
Adnan bertemu Ghea di depan rumah sakit. Mereka saling mendekat dan menyapa satu sama lain.
Kemudian Adnan meminta screenshot, bukti order Ghea terhadap taksi online yang nyaris saja melecehkan Putri.
Ghea lalu memberikannya pada pria itu. Adnan berterima kasih dan mengatakan pada Ghea, jika ia harus segera mencari pengacara untuk Putri.
Ghea bilang pengacara itu sudah disediakan oleh ayahnya. Adnan meminta bertemu, lalu Ghea memberikan kontak dari pengacara tersebut.
Adnan mengungkapkan jika si pelaku mengatakan bahwa Putri adalah perempuan yang memang menjual diri secara online.
Tentu Ghea geram mendengar hal itu. Sebab dirinyalah yang mengorder taksi online tersebut dan ia sudah memberikan kesaksian.
"Pak Adnan harus temui pengacara itu segera pak. Panas hati saya dengar Putri dibilang begitu."
Ghea berujar seraya menahan rasa kesal.
"Iya, segera saya temui siang ini." ujar Adnan.
Tak lama mereka pun berpisah di tempat tersebut. Adnan menitipkan Putri pada Ghea dan Ghea kini menemui sahabatnya itu.
***
Putri membaca pesan ibunya dan ia sangat-sangat kecewa untuk itu. Ia benar-benar sedih dan ingin rasanya menagis saat itu juga.
Sang ibu memang mungkin tidak mengetahui kondisi Putri saat ini. Tetapi paling tidak ia bisa untuk tidak selalu meminta uang.
__ADS_1
"Put."
Ghea masuk ke ruangan tempat dimana Putri di rawat, dan melihat Putri yang tengah bengong.
"Put."
Ghea membuyarkan lamunan Putri.
"Eh, oh. Kapan lo sampai." ucap Putri dengan nada seperti orang yang gelagapan.
"Kenapa lo?. Koq kayak sedih gitu?" tanya Ghea seraya kini duduk di sisi tempat tidur.
"Gue, nggak apa-apa koq."
"Kenapa?. Cerita sama gue!" Pinta Ghea.
"Lo berantem sama mas Adnan?" tanya nya lagi.
"Nggak." jawab Putri.
"Terus?"
"Nyokap gue."
"Kenapa nyokap lo?" tanya Ghea heran.
__ADS_1
Putri lalu menunjukan pesan dari ibunya. Ghea menggeleng-gelengkan kepala.
"Untung lo orangnya sabar banget ya, Put. Kalau gue, udah gue maki-maki tuh emak gue semisal begitu ke gue. Bisa keluar kebun binatang dari mulut gue."
Ghea berkata dengan nada geram.
"Gue nggak ngerti sama jalan pikiran nyokap gue, Ghe. Dia pikir gue tuh enak kali ya hidup di kota besar."
Ghea menghela nafas kali ini.
"Sekali-kali nyokap lo harus dikasih pengertian, Put. Lo harus keluarkan uneg-uneg dan isi hati lo. Biarin aja dia ngambek nggak karuan." ujar gadis itu.
"Biar ngerti, jangan makin tua malah makin seenaknya jadi orang. Menggunakan status sebagai orang tua untuk memeras anak." lanjutnya kemudian.
Putri hanya diam, dalam hati sejatinya ia ingin sekali tegas kepada ibunya. Tetapi sekali lagi ia tidak tega.
Dan lagi pula saking populernya istilah "Durhaka" di negri ini. Kadang banyak ibu-ibu tak tau cara menempatkan kegunaannya.
Anak baru saja hendak mengungkapkan isi hatinya, dibilang durhaka. Anak berpendapat sedikit, disebut durhaka.
Apalagi anak yang memprotes sesuatu. Sudah tentu akan langsung di cap sebagai anak yang double durhaka neraka jahanam.
Padahal kadang yang jahanam adalah ibu itu sendiri. Saking ingin menang, malah sembarangan melabeli anaknya dengan kata durhaka.
Akibatnya hidup si anak penuh kesialan, karena selalu di sumpahi dengan harapan-harapan yang buruk. Hidup si anak sesuai dengan sumpah serapah ibunya yang sembarangan.
__ADS_1