
Putri pura-pura sudah tertidur ketika Adnan selesai menelpon. Adnan lalu menaikkan selimut perempuan itu, kemudian memandangnya untuk sejenak. Tak lama ia pun beralih ke sofa untuk pergi tidur pula.
Pagi hari, Adnan terbangun ketika dua orang perawat masuk untuk membersihkan tubuh Putri Di kamar mandi. Putri mencuci muka, menggosok gigi dan juga mandi air hangat.
Adnan pergi keluar sejenak, ia mengambil sikat gigi dan sabun pencuci muka khusus laki-laki dari dalam mobilnya. Usai Putri keluar dari kamar mandi, ia pun turut membersihkan diri. Tak lama ia sudah terlihat menyuapi Putri, karena itu adalah jadwal sarapan bagi pasien.
"Put, nanti saya pulang ya." ujar Adnan.
"Iya pak, makasih udah jagain saya." tukas Putri.
"Iya, sama-sama." jawab Adnan.
"Semoga kamu cepat pulih." lanjutnya lagi.
"Kreeek." Pintu kamar terbuka, Shanin masuk dan kaget. Sebab ia kira Adnan sudah pulang.
"Pagi Putri."
Shanin membawa ibu Aaron ke tempat itu, dan posisi Putri tengah di suapi oleh Adnan.
"Ma, mami?" ujar Putri kemudian.
Adnan langsung beranjak, ia melihat Putri dan melihat juga ke arah ibu Aaron. Adnan ingat beberapa waktu lalu, ia sempat bertanya mengenai keberadaan orang tua Putri. Dan Putri mengatakan jika kedua orang tuanya sudah tidak ada. Tetapi hari ini muncul seorang wanita yang ia sebut sebagai mami.
"Pak Adnan ini, ibunya Aaron. Pacar saya." ujar Putri.
"Oh." Aaron mengerti lalu mengulurkan tangannya.
"Pagi bu, saya Adnan." ujar Pria itu dengan sopan.
Ibu Aaron tersenyum lalu menjabat tangan Adnan. Sementara Shanin dan Putri sudah dag, dig, dug. Takut terjadi sebuah kesalahpahaman.
"Kamu ini, ayah dari anak yang di kandung Putri kan?" Ibu Aaron menebak, sebab Putri pernah bercerita bahwa ayah dari anaknya itu bernama Adnan.
Tentu saja hal tersebut membuat Putri dan Shanin tiba-tiba tersentak. Sebab Putri lupa pernah menyebut nama Adnan di depan calon mertuanya itu . Sementara Adnan sediri juga tak kalah terkejutnya.
"Mmm, iya bu." jawab Adnan. Ia sudah tidak bisa menghindar lagi.
Ibu Aaron pun kembali tersenyum.
"Kamu laki-laki yang baik, ibu senang bisa kenal kamu."
Perkataan ibu Aaron tersebut membuat Putri dan Shanin merasa begitu lega. Mereka sudah berprasangka buruk sejak tadi.
__ADS_1
"Ayo lanjutkan saja Putri makan. Mami disini mau liat keadaan Putri." ujar Ibu Aaron lagi.
Shanin dengan sigap mengambilkan kursi untuk ibu Aaron. Sedang Adnan kembali menyuapi Putri.
"Kamu baik-baik saja kan, Putri?" tanya ibu Aaron sesaat setelah ia duduk.
"Iya mi, Putri baik-baik aja. Putri juga udah ngabarin Aaron."
"Degh."
Kali ini perasaan Adnan yang tiba-tiba menjadi tidak enak. Ia tidak tau siapa itu Aaron dan bagaimana bentuk rupanya. Namun entah mengapa sosok yang disebut sebagai kekasih Putri itu, mendadak membuatnya seperti cemburu.
"Mami juga tau kamu disini, dari Aaron." Ibu Aaron berujar.
"Terus mami menghubungi Shanin dan minta diantar kesini. Soalnya Aline kan kerja, mami tuh nggak berani kalau sendirian."
"Iya mi, maaf jadi ngerepotin mami." ujar Putri. Ia masih terus menerima makanan yang di suapkan oleh Adnan.
Meskipun sejatinya mereka berdua merasa sangat tidak enak dalam mempertontonkan adegan tersebut. Namun tadi ibu Aaron memaksa Adnan untuk kembali menyuapi Putri.
"Mami itu nggak merasa direpotkan sama sekali. Justru mami akan kepikiran, kalau tidak melihat kondisi kamu secara langsung. Lagian Aaron juga khawatir sekali, dia takut kamu bohong. Bilang kalau kamu sudah sehat, padahal kamu masih sakit."
Ibu Aaron berujar panjang lebar. Dan lagi-lagi Adnan terusik hatinya, demi mendengar soal Aaron.
Adnan juga harus pamit karena mesti mengurus pekerjaan. Walaupun mungkin ia tidak berangkat ke kantor dulu hari ini.
Ibu Aaron berpamitan di waktu yang bersamaan dengan Adnan. Adnan kemudian bertanya dimana ibu Aaron tinggal. Ternyata arah rumah ibu Aaron dan apartemen Adnan sangat dekat. Maka dari itu Adnan menawarkan tumpangan pada wanita tersebut.
"Nggak usah, nak. Ibu pulang sama Shanin saja." ujar ibu Aaron pada Adnan.
"Nggak apa-apa bu, sama saya aja." ujar Adnan lagi.
Ibu Adnan pun merasa tidak enak, karena sepertinya Adnan sangat tulus padanya.
"Ya sudah ibu mau diantar sama kamu."
Adnan tersenyum, Putri dan Shanin saling bersitatap.
"Putri, mami pulang dulu ya." ujar ibu Aaron pada Putri.
"Iya mi, hati-hati ya mi. Makasih mami udah mau datang kesini repot-repot."
"Nggak apa-apa, mami senang bisa jalan-jalan keluar. Nggak di rumah terus." ujar wanita itu sambil tersenyum.
__ADS_1
Maka Putri lalu balas tersenyum pada wanita itu.
"Titip mami ya, pak." ujar Putri kemudian.
"Iya, Put. Saya sekalian pamit, Shanin saya pulang."
"Iya pak Adnan, makasih udah gantiin saya sama Tari jagain Putri."
Shanin sengaja mengatakan hal tersebut, supaya ibu Aaron tidak mengira jika Putri lah yang meminta Adnan untuk menjaganya. Shanin hanya ingin anggapan ibu Aaron terhadap Putri tetap baik. Karena memang Putri tidak meminta hal tersebut pada Adnan.
"Iya sama-sama." jawab Adnan.
Pria itu kemudian beranjak keluar dari dalam ruangan bersama ibu Aaron. Sementara kini Putri dan Shanin seolah menarik nafas yang begitu lega.
"Sumpah Put, tadi gue pikir mereka bakalan ribut terus bumi gonjang-ganjing." ujar Shanin seraya mengambil sebotol air mineral, lalu meminumnya hingga hampir habis.
"Sama, gue juga udah pasrah banget tadi kalau maminya Aaron bakalan marah. Tapi ternyata nggak. Elu sih bukannya kabarin gue dulu kalau mau kesini."
Shanin tertawa.
"Tadi tuh gue pikir karena udah jam segini. Ah pasti pak Adnan udah pulang, pikir gue. Karena kan dia mesti ke kantor juga. Gue pikir pagi buta udah ilang, eh ternyata masih disini."
"Ya yang terpenting sekarang semuanya nggak ada masalah. Nggak tau deh kalau di jalan nanti, ribut apa nggak tuh berdua." ujar Putri.
"Ya semoga aja nggak, Put." ujar Shanin.
"Oh ya, gimana semalem waktu pak Adnan jagain lo?. Ngapain aja lo berdua?" tanya nya kemudian.
"Ngapain?" Putri balik bertanya.
"Gue sama pak Adnan ngapain anjay?" lanjut perempuan itu.
"Ya mana gue tau, kan lo berdua doang."
Shanin tersenyum sambil menarik turunkan alisnya. Membuat Putri akhirnya tertawa.
"Lo ngarep gue apa sama pak Adnan?. Kan Lo sama Tari sendiri yang selalu memperingatkan gue. Inget Put, laki orang. Jangan sampai kebablasan." Putri mengulang perkataan yang sering di ucapkan Shanin dan juga Tari.
"Iya, tapi gue pengen tau lo berdua ngobrolin apa aja. Gitu loh." ujar Shanin lagi.
"Cie kepo." ujar Putri menggoda Shanin.
"Ih Putri, kan gue penasaran."
__ADS_1
Putri tertawa dan akhirnya ia pun bercerita.