Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Satu Per Satu


__ADS_3

Adnan, Shanin, dan Tari tiba di waktu yang nyaris bersamaan. Ketiganya diberitahu oleh dokter Matt. Sebab dokter Matt memiliki kontak Shanin, lalu Shanin memberitahu Tari dan juga Adnan.


Shanin juga tak lupa mengabarkan pada Aaron mengenai apa yang menimpa Putri. Tapi Aaron saat ini masih berada di jalan, karena terjebak macet.


"Dok, gimana keadaan Putri?" tanya Adnan panik.


"Bayinya nggak apa-apa kan dok?" Tari menimpali.


"Bayinya baik-baik saja, tapi mbak Putri dalam keadaan yang sangat tertekan. Saya tidak tau ada kejadian apa yang menimpa mbak Putri. Yang jelas saat ini dia sangat perlu suasana yang tenang dan nyaman."


"Boleh kami lihat dok?" tanya Adnan.


"Silahkan, ruangannya yang itu."


Dokter Matt menunjuk ke sebuah ruangan. Adnan dan yang lainnya pun bergegas menuju ruangan tersebut.


"Putri."


Adnan mendekat dengan wajah yang begitu cemas. Putri menatap pria itu, lalu menatap kedua sahabatnya secara bergantian..


"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Adnan.


"Put, kita khawatir banget." ujar Shanin.


"Lo kenapa bisa begini, Put?" Tari langsung to the point.


"Keluarga gue." ujar Putri dengan suara lirih. Sebab ia masih begitu lemas kali ini.


"Kenapa Put, mereka tau kondisi lo?" Shanin langsung menebak. Putri mengangguk.


"Bahkan lebih parah dari itu. Mereka itu rata-rata awam dan pas gue ceritain kejadian sebenarnya, gue malah dikira mengarang cerita. Mereka pikir gue jadi selingkuhan pak Adnan sampai hamil."


"Terus mereka apain kamu?" tanya Adnan kemudian.


"Saya nggak di apa-apain pak. Tapi emang saya kepikiran aja, karena suasananya tuh nggak enak banget tadi. Ya dibentak, ya di tuduh. Kalau nyakitin fisik sih nggak. Tapi saya kepikiran soal omongan mereka, makanya saya sampe ada disini."


Adnan menarik nafas panjang. Shanin dan Tari kini saling bersitatap satu sama lain.


"Saya akan bicara dengan mereka. Kasih tau alamat atau kontak salah satu dari mereka."

__ADS_1


"Udalah pak, nggak usah." jawab Putri.


"Nggak bisa gitu, Put. Keluarga kamu harus dikasih pengertian. Karena ini akan berdampak sangat besar terhadap diri kamu."


"Bener, Put. Keluarga lo harus tau cerita yang sebenarnya. Biar nama lo juga nggak jelek. Lo mungkin sekarang belum ngerasain. Tapi ntar kalau kandungan lo makin gede, mereka ngomongin lo, lo ada dengar omongan itu. Lo pasti akan tersiksa banget." ujar Shanin.


"Bener Put, dampaknya akan ke mental lo dan anak lo." timpal Tari.


Putri diam, pandangan matanya sedikit menunduk.


"Kasih tau saya, Put. Biar saya yang menghadapi."


"Tapi bapak hati-hati ya, takutnya mereka keburu emosi dan salah bertindak."


"Kamu tenang aja, saya akan menyelesaikan masalah ini dengan baik."


Putri kembali diam.


"Put, percaya sama saya." ujar Adnan kemudian.


Putri lalu memberitahu Adnan kontak salah satu keluarganya dan memberitahu dimana orang itu tinggal.


Saat Adnan datang, ternyata tak hanya tante Putri saja yang ada di sana. Saudara tantenya yang lain, termasuk yang laki-laki pun turut hadir.


Sempat terjadi ketegangan, lantaran salah satu dari paman atau om Putri tersebut menyerang Adnan secara tiba-tiba, kemudian memukulnya. Adnan sejatinya bisa saja membalas, sebab ia punya kemampuan beladiri yang cukup mumpuni. Namun berhubung ia datang ingin meredam suasana, maka ia pun tak melakukan perlawanan.


Kedua belah pihak dipisah, pihak pengacara Adnan kemudian menceritakan duduk perkara yang sebenarnya. Penjelasan bahkan lengkap menggunakan panduan artikel dan informasi dari google.


Ada istilah-istilah seperti inseminasi buatan dan lain-lain, yang mesti dijelaskan secara rinci dan perlahan kepada mereka semua. Setelah melalui penjelasan panjang, akhirnya keluarga Putri pun mengerti.


"Tapi kamu tetap harus menikahi Putri. Walaupun itu terjadi bukan karena kalian melakukan hubungan, tetap anak itu adalah anak kamu." Salah satu om Putri berkata pada Adnan.


"Iya pak, saya akan segera menikahi Putri."


"Harus resmi, jangan siri." Tante Putri menimpali.


"Karena kalau Siri, nanti hak-hak Putri dan anaknya tidak bisa terpenuhi." lanjut perempuan itu.


Adnan kemudian menghela nafas.

__ADS_1


"Iya tante, saya akan urus perizinan dulu. Supaya bisa menikahi Putri secara resmi. Terutama izin dari istri saya." jawab pria itu.


"Tapi apakah bisa di usahakan?. Maksudnya apa istrimu tau hal ini?" tanya om Putri lagi.


"Tau pak, justru kejadian ini melibatkan istri saya juga. Saya sudah bicara sama dia dan kami sepakat, untuk menjalani pernikahan ini. Putri sendiri sudah mau menerima. Paling tidak sampai anak itu lahir." Adnan menjelaskan.


"Ok, baik. Kami tunggu segera lamaran dari kamu untuk Putri. Jangan terlalu lama, nanti keburu hamilnya kelihatan. Keluarga kami bisa malu." ujar om Putri lagi.


"Baik, segera saya akan urus semuanya dan melamar Putri."


"Baik kami tunggu." ucap salah satu tante Putri.


Akhirnya masalah dengan keluarga Putri pun selesai. Tinggal kini Adnan mengurus soal berkas dan lain-lain.


***


Sebelum Adnan pergi ke rumah keluarga Putri. Ia tengah menyuapi perempuan itu makan. Shanin dan Tari juga ada di ruangan tersebut. Dan tiba-tiba saja Aaron datang.


Saat itu Aaron panik, sebab ia ingin mengetahui kondisi Putri secara langsung. Dan ketika ia masuk ke ruangan Putri, ia melihat adegan tersebut. Sontak saja darah Aaron serasa mendidih, emosi pria itu naik ke ubun-ubun.


Namun ia berusaha meredam semua itu dengan berusaha bersikap sebijak mungkin. Adnan yang saat itu menyuapi Putri, langsung mempersilahkan Aaron untuk duduk di samping Putri.


Meski tak dapat dipungkiri ia memiliki rasa cemburu terhadap Aaron. Adnan sendiri lalu meninggalkan ruangan bersama Shanin dan juga Tari. Sementara Aaron kini mengurus Putri.


"Sha, koq pak Adnan kayak cemburu gitu ya sama Aaron?"


Tari bertanya pada Shanin ketika mereka telah berada di luar. Kini mereka duduk di kantin rumah sakit.


"Iya, gue juga ngeliatnya gitu. Gesturnya kayak beda aja. Gue rasa si pak Adnan ada rasa deh sama Putri." ujar Shanin.


"Tapi mungkin aja itu rasa simpati doang, sebab saat ini Putri lagi hamil anaknya. Jadi perasaan itu adalah perasaan sayang ke anaknya yang di dalam." lanjut Shanin lagi.


"Iya mudah-mudahan aja." ujar Tari.


"Soalnya bahaya kalau sampe pak Adnan punya rasa sama Putri. Apalagi kalau si Putri ngebalas rasa itu. Mana bentar lagi mereka mau nikah. Bisa-bisa mereka nyakitin mbak Anita." lanjutnya lagi.


"Iya, semoga aja nggak gitu." timpal Shanin kemudian.


***

__ADS_1


__ADS_2