
"Put, tiga hari loh ini nunggu transferan dari kamu. Kenapa belum di transfer juga. Nyuruh orang tua nunggu lama itu, dosa tau nggak kamu. Mentang-mentang punya duit banyak jadi seenaknya aja."
Ibu Putri marah-marah pada sang anak, ketika Putri sedang sibuk-sibuknya bekerja. Ia harus restok barang dan mengumpulkan barang yang sudah expired.
Belum lagi pengunjung minimarket yang entah mengapa hari ini begitu ramai. Ia memang belum mentransfer uang kepada ibunya tersebut dan rencananya sore ini. Sekalian ia akan membeli keperluan untuk kosan.
Tetapi si ibu sudah keburu marah bahkan mengatai Putri sebagai anak durhaka. Seakan kata-kata durhaka menjadi kata pamungkas para orang tua, untuk menekan anak mereka di segala bidang.
Putri tak membalas meski ibunya terus-menerus mengirim pesan. Ia malah mematikan handphone tersebut dan lanjut bekerja.
Sore harinya ia baru mentransfer sejumlah uang dan mengabarkan pada ibunya itu melalui WhatsApp. Seketika ibunya langsung sumringah. Mengingat nominal yang dikirim Putri tidaklah sedikit.
"Semoga lebih banyak lagi artis yang kasih kamu duit ya, Put. Biar kita cepat kaya."
Sang ibu mengirim pesan singkat seperti itu kepada Putri. Sementara Putri tak menjawab, sebab hatinya benar-benar luka dan sedih. Ia merasa hanya dianggap seperti mesin pencari uang semata oleh sang ibu.
__ADS_1
Sejatinya tak mengapa bila ia harus memenuhi kebutuhan orang tuanya itu. Yang penting dirinya disayangi dan diperhatikan, bukan sekedar dipaksa mencari uang. Ia juga butuh dicintai dan dikhawatirkan.
Tapi semua itu sulit ia dapatkan. Mengingat sang ibu hanya fokus pada uang dan uang semata.
Putri naik bus umum, dan berjalan-jalan tak tentu arah. Ia tak punya pacar yang bisa mengajaknya kesana-kemari untuk menghilangkan penat.
Terakhir mantannya selingkuh dengan teman Putri sendiri. Yang selama ini Putri anggap seperti saudara dan sangat Putri sayangi.
Putri kemudian merantau untuk mencari pekerjaan, dan ditempat ini ia belum mendapatkan teman dekat laki-laki satupun.
Adnan membuka handphone satunya yang sudah beberapa hari ini tak ia cek. Ia kaget karena cukup banyak pesan yang masuk di WhatsApp.
Dan yang lebih membuatnya terkejut lagi adalah, adanya pesan dari nomor tak dikenal di handphone itu. Ia membuka pesan tersebut dan ternyata dari Putri.
Baru saja Adnan hendak membalas pesan tersebut. Secara tiba-tiba ia melihat putri yang tiba-tiba turun dari dalam kendaraan umum, lalu berjalan gontai ke sebuah arah.
__ADS_1
Adnan memarkir mobil dan mengikuti langkah kasir minimarket tersebut.
Putri sendiri masih kepikiran masalah ibunya tadi. Ia masih sakit hati hanya di chat untuk dimarahi soal uang. Tanpa ibunya bertanya apakah putri sehat atau tidak.
Kesedihan yang dirasakan putri kali ini tak main-main. Air mata rasanya sudah tak terbendung lagi.
Namun ia malu untuk menangis. Mengingat ia sudah dewasa dan ini merupakan tempat umum.
Lagipula orang jaman sekarang tak akan mendahulukan kepedulian. Ketika ada seseorang menangis di jalan, mereka tak akan menghampiri dan bertanya.
Melainkan mereka akan mengambil handphone, lalu merekam untuk kemudian di upload ke tiktok dengan caption yang dibuat seenaknya. Semua demi FYP dan viewers, demi like dan juga komentar.
Orang sudah menjadi sedemikian miskin kepekaan karena sosial media. Everything ia content and every content ia cuan. Every cuan is a power.
Begitulah prinsip para manusia modern dewasa ini. Dan semua hampir merata di setiap daerah.
__ADS_1