
"Serius Put, dia sampai ketiduran di dekat elo?"
Shanin bertanya pada Putri, usai Putri menceritakan bagaimana Adnan semalam menjaganya.
Namun Putri tidak sampai bercerita mengenai mimpinya yang erotis dengan pria itu. Ia masih malu untuk mengatakan hal tersebut pada Shanin.
"Sayang dia suami orang ya, Put. Kalau bukan mah, gue dukung lo sama dia." seloroh Shanin.
"Lah, Aaron mau gue kemanain anjir?" tanya Putri sambil tertawa.
"Ya kasih ke siapa kek, ke gue atau Tari gitu."
"Hahaha. Jangan dong, kan gue masih sayang." jawab Putri.
Keduanya lalu sama-sama tertawa. Sementara jauh disana, persiapan Aaron untuk pulang sudah sekitar 70%. Tinggal ia membeli beberapa oleh-oleh untuk keluarganya dan juga Putri.
Aaron berharap kepulangannya kali ini dapat meringankan beban Putri. Syukur-syukur pemuda itu bisa membantunya menyelesaikan masalah yang ada.
***
"Nah ini rumah ibu."
Ibu Aaron berkata pada Adnan ketika mereka sudah sampai di muka pintu pagar. Keluarga Aaron termasuk keluarga yang cukup berada. Terlihat dari bangunan rumah dan juga kawasan tempat dimana rumah tersebut di bangun.
Adnan membunyikan klakson, seorang sekuriti membukakan pintu pagar. Adnan lalu memberhentikan mobilnya disana.
"Kamu nggak mau mampir dulu?" tanya ibu Aaron pada Adnan.
"Mungkin lain kali bu, soalnya saya juga harus kerja." jawab Adnan.
"Oh baiklah, terima kasih ya sudah mengantar ibu. Kapan-kapan mampirlah kesini, ajak istrimu." ujar ibu Aaron lagi.
"Iya bu, sama-sama. Nanti lain kali mungkin saya mampir." Adnan kembali menjawab sambil tersenyum.
Ibu Aaron kemudian keluar dari dalam mobil. Usai ia melambaikan tangan pada Adnan, Adnan pun berlalu meninggalkan tempat itu.
Adnan mengemudi dengan kecepatan yang cukup tinggi. Entah mengapa tiba-tiba ia teringat kembali, bagaimana Putri menyebutkan nama Aaron berulangkali. Saat ia masih berada di rumah sakit.
Tadi di jalan, ibu Aaron juga sempat membahas soal puteranya itu dan bagaimana hubungannya dengan Putri.
"Putri itu akan menikah dengan Aaron tahun depan. Mereka pasangan yang cocok dan saling mencintai satu sama lain."
Kata-kata ibu Aaron tersebut terus terngiang di benak Adnan. Seperti sebuah tayangan slide yang berulang. Dan itu menyebabkan kesakitan tersendiri di hati pria itu.
"Semoga masalah diantara kalian cepat selesai ya, supaya Putri dan Aaron juga bisa menjalani kehidupan mereka dengan baik.."
"Iya bu."
Hanya itu kata-kata yang keluar dari bibir Adnan saat itu. Ia bingung harus memberi tanggapan apa mengenai hal tersebut.
__ADS_1
Adnan tiba di rumah, dan langsung di sambut serta di peluk oleh Anita. Namun Anita merasakan aroma yang aneh dari tubuh sang suami.
Ya, seperti aroma obat rumah sakit. Seketika ia pun teringat pada peristiwa semalam, saat ia tengah video call dengan Rinda dan melihat sosok mirip Adnan melintas dalam tangkapan kamera handphone temannya itu.
Anita buru-buru menepis semua prasangka terhadap Adnan dan melayani Adnan layaknya istri yang suaminya baru pulang.
"Mas mau minum kopi atau teh?" tanya Anita kemudian.
"Mmm, teh aja sayang. Aku mau mandi dulu tapi."
"Ya udah." jawab Anita.
Perempuan itu lalu membuatkan teh untuk Adnan, sedang Adnan pergi mandi.
***
"Bayinya sehat ini."
Dokter yang merawat Putri memeriksa kondisi bayi yang tengah dikandung oleh perempuan itu. Entah mengapa hati Putri begitu damai mendengarnya.
Tidak seperti hari-hari yang lalu, ia merasa berat dan membenci bayinya sendiri. Kini Putri seperti lebih gampang tersentuh hatinya. Tiba-tiba ia merasa semakin bimbang, apakah ia harus membuang bayi itu atau tidak.
Jika kemarin-kemarin rasa bimbang yang ia miliki sebesar 30%, kini meningkat menjadi sekitar 60%. Putri jadi seolah menyayangi anak itu secara perlahan.
"Mbak Putri makan yang banyak ya, jangan stress. Biar bayi nya makin sehat. Kalau ibunya happy, bayinya pasti happy."
Dokter itu tidak tahu mengenai kasus Putri. Hanya dokter Matt yang mengetahui perkara tersebut.
"Ya sudah sekarang mbak Putri istirahat dulu."
"Iya dok, makasih ya dok."
"Sama-sama."
Dokter tersebut berlalu. Putri kini menatap perutnya sambil tersenyum.
"Kamu cowok apa cewek?" tanya nya kemudian.
"Kamu bahagia ya di dalam diri aku?"
Ia melanjutkan pertanyaan, dengan mata yang sedikit berair. Mendadak ia memiliki perasaan yang begitu haru saat berbicara pada jabang bayinya itu.
"Kamu mau bersama dengan aku?. Kamu nggak mau pergi dari aku?"
Lagi-lagi Putri bertanya. Kali ini kedua matanya benar-benar menjadi basah. Air mata perempuan itu mengalir, namun ia masih tersenyum.
Sepertinya sifat keibuan Putri mulai muncul dengan sendirinya. Mematahkan keegoisan yang ia miliki secara bertahap.
***
__ADS_1
"Mas."
Anita mendadak menghampiri Adnan dan membelai kepala suaminya itu. Secara tiba-tiba Adnan teringat pada belaian tangan Putri, ketika dirinya tengah tertidur di rumah sakit. Adnan menghela nafas, lalu memegang tangan Anita dan menciumnya.
"Sini, duduk sini sama aku."
Adnan menarik Anita kedalam pangkuannya. Ia berusaha keras untuk menyadari jika wanita yang terikat pernikahan dengannya itu adalah Anita, bukan Putri.
Ia menggenggam erat tangan Anita dan mencium pipi perempuan itu berkali-kali, dengan rasa bersalah yang terus tumbuh menjadi besar.
"Aku sayang kamu, Anita." bisiknya pada wanita itu dengan lembut.
"Mas tuh kenapa?"
Anita seolah menyadari keanehan dalam diri suaminya.
"Kalau ada masalah cerita sama aku." lanjutnya kemudian.
Adnan tak menjawab, ia hanya memeluk Anita dengan erat.
Anita pun tak banyak bicara lagi, Ia memejamkan mata dan membiarkan dirinya terbenam dalam pelukan sang suami.
***
Sementara di lain pihak.
Ibu Aaron merenung dan berdiam diri di balkon atas, pada malam hari yang cukup dingin. Aline yang baru pulang kerja menghampiri ibunya tersebut. Ia sejatinya biasa menghabiskan waktu di balkon ketika pulang kerja. Tetapi ia tidak biasa melihat ibunya berada disana.
"Mami tumben ada disini." ujar Aline seraya berdiri di sisi ibunya, yang tengah menghadap ke sekitar.
"Mami lagi suntuk, papimu masih di luar kota." jawab ibunya kemudian.
"Jalan aja mi, kalau suntuk. Belanja kek, minta dianterin pak Pardi."
Aline menyebut nama supir keluarga mereka.
"Males mami, sekarang kalau belanja juga udah bisa via online."
"Apa sama Aline aja, pas weekend?" tanya Aline.
"Ya udah deh, mami mau." ujar ibunya kemudian.
"Minggu depan ya, mi."
"Iya."
Aline menyeruput kopi yang tadi ia beli diperjalanan pulang. Sementara sang ibu kembali melihat ke depan. Sejatinya ia berdiri disana bukan karena tengah suntuk pada keadaan. Namun ia terpikir pada Adnan.
Perempuan itu terus teringat saat tadi ia melihat Adnan tengah menyuapi Putri. Dan ia selalu melihat bagaimana pria itu memperlakukan calon menantunya.
__ADS_1