Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Adnan


__ADS_3

Dokter Matt membalas pelukan Putri. Bukan bermaksud apa-apa, ia hanya memahami kondisi perempuan itu dan mencoba menenangkannya.


"Kenapa saya yang harus menanggung semua ini, dok. Kenapa alam kayak nggak adil sama saya. Kenapa masalah saya sedemikian rumit?"


Putri masih menangis dalam pelukan dokter Matt. Sementara dokter tampan itu terus berusaha menenangkannya.


"Yang sabar mbak Putri, nggak ada satupun masalah yang di turunkan ke kita. Melainkan karena kita bisa menghadapinya." jawab dokter Matt.


"Iya tapi masalahnya nggak harus hamil juga, dok. Apa kek gitu, masalah lain kan ada. Kenapa harus dipilihkan yang ini coba?"


Putri melepaskan pelukan, dan dokter Matt memberikannya tissue yang kebetulan ada di dashboard. Putri lalu menyeka air matanya dengan helai tipis tersebut. Dokter Matt menghela nafas seraya menatap Putri.


"Mbak Putri nggak sendirian, ada pengacara, ada teman-teman mbak Putri, ada saya. Pak Adnan nya sendiri juga saya lihat sering kan datang ke mbak Putri?"


Putri mengangguk.


"Itu artinya dia juga bertanggung jawab dalam hal ini. Meskipun ini bukan salahnya dia. Dia tetap mau memperhatikan kondisi mbak Putri, selama mbak menunggu proses penyelesaian."


"Saya ngerti soal itu, dok. Yang saya nggak ngerti adalah pihak manajemen rumah sakit. Kenapa tadi mereka seolah-olah memojokkan saya."


Lagi-lagi dokter Matt menghela nafas. Sudah barang tentu pihak rumah sakit akan mencari berbagai cara untuk bisa meredam kasus ini. Sebab ini ada hubungannya dengan reputasi rumah sakit itu sendiri. Mereka pasti akan mati-matian membuat nama rumah sakit itu tetap bagus.


Sebab tak akan ada lagi pasien yang percaya, jika kasus ini sampai mencuat ke permukaan. Atau bahkan sampai masuk ke dalam berita. Mereka belum tau jika sudah ada beberapa media yang memberitakan. Sebab tempo hari sempat heboh sebentar dan pihak Aline sudah menarik beritanya.


Hebohnya pun hanya sebatas trending Twitter selama beberapa saat saja. Sisanya benar-benar masih banyak yang belum tahu.


"Mbak Putri sabar aja, saya akan coba mencari cara untuk bisa membicarakan ini pada pihak manajemen rumah sakit. Saya akan coba meminta bantuan dokter lain, supaya bisa mendesak pihak manajemen."


Putri menyudahi tangisnya dan bersandar pada jok mobil. Tiba-tiba perutnya berbunyi.


"Saya laper, dok." ujarnya kemudian.


"Ayo kita cari makan." ujar dokter Matt.


Putri mengangguk, dokter Matt kembali menghidupkan mesin mobil dan membawa Putri untuk mencari tempat makan.


Dokter Matt memilih sebuah tempat makan yang cukup sering ia datangi. Sesampainya disana, ia dan putri langsung memesan makanan.


Dokter Matt memesan satu porsi, sedang Putri memesan dua. Dokter Matt tertawa ketika melihat Putri makan dengan begitu lahap. Seperti orang yang tidak makan selama dua hari.


"Dokter kenapa ketawa ngeliatin saya?"

__ADS_1


Putri sewot dan berujar dengan mulut yang penuh makanan. Lagi-lagi dokter Matt tertawa, memperlihatkan barisan giginya yang rapih dan bersih.


"Tuh kan ih, nyebelin." Putri makin sewot.


"Ini tuh karena bayi ini, dok. Saya makan jadi buas."


"Iya mbak, saya ngerti. Kan saya dokter kandungan." ujar dokter Matt masih dengan tawanya yang super manis itu.


Membuat beberapa perempuan di sekitar merasa iri dan berharap dokter Matt duduk di meja mereka. Mereka mengira dokter Matt adalah pacar Putri. Padahal hanyalah dokter yang terjebak oleh pasiennya sendiri.


***


"Putri sudah keluar dari sini?"


Adnan bertanya pada pihak rumah sakit, sebab Putri sendiri tak ada memberitahu dirinya. Jika sudah diperbolehkan pulang hari itu.


"Iya tadi sekitar jam 2." ujar salah seorang dokter yang menangani Putri.


"Baik dok, makasih ya dok." ujar Adnan kemudian.


Dokter tersebut berlalu, entah mengapa Adnan mendadak merasa hampa. Ia kecewa kenapa Putri tidak melibatkan dirinya. Paling tidak ia bisa membantu Putri dan mengantarnya sampai ke rumah.


"Hallo, pak Adnan." Putri menjawab panggilan pria itu.


"Mbak, mbak Putri sudah pulang?" tanya Adnan, padahal ia sudah tahu barusan.


"E, iya pak. Tapi saya belum sampai rumah sekarang." jawab Putri


"Terus dimana?" tanya Adnan lagi.


Putri menyebutkan tempat dimana kini ia berada, dan dengan siapa dia disana.


"Ok." jawab Adnan.


Pria itu kemudian berpamitan dan menutup telpon. Sementara Putri melanjutkan makan dan curhat bersama dokter Matt.


Selang beberapa saat berlalu, tiba-tiba Putri dikejutkan oleh kedatangan Adnan. Dokter Matt juga agak terkejut melihat semua itu. Tadinya Putri pikir, Adnan hanya mempertanyakan dimana keberadaan dirinya dan tak berniat menyusul. Namun tiba-tiba ia muncul.


"Pak Adnan?"


Putri berkata ketika pria itu sudah berada begitu dekat dengannya.

__ADS_1


"Pak."


Dokter Matt berdiri sejenak dan menjabat tangan Adnan. Tak lama Adnan pun dipersilahkan duduk diantara mereka. Seorang pelayan mendekat dan Adnan memesan segelas kopi hangat.


Tak ada obrolan yang serius di meja itu. Adnan hanya mempertanyakan perihal kondisi kesehatan Putri dan kandungannya pada dokter Matt maupun Putri sendiri.


Saat mereka memutuskan untuk pulang, Adnan mengajak Putri bersamanya. Sedang ia memberikan kunci mobil pada dokter Matt.


"Bawa aja ke rumah sakit, dok. Parkir disana dan titip kuncinya di bagian informasi, kalau dokter mau pulang. Nanti saya ambil di sana." ujar Adnan.


"Ok." jawab dokter Matt.


Lalu mereka mulai meninggalkan tempat itu.


***


"Kenapa kamu nggak bilang ke saya, kalau hari ini pulang?"


Adnan mempertanyakan sikap Putri hari ini.


"Ya karena saya nggak enak ngerepotin bapak terus, dan lagi tadi pihak rumah sakit memanggil saya untuk meminta damai."


"Lah, terus gimana?. Koq saya nggak ikut di panggil juga?" tanya Adnan heran.


"Itu dia masalahnya pak, saya dan pengacara saya datang. Itu kita kayak di pojok kan sama mereka."


"Di pojok kan?" Adnan mengerutkan kening, ia tak mengerti dengan apa yang Putri katakan barusan.


"Iya pak, jadi mereka meminta saya untuk mencabut laporan ke kantor polisi dan mereka meminta berdamai. Mereka bersedia mengganti rugi, tapi itu kayak memojokkan saya. Kan pada saat kejadian dengan dokter Fadly itu, saya memang sempat ada kesalahan."


"Oh yang mbak Putri main handphone, saat sedang sesi tanya jawab dengan dokter Fadly?"


"Iya soal itu. Nah mereka mengungkit-ungkit hal tersebut tadi di depan saya dan pengacara saya. Mereka mengatakan bahwa semuanya terjadi juga akibat salah saya. Saya marah dong, pak. Mereka kesannya kayak mau meyelamatkan diri sendiri. Mereka nggak mikirin saya."


Adnan yang mendengar hal tersebut mendadak kesal.


"Terus, ujungnya gimana?" tanya Adnan kemudian.


"Ya belum ada penyelesaian, saya marah dan saya tinggalin itu ruangan. Kesel saya pak." jawab Putri.


Adnan menghela nafas panjang, ia terus mengemudikan mobil sambil berfikir. Ke depannya akan bagaimana dengan pihak rumah sakit tersebut.

__ADS_1


__ADS_2