
Adnan terus terpikir akan Anita, dengan segala persepsi dan prasangka yang menyesaki benaknya. Hingga siang ini ia makan bersama Putri, namun lebih banyak diam. Ketika Putri berbicara, ia seperti tak nyambung dalam menanggapi.
"Mas."
Putri menyadarkan lamunan Adnan. Pria itu tersadar jika dirinya hanya memutar-mutar sendok di atas piring. Padahal seharusnya ia makan.
"Iya, kenapa sayang?" tanya nya pada Putri dengan sedikit gelagapan.
"Mas tuh kenapa?. Dari tadi aku liat bengong terus, kayak lagi mikirin sesuatu yang berat."
Adnan mencoba tersenyum.
"Ah nggak koq, cuma masalah kerjaan aja." jawabnya kemudian.
"Masalah apa sih mas, perasaan tadi di kantor nggak ada masalah apa-apa." ujar Putri.
"Kan nggak semua masalah perusahaan, harus aku kasih tau ke seluruh karyawan." tukas Adnan lagi.
"Emang berat banget ya masalahnya?"
Adnan lagi-lagi mencoba untuk tersenyum.
"Nggak juga koq, nggak usah terlalu di pikirkan."
"Ya tapi mas kepikiran, jadi aku ikut mikir. Takutnya itu berat, dan bikin kamu stress."
Adnan benar-benar tertawa kali ini, meski sebagian benaknya masih tertuju pada Anita.
"Nih kamu makan aja nih."
Ia berbicara seraya meraih sendok di tangan Putri, lalu mencoba menyuapi istri keduanya itu. Mau tidak mau Putri pun menerima.
"Nanti aku mampir bentar ya ke tempat kamu, sebelum pulang ke rumah." ujar Adnan.
"Mas mau ke tempat aku?" tanya Putri.
"Iya." jawab pria itu kemudian.
"Ya udah." tukas Putri.
"Boleh?" tanya Adnan.
"Ya boleh dong." ucap Putri sambil tertawa kecil.
"Kirain nggak boleh." goda Adnan sambil ikut tertawa.
Mereka pun lanjut makan, tak lama setelah itu Adnan pamit ke toilet. Sekembalinya dari toilet tiba-tiba langkah pria itu terhenti. Tatkala menatap Anita masuk ke tempat dimana kini ia berada. Anita datang bersama dengan pria muda yang ia temui tadi pagi di kantor Anita.
"Degh."
Batin Adnan bergemuruh, Anita tak melihat ke arahnya. Wanita cantik itu juga duduk di meja yang cukup jauh dengan posisi membelakangi.
Adnan melihat ke arah sana cukup lama, dan masih terus memperhatikan ketika ia telah kembali ke hadapan Putri.
__ADS_1
"Mas?"
Putri lagi-lagi melihat Adnan yang bengong, dan mencoba menyadarkannya kembali.
"Ah iya."
Adnan mencoba tersenyum dan bersikap seperti biasa. Ia tak memberitahu Putri soal Anita yang juga makan di tempat yang sama dengan mereka.
Anita sendiri tampak terlibat obrolan yang menyenangkan dengan si laki-laki yang bersamanya.
"Kamu dimana?"
Adnan mengirim pesan singkat pada istrinya itu.
"Makan siang mas, sama temen."
Anita menjawab jujur. Meski tak mengatakan jika teman yang dimaksud adalah seorang laki-laki.
Adnan ingin bertanya kembali apakah istrinya itu pergi dengan laki-laki atau perempuan. Ia ingin mengecek kejujuran dari sang istri. Dan apabila ia berbohong, Adnan ingin segera menghampiri mereka dan membuat perhitungan pada si laki-laki.
"Teman kamu laki-laki atau perempuan?"
Adnan mengetik seperti itu. Namun kemudian ia ragu untuk mengirimkannya atau tidak. Pasalnya itu bisa saja merusak mood Anita, yang sedang terlihat gembira saat ini.
Sementara Adnan saja tak bisa memberikan semua itu, sebab ia pun tengah bersama putri. Jika ia melabrak Anita dan teman laki-lakinya itu, sudah pasti Anita juga akan melihat jika Adnan tengah bersama dengan Putri. Maka mungkin bisa jadi itu juga akan melukai hati Anita.
Adnan sakit saat melihat Anita berjalan bersama pria lain, sekalipun status mereka mungkin hanyalah sekedar teman. Namun tak menutup kemungkinan juga Anita bisa merasakan sakit, apabila tau jika Adnan terus-menerus bersama Putri di setiap harinya.
Intinya Adnan cemburu dan ingin marah pada Anita, namun terhalang rasa bersalahnya sendiri. Akhirnya pesan yang ia ketik tersebut tak jadi ia kirim. Ia tak ingin masalah menjadi lebih runyam lagi.
Sore itu, Adnan mengantar Putri sekaligus beristirahat sejenak di kediamannya. Tetapi ia masih mengerjakan sedikit perkejaan kantor di tempat itu.
"Minum dulu mas."
Putri membuatkan segelas kopi untuk sang suami dan meletakkannya di atas meja. Kebetulan Adnan masih berkutat dengan laptop.
"Makasih ya." ujar pria itu kemudian.
"Sama-sama mas." jawab Putri lalu duduk disisi Adnan.
Adnan menghentikan sejenak aktivitasnya, kemudian bersandar pada sofa dan mengelus perut Putri menggunakan tangan kiri.
"Sejauh ini kamu baik-baik aja kan, nggak pernah ngerasa ada yang aneh?" tanya nya kemudian.
"Nggak ada mas, biasa aja." jawab Putri.
"Cuma..." Putri menjeda sedikit ucapannya, seperti berfikir mau dilanjutkan atau tidak.
"Cuma apa?" tanya Adnan penasaran.
"Jadi makin sering kangen sama mas Adnan." jawab Putri.
"Dia atau kamu yang kangen?" Adnan menatap mata Putri, seketika wajah Putri bersemu merah karena malu.
__ADS_1
Adnan yang terus menatap Putri kini mengganti tangannya. Yang tadinya ia mengusap perut Putri dengan tangan kiri, kini menjadi tangan kanan. Posisi pria itu berubah setengah menghadap ke arah Putri.
"Liat mata aku!" perintahnya kemudian.
Putri pun menatap mata suaminya itu. Adnan diam, namun tangannya terus mengusap perut Putri. Awalnya hanya di area sekitaran perut saja, ia membuat gerakan mengelus dan memutar-mutar. Namun kemudian tangannya mulai menelusup ke bagian bawah. Naik lagi ke area perut, dada, turun lagi ke perut, lalu kembali ke bagian bawah.
Putri yang tadinya menatap Adnan dengan mata terbuka, kini perlahan sayu. Kadang bagian hitam matanya hilang saking menikmati semua itu.
"Enak?. Hmmh?" tanya Adnan pada Putri.
Dengan nafas yang naik turun, Putri pun mengangguk.
"Jawab Putri!" Adnan meminta dengan nafas yang ikut memburu.
"Enak mas, hmmh." jawab Putri kemudian.
Maka Adnan pun mencium bibir wanitanya itu, sementara tangannya telah dengan cepat menaikkan dress Putri dan menelusup ke dalam pelindung segitiga yang ada di dalamnya.
"Hmmmh maaas."
Putri mendesah di sela ciuman yang di berikan Adnan. Apalagi ketika jari-jari jemari Adnan mulai membuat gerakan memutar-mutar di bagian sensitifnya. Putri benar-benar menggelinjang dan lupa diri.
Bagian tengah jari Adnan mulai melesak masuk, membuat mata Putri seketika terbelalak dengan bibir yang yang menganga tanda nikmat. Tak lama, jari suaminya tersebut mulai bergerak. Menghilangkan bagian hitam mata Putri ke bagian atas. Kini hanya terlihat bagian putihnya saja lagi.
"Gimana sayang, kamu suka kan?. Hmmh?"
Adnan makin mendominasi istrinya.
"Iya mas, suka mas, hmmh."
"Kamu cinta kan sama aku, udah nggak ada siapa-siapa lagi kan di hati kamu?. Hmmh?"
Adnan semakin arogan. Ini adalah bentuk kekesalannya terhadap Anita, yang ia perkirakan mulai tergoda pria lain. Ia ingin memvalidasi diri, bahwa ia adalah suami yang mendominasi dan tidak boleh di khianati oleh siapapun.
"Kamu milik aku sekarang, Putri. Kamu milik aku."
Adnan terus mempercepat gerakan jari tangannya. Hingga terdengar bunyi kecipak-kecipak, karena cairan Putri telah banjir.
"Iya maaas, aku milik maaas."
Putri meremas jas Adnan di bagian bahu dan juga tangannya. Sebab ia begitu tersiksa dalam nikmat yang tiada tara.
"Bilang apa kamu barusan?" tanya Adnan.
"Hmmm?"
"A, aku milik mas, hmmh." Suara Putri seperti terputus-putus.
"Apa?" tanya Adnan sekali lagi.
"Aku milik mas, aaah."
Putri benar-benar sudah seperti wanita ****** Adnan tertawa penuh kemenangan dibuatnya.
__ADS_1
"Ingat Put, jangan sekali-kali kamu mengkhianati aku. Liat apa yang sudah aku lakukan sama kamu. Ini bukan pernikahan di atas kertas, ini nyata Put. Kamu istri aku, istri aku yang sah."
Putri tak bisa berkata apa-apa lagi, tubuhnya sudah benar-benar dikuasai sang suami kali ini. Ia hanya terus menerima, segala perlakuan yang diberikan oleh Adnan.