
"Pak Adnan itu kerja dimana?" tanya Miska pada Putri.
"Tau tuh, ada di kartu namanya. Nggak tau itu kartu kemana." jawab Putri.
"Untung tadi gue minta nomor handphonenya." lanjut gadis itu kemudian.
"Dia ada nawarin kerjaan ke si Putri. Tapi lo masih terikat kontrak ya, Put?". tanya Ghea.
"Iya, makanya belum ngelamar kesana. Kalau udah bisa mah, mau gue." ucap Putri.
"Kontrak lo masih lama?" tanya Miska.
"Kira-kira sebulan lebih lagi lah." jawab Putri.
"Nah ya udah, bagus itu. Lo ngelamar aja kerja disana. Kan lo butuh duit juga buat hidup sama buat keluarga lo." ucap Miska.
"Iya sih." ujar Putri.
Tak lama ibu Putri menghubungi via WhatsApp. Isinya tentu saja menanyakan kenapa Putri belum mengirim uang tambahan.
Putri yang malas berdebat dan masih dalam keadaan kurang baik itu pun, kemudian mengabaikan pesan sang ibu.
***
__ADS_1
Jadwal Adnan cukup padat hari itu. Ia banyak bertemu klien dan juga masih harus menjalankan event. Untung saja ia memiliki istri yang tak rewel seperti Dira.
Dira tak pernah mengeluh dan merengek. Juga tak perlu harus selalu ditemani kesana-sini.
Ia benar-benar merupakan perempuan tangguh, mandiri, dan tak banyak menuntut. Apalagi soal waktu Adnan yang kadang sangat terbatas.
"Pak, ada telpon buat bapak."
Sekretaris masuk ke ruangan Adnan dan mengabarkan hal tersebut. Adnan lalu menerima telpon itu, ternyata dari pengacara Putri.
Pengacara tersebut melaporkan sesuatu pada Adnan. Adnan bilang lanjutkan saja semuanya. Nanti kalau sempat ia ingin mengajak pengacara itu untuk bertemu lagi.
Si pengacara mengiyakan dan menyudahi telpon. Tak lama Adnan pun kembali bekerja.
***
Dira telah terbiasa dengan semua itu. Ia tak banyak mengirim chat pada sang suami, ketika ia tengah bekerja. Sebab ia mengerti betul kesibukan Adnan.
"Duh, pak Adnan kemana?"
Putri bertanya-tanya dalam hati. Berkali-kali ia mengecek WhatsApp, namun belum juga mendapatkan balasan. Bahkan dibaca pun belum oleh Adnan.
"Pak, nanti balas ya kalau udah nggak sibuk." ucap Putri.
__ADS_1
Lagi-lagi Adnan tidak membaca, boro-boro membalas. Lalu Putri pun menyudahi hal tersebut, meski hatinya masih menanti.
Ia mengalihkan pikiran dengan membuka sosial media tiktok. Ada banyak video baru yang menarik disana. Sehingga rasa kesepiannya pun dapat sedikit terobati.
Adnan tiba dirumah di jam yang telah cukup larut. Dira terbangun dari tidur dan mengurus suaminya tersebut.
"Kalau kamu masih ngantuk, tidur aja lagi. Biar aku ambil makan dan bikin minum sendiri." ujar Adnan.
"Aku nya udah terlanjur bangun, mas. Lagian aku jadi ikut laper tau." ucap Dira.
"Ya udah, sama-sama makan yuk!" ajak Adnan.
Maka mereka berdua lalu duduk di meja makan. Dira mengambilkan nasi untuk suaminya itu.
Masalah lauk, ia memang selalu memasak untuk sarapan dan juga makan malam.
Siang hari Adnan makan di kantor sedang Dira. Kadang jajan, kadang juga hanya menggoreng telor atau masak mie.
"Lauknya mau aku panasin nggak mas?" tanya Dira.
"Nggak usah, aku udah laper banget soalnya." ucap Adnan.
"Oh ya udah."
__ADS_1
Mereka pun kemudian mulai makan.