
Keesokan harinya ketika bangun di pagi hari, sayup-sayup Darren mendengar suara ayah dan ibunya dari ruang makan.
Remaja itu pun beranjak dari tempat tidur, menuju ke arah sumber suara tersebut dengan penuh semangat. Tampak ibu dan ayahnya tengah sarapan pagi sambil menelepon, entah menelpon siapa.
"Oke pak, saya segera kesana pagi ini."
"Ma."
Darren menyapa ibunya yang tampak sibuk berbicara di telpon.
"Iya sayang."
Ibunya menyudahi percakapan di telpon dan mencoba berinteraksi dengan Darren.
"Darren juara umum lagi."
Belum sempat menjawab, tiba-tiba handphone sang ibu kembali berdering dan ibunya kembali mengangkat telpon tersebut.
"Iya pak, sebentar lagi saya jalan kesana."
Ibunya bergegas menyelesaikan makan, lalu mengambil tas tangan yang berada di dekat Darren.
"Ma."
"Sayang, mama udah tau kalau kamu juara umum dan mama udah nggak kaget lagi koq. Kamu dari kecil emang pinter kan, mama pergi dulu ya."
"Muach."
Ibu Darren mencium kening puteranya, lalu berpamitan.
"Bye sayang, bye papa."
Ayahnya hanya melambaikan tangan, sang ibu meninggalkan Darren begitu saja. Pemuda itu kini terduduk lesu, pada saat yang bersamaan ayahnya selesai menelpon. Ia lalu memperhatikan wajah Darren yang murung dan tak bergairah.
"Koq kamu nggak makan, Darren?" tanya ayahnya heran.
"Kalian kayak gini aja terus, sampai kalian lupa kalau punya anak."
Suara Darren terdengar penuh kemarahan, namun nadanya rendah seolah tertahan. Ada rasa sesak yang memaksa air matanya merebak di pelupuk mata.
Namun karena merasa ia adalah seorang laki-laki, maka ia menahannya agar tidak menangis.
Padahal hatinya begitu sakit. Ayahnya pun menghela nafas dalam-dalam, ia lalu memegang bahu remaja yang belum genap berusia 15 tahun tersebut dengan lembut.
__ADS_1
"Perusahaan papa dan perusahaan mama, memiliki ratusan karyawan. Kalau kami tidak bekerja dengan baik, lalu perusahaan kami bangkrut. Berapa banyak pegawai dan buruh pabrik yang akan gagal memberi makan keluarga mereka?. Berapa banyak orang yang akan kehilangan sumber mata pencarian?"
"Tapi Darren ini anak kalian, pa. Darren butuh kalian juga."
"Kapan kami pernah meninggalkan kamu?. Kami selalu ada buat kamu, Darren."
"Ada, tapi rasa nggak ada. Kalian pikir Darren cukup dengan melihat kalian aja tanpa berinteraksi, tanpa bicara. Tanpa perhatian dan sebagainya, iya?"
Lagi-lagi ayahnya menarik nafas panjang, lalu menatap Darren lekat-lekat.
"Darren, Kalau perusahaan kami bangkrut. Bukan hanya karyawan dan buruh pabrik yang bakal menjadi korban, kamu juga. Kamu pikir sekolah kamu nggak dibayar pake uang?. Makan kamu nggak dibeli pake uang?. Semua fasilitas yang kamu pakai sekarang ini nggak dibeli dan dibayar pakai uang?"
"Darren nggak butuh uang, pa."
"Papa tau, tapi sekolah kamu yang butuh uang. Pihak asuransi kesehatan kamu yang butuh uang, pedagang yang makanannya kamu beli yang butuh uang. Atau kamu mau bilang, nggak apa-apa kita miskin dan tinggal di kolong jembatan. Asal kita sama sama terus setiap hari, berinteraksi terus setiap hari. Begitu?"
Darren tak menjawab, seluruh jawabannya seolah terkunci oleh semua ucapan ayahnya. Logikanya berkata jika semua ucapan ayahnya tersebut memang benar, namun hatinya sangat ingin memberontak. Ia ingin marah semarah-marahnya.
"Cobalah untuk lebih realistis Darren, usia kamu sudah hampir 15 tahun. Hidup tidak semudah yang kamu pikirkan, apa yang papa dan mama lakukan siang dan malam semata-mata untuk kamu. Supaya kamu tidak kekurangan, masih banyak anak lain di luar sana yang bermimpi hidup seperti kamu. berharap memiliki privilege, agar dimudahkan dalam segala urusan.. Harusnya kamu bersyukur, tidak terlahir dalam keluarga yang serba kekurangan."
Darren makin diam. Ayahnya lalu mengambil handphone dan kunci mobil yang terletak di atas meja.
"Papa pergi dulu." ujarnya kemudian.
Ia melangkah dengan emosi yang siap
meledak. Tangannya terkepal, sementara nafasnya memburu serta giginya gemertak. Tak lama kemudian, ia pun pergi keluar. Mendahului langkah sang ayah lalu masuk ke dalam mobil.
"Darren, kamu mau kemana?" tanya sang ayah heran.
Namun pemuda itu tak menjawab sepatah kata pun. Ia lalu menghidupkan mesin mobil dan tancap gas, meninggalkan halaman rumah tersebut. Darren menginjak pedal gas dengan penuh kebencian.
Mobilnya melaju kencang menerobos beberapa lampu merah. Ia tak peduli dengan bahaya apa yang akan ia dihadapi jika terus seperti ini. Ia hanya ingin melampiaskan seluruh kekesalannya dan berharap bahwa ia akan merasa lebih baik setelah ini.
Ia terus melaju kencang, hingga di suatu jalan tanpa sadar muncul sebuah mobil dari arah yang berlawanan. Mobil tersebut pun juga tampak melaju kencang dan seperti kehilangan kendali.
Darren yang terkejut melihat kemunculan mobil tersebut, langsung menginjak rem. Begitupun dengan si pengemudi mobil tersebut.
Sadar bahwa mobilnya akan segera bertabrakan dengan mobil Darren, ia pun langsung menginjak rem. Hingga mobil keduanya sama-sama berhenti, hanya dengan jarak kurang dari setengah meter.
"Woi, goblok lo." teriak Darren penuh emosi, sambil menongolkan kepalanya dari kaca mobil.
Darren lalu keluar dari dalam mobilnya, begitupun dengan si pemilik mobil tersebut.
__ADS_1
Mereka sudah siap saling menyerang dan beradu argumen. Namun emosi keduanya mendadak berhenti, ketika mereka berdua saling menatap satu sama lain.
"Darren?"
"Kak Mikha?"
Keduanya sama-sama tidak menyangka. Darren dan Mikhaela tak begitu menyadari jenis mobil dan plat yang digunakan oleh masing-masing dari mereka.
Padahal di hari-hari biasanya acap kali mereka bertemu dan saling memperhatikan kendaraan satu sama lain.
"Aduh maaf ya, mobil kamu nggak kenapa-kenapa kan?"
Mikhaela tampak khawatir dan melihat ke arah mobil Darren.
"Mm, nggak kak. Cuma nyaris aja."
Keduanya tampak kikuk dan salah tingkah.
"Mm, kakak pinggiran dulu deh mobilnya."
"I, iya kak. Darren juga."
Mereka kembali ke mobil masing-masing lalu memarkirnya di pinggir jalan. Karena akan mengganggu pengguna jalan lain, jika masih berada ditempat yang tadi.
Sesaat kemudian keduanya sama-sama keluar lalu duduk di kursi taman, yang berada di pinggir jalan tersebut.
"Maafin Darren ya kak, Darren nyetirnya nggak hati-hati. Darren kepikiran masalah dirumah."
"Iya, kakak juga minta maaf ya. Tadi juga lagi ada masalah dirumah, makanya kakak nyetir nya nggak fokus."
"Iya kak."
Darren menatap wajah Mikha, tampak kedua mata gadis itu sembab seperti habis menangis.
"Mm, kakak abis nangis ya?" tanya Darren dengan nada yang terkesan ragu-ragu.
Ia takut pertanyaannya malah membuat Mikha merasa tidak nyaman. Mikha pun tersenyum tipis lalu menunduk, perlahan senyumannya berubah menjadi sebuah tangisan yang tumpah tak tertahankan.
"Mama sama papa kakak, tau sendiri kan?. Tiap hari mereka berantem, mereka nggak pernah menganggap kakak ini ada dirumah. Yang mereka ributkan setiap saat selalu sama, perihal karir mama yang lebih tinggi ketimbang papa. Papa merasa disudutkan, sementara mama maunya mendominasi. Padahal kakak mau bilang kalau kemarin kakak dapat juara umum, nggak taunya pagi-pagi tadi udah berantem. Kamu mungkin udah bosen denger cerita kayak gini. Selama kita kenal, hampir setiap hari kakak selalu menceritakan hal yang sama soal keadaan di rumah."
Darren menyentuh bahu Mikha dan mengusapnya dengan lembut. Ia lalu memberikan sapu tangan dari dalam sakunya kepada Mikha. Mikha pun menyeka air matanya sambil sesenggukan.
***
__ADS_1