
"Koq hubungan gue sama Aaron jadi kayak hambar ya?"
Putri bertanya pada Shanin dan juga Tari. Ketika kedua sahabatnya itu memutuskan untuk mampir ke apartemen miliknya. Kebetulan ini weekend, mereka juga tak punya tempat lain selain ketempat Putri.
"Beneran hambar atau lo cuma lagi lelah secara fisik dan mental doang?" Shanin memastikan.
"Bener, Put. Kadang kelelahan fisik maupun pikiran dan mental. Bisa membuat kita merasa segala sesuatu itu terasa hambar, termasuk hubungan percintaan." timpal Tari.
"Iya, padahal aslinya lo masih cinta, dan gairah lo untuk itu masih menggebu-gebu." ujar Shanin lagi.
"Istilahnya kayak ketutupan kabut gitu loh." ujar Tari.
"Nah, bener." timpal Shanin.
"Iya kali ya?" tanya Putri.
"Iya bisa jadi, Put. Makanya jangan buru-buru memutuskan sesuatu sebelum lo berfikir panjang." ujar Shanin lagi.
Kali ini Putri menghela nafas, lalu mengangguk.
"Tok, tok, tok."
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Siapa?" tanya Shanin pada Putri dan juga Tari. Kedua orang itu terlihat bingung.
"Petugas kali." ujar Tari lalu berjalan ke arah pintu. Tak lama ia pun membuka pintu tersebut.
"Lah, Aaron?" Tari berkata dengan nada surprise.
Putri dan Shanin terkejut. Sebab Aaron mengatakan jika ia akan datang agak siang, namun ternyata pria itu tiba lebih awal.
"Hai, apa kabar Tar?"
Aaron memeluk Tari, tak lama ia pun masuk dan memeluk Shanin. Hal tersebut sudah biasa di lingkaran pertemanan mereka. Dan lagi pula di luar negri sana, Aaron juga biasa seperti itu pada teman-teman wanitanya sebagai tanda keakraban. Bukan berarti ia memiliki perasaan.
"Hai sayang."
Aaron menghampiri Putri dan memberinya satu buket bunga mawar merah. Ia lalu mencium kekasihnya itu dengan penuh kelembutan.
"Makasih ya, sayang." ujar Putri. Aaron mencium Putri sekali lagi.
"Mawar doang nih?" Sindir Tari.
__ADS_1
"Udah gue pesen, Tar. Gue tuh udah feeling bakal ada kalian disini." ujar Aaron kemudian.
"Lo pesen apa tadi?" tanya Tari.
"Pizza dan teman-temannya." jawab Aaron.
"Ntar kalau kurang, tinggal order lagi aja." lanjutnya lagi.
"Ok." Tari sumringah.
Putri dan Shanin sama-sama menggelengkan kepala melihat tingkah Tari.
"Tari kalau soal makan, emang nggak lawannya ya." ujar Shanin.
Putri kini tertawa.
"Untung kenal lama sama Aaron. Coba kalau cowok lo baru pacaran dan belum kenal sama kita. Malu gue sama sikapnya Tari." Lagi-lagi Shanin berseloroh dan untuk kedua kalinya Putri pun tertawa.
Mereka kemudian mengobrol dan saling menanyakan kabar. Aaron terlihat terus menggenggam tangan Putri, sambil sesekali tersenyum kepada kekasihnya itu. Sembari ia menanggapi perkataan Shanin dan juga Tari.
Butuh beberapa saat hingga pizza yang ia pesan pun datang. Lalu mereka semua makan sambil bermain truth or dare.
Setelah sekitar 4 jam berlalu, Shanin dan Tari pamit. Sejatinya baik Putri maupun Aaron tak masalah jika Shanin dan Tari masih ingin berada di tempat itu.
"Sayang sini...!"
Aaron merangkul Putri. Putri menempelkan kepalanya di dada Aaron. Lama keduanya terdiam, sampai akhirnya mereka pun sudah terlihat berciuman.
"Hmmh."
Putri mulai melenguh, ketika tangan Aaron bergerilya dan menyentuh serta meremas bagian-bagian sensitif di tubuhnya. Tangan Putri pun bergerak ke arah yang terlarang di tubuh sang kekasih.
Lambat laun semuanya terasa semakin panas. Namun Aaron kemudian menahan gejolak Putri dengan menghentikan aktivitas dan memeluknya dengan erat.
"Kamu udah nggak suka lagi ya sama aku?" tanya Putri dengan suara lirih. Terlihat ada kesedihan serta kekecewaan di wajahnya yang cantik.
"Bukan gitu sayang."
Aaron melepaskan pelukan dan memegang kedua bahu Putri. Lalu ditatapnya perempuan itu dalam-dalam.
"Kamu saat ini lagi hamil, masih tiga bulan kan?. Dan lagi ada permasalahan yang melatarbelakangi. Kalau aku melakukan itu sama kamu, terus bayinya sampai kenapa-kenapa. Kamu akan dianggap menghilangkan bukti. Aku cuma lagi jagain kamu dari semua itu. Bukan aku nggak pengen, pengen banget malah. Aku kangen berat sama kamu. Tapi kita harus mengedepankan hal yang lebih penting dulu, dari pada ini semua."
Putri menunduk, lalu mengangguk. Perasaannya benar-benar seperti di aduk-aduk. Di satu sisi ia merasa hubungannya dengan Aaron mulai hambar, namun disisi lain ia takut kehilangan pria itu. Ia memiliki rasa terhadap Adnan, namun juga tak ingin membuang Aaron begitu saja.
__ADS_1
Sebab bisa jadi perasannya terhadap Adnan hanya bawaan bayi yang tengah ia kandung saja. Sebenarnya mungkin jika tidak demikian, ia tak akan memiliki rasa apa-apa terhadap pria itu.
"Jangan salah paham, Put. Aku masih sayang sama kamu seperti biasanya. Aku udah bilang berkali-kali soal ini."
Putri kembali mengangguk.
"Maafin aku." ujar Putri.
Aaron kembali memeluk wanitanya itu dengan erat.
"Kamu nggak perlu minta maaf, ini semua bukan salah kamu. Aku kan udah bilang, ini ujian untuk hubungan kita. Pokoknya, aku nggak mau liat lagi kamu merasa bersalah lagi sama aku. Aku mau kita baik-baik aja." ujar pria itu kemudian.
Putri kembali mengangguk, dan kini ia coba untuk tersenyum pada Aaron.
"Udah dong, kan aku pulang tuh buat ketawa-ketawa dan seru-seruan sama kamu." ujar Aaron lagi.
"Iya." jawab Putri.
Keduanya kembali saling menatap satu sama lain. Lalu mereka sama-sama tersenyum.
Dan pada menit-menit berikutnya mereka berdua terlihat sudah tertawa-tawa. Entah apa yang sejatinya tengah mereka bahas, namun mereka tampak begitu bahagia. Aaron bercerita sambil menyuapi Putri, begitupun sebaliknya.
***
"Aaron kemana, mi?" tanya Aline yang baru bangun dari tidurnya.
Hari itu ia libur, meski liburnya seseorang yang bekerja di harian pers tak pernah menentu.
"Lagi ke tempat Putri." jawab sang ibu.
"Oh ya mi, Aline dapat info dari teman Aline yang lawyer. Katanya sih, batas pengguguran bayi hasil pemerkosaan atau pemaksaan itu harus maksimal 6 minggu atau berapa gitu. Pokoknya kalau udah tiga bulan kayak si Putri, udah nggak bisa."
"Oh ya?" ibu Aaron kini menatap Aline.
"Serius kamu?" tanya Ibu Aaron lagi.
"Serius, mi." Aline berusaha meyakinkan sang ibu.
"Orang yang ngomong lawyer koq, masa iya lawyer bohong soal itu."
Ibu Aaron menghela nafas.
"Ini kira-kira si Putri sudah tau belum ya?" tanya ibu Aaron lagi pada Aline.
__ADS_1
"Nggak tau mi. Mending tanya langsung aja ke orangnya." jawab Aline.