuah danau buatan. Putri kaget dan menatap orang tersebut.
"Pak Adnan?" ujarnya tak percaya.
Putri tak menyangka dirinya akan bertemu dengan pria tampan itu disana.
"Bapak ngapain disini pak?" tanya nya kemudian.
"Yang harus nanya itu saya, Put." jawab Adnan.
Kamu dari tadi udah jalan muter tiga kali loh, di lahan seluas ini." lanjutnya kemudian.
"Hah, emang iya pak?"
Ternyata ada yang membuat Putri lebih kaget lagi, yakni tingkah dirinya sendiri. Adnan mendekat lalu memberikan satu cup minuman boba padanya.
"Haus kan?" tanya pria itu.
"Bapak beli ini dimana?"
Putri balik bertanya seraya meraih minuman tersebut dari tangan Adnan.
"Tadi saya beli via ojek online, dan baru aja sampe. Kalau belum sampe, saya akan biarin dulu kamu muter sampe empat atau lima kali." seloroh Adnan seraya tertawa kecil.
Putri pun jadi ikut-ikutan tertawa kali ini.
"Mikirin apa sih?"
__ADS_1
Adnan mengarahkan Putri untuk ke bibir danau, dan duduk di salah satu kursi yang kosong disana.
Putri mengikuti langkah pria itu dan kini mereka sama-sama duduk menghadap ke depan.
Tepat pada hamparan teratai besar dan beberapa eceng gondok. Ada juga banyak angsa yang berenang disitu.
"Kamu lagi ada masalah?"
Adnan kembali bertanya, dan kali ini pertanyaan yang ia ajukan agak cukup berani.
Mengingat ia belum begitu mengenal siapa Putri dan mereka bukan merupakan teman dekat sebelumnya.
"Nggak ada." jawab Putri.
Adnan menghela nafas dan meminum minumnya. Tadi ia memesan kopi dingin. Putri juga terlihat meminum minuman miliknya.
Putri yang gantian menghela nafas panjang kali ini. Dilemparkannya pandangan ke arah danau.
"Ibu saya, pak." ujarnya kemudian.
"Kenapa ibu kamu?" Lagi-lagi Adnan bertanya.
"Saya merasa cuma dijadikan mesin pencari uang. Dikit-dikit kalau nelpon cuma minta uang aja. Kalau telat saya krim, dia marah-marah. Maki-maki saya dan bilang saya anak durhaka. Tiap menghubungi saya selalu untuk itu. Nggak pernah nanyain saya sehat apa nggak, udah makan apa belum."
Putri berujar panjang lebar.
"Ayah kamu masih ada?" tanya Adnan.
"Tiri." jawab Putri.
__ADS_1
"Yang kandung?" tanya Adnan lagi.
Putri menggelengkan kepalanya.
"Nggak tau." jawabnya kemudian.
"Bercerai atau gimana sama ibu kamu?"
"Nggak tau, nggak pernah tau dan nggak pernah ketemu juga dari kecil. Setiap saya tanya sama ibu, selalu ibu jawab udah mati. Tapi kayak penuh dendam gitu ngomong udah mati-nya. Bukan sedih." ujar Putri.
Adnan diam sejenak lalu kembali melontarkan pertanyaan.
"Ayah tiri kamu kerja apa?"
"Nggak jelas." jawab Putri.
"Kadang kerja, kadang nggak. Makanya ibu selalu mengandalkan uang dari saya. Karena punya suami yang nggak guna." lanjutnya lagi.
Adnan lagi-lagi menghela nafas. Sejatinya ini semua sudah cukup menjelaskan, dari keluarga seperti apa Putri berasal. Adnan mendadak kasihan pada gadis itu.
"Oh ya, saya minta maaf baru baca pesan kamu. Kamu ngirim ke nomor yang hp nya jarang saya buka." ujar Adnan.
"Tapi kalau kamu butuh kerjaan baru. Nanti langsung bikin CV aja. Wa ke nomor saya yang satunya. Ada kan di kartu nama?"
Putri mengangguk.
"Saya selesaikan kontrak dulu pak. Masih satu setengah bulan lagi." ujarnya.
"Oke." jawab Adnan.
__ADS_1