Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Malam Sunyi


__ADS_3

Malam itu hujan turun dengan derasnya. Ghea dan Miska sudah pulang ke rumah masing-masing dan tinggal hanya Putri sendiri di kamar rumah sakit.


Kembali gadis itu menyesali diri. Kenapa ia lupa meminta nomor handphone Adnan.


Ia jadi tak bisa menghubungi pria itu. Padahal ia sangat rindu sekali. Ingin ditemani ngobrol dan dihilangkan kesepiannya.


"Ah, lemot banget sih gue."


Putri menggerutu pada dirinya sendiri.


"Tinggal minta doang, lupa mulu." ujarnya lagi.


"Hhhh."


Ia lalu mengambil nafas panjang dan membuka YouTube. Ia mengalihkan pikirannya tentang Adnan dengan menonton tayangan disana.


Sementara dirumah, Adnan baru saja membuat sang istri tidur di dalam pelukannya. Dira kembali muntah-muntah sore ini, bahkan tak bisa makan sedikitpun.


Tapi ia masih tertawa-tawa, karena merasa ini semua adalah bagian dari proses yang harus ia jalani. Sementara Adnan berada di level ketakutan tertinggi.


Ia benar-benar khawatir pada kondisi istrinya itu. Ia tak ingin Dira sampai terlalu jauh mengorbankan dirinya untuk ini.


"Hmmh, mas."


Dira bergumam, meski matanya masih terpejam. Agaknya ia masih merasa sangat tidak nyaman.

__ADS_1


"Kamu mau apa sayang?. Mau aku melakukan apa untuk kamu?. Hmm?"


Dira tak menjawab, karena detik berikutnya ia benar-benar tertidur lelap.


Adnan lalu mencium kening istrinya itu dan memeluknya dengan erat. Tak lama kemudian ia pun ikut tertidur.


***


"Aaaaaakh."


"Aaaaaakh."


"Putri."


Adnan terbangun kaget dari tidurnya yang lelap, karena seperti mendengar suara putri.


Jam baru menunjukkan pukul tiga dini hari, dimana semua orang pun masih berada dalam mimpi.


Adnan beranjak, dan beralih ke dapur untuk mendapatkan air putih. Ia mengambil handphone dan hendak menghubungi serta memastikan keadaan Putri.


Namun ia ingat belum menyimpan nomor gadis tersebut. Maka ia pun hak bisa melakukan apa-apa.


Adnan benar-benar khawatir pada kondisi Putri. Pasca tadi ia bermimpi tentang gadis itu.


Tetapi sekali lagi ada perawat dan dokter jaga di masing-masing bangsal. Ia bisa meyakinkan dirinya sendiri, jika saat ini Putri dalam keadaan yang aman.

__ADS_1


***


"Pagi sayang."


Dira membangunkan Adnan yang tertidur lelap. Ia pun kaget dan membuka matanya.


"Maaf ya aku bangunin. Soalnya kamu bilang sama aku semalam, kalau kamu mesti datang ke kantor pagi-pagi." ujar Dira.


"Iya, nggak apa-apa sayang."


Adnan lalu bangun, kemudian diam sejenak di tempat tidur. Dira mendekat lalu mencium suaminya itu. Adnan lalu seperti mendapatkan kembali semangat paginya.


"Kamu gimana pagi ini?" tanya nya pada Dira.


"Baik, mas." jawab Dira.


Ia menjawab dengan jujur karena pagi ini ia memang baik-baik saja.


Ia lalu memeluk Dira barang sejenak, kemudian pergi mandi. Usai mandi mereka bertemu di meja makan. Dira membuatkan sandwich dan kopi susu untuk suaminya itu.


"Kamu rencana hari ini mau ngapain?" tanya Adnan pada Dira.


"Nggak ada rencana apa-apa sih mas. Ngurus kerjaan paling, sama belanja sayuran dan buah. Udah pada abis semua soalnya." jawab wanita itu.


"Oh ya udah kalau gitu. Kalau ada apa-apa jangan lupa kasih tau aku ya." ucap Adnan.

__ADS_1


"Iya mas, pasti koq." jawab Dira Sabil tersenyum.


__ADS_2