Mengejar Cinta Mu

Mengejar Cinta Mu
Bab 98


__ADS_3

Alisya menangis, entah menangis bahagia atau sakit hati. Karena tidak mudah bagi seorang Adrian dengan gampang mengatakan aku mencintaimu. Jelas-jelas pria itu selalu mengatakan jika dia butuh waktu untuk mencintai Alisya. Alisya hanya bisa menangisi keadaan hari ini.


" Al, " ucap Adrian dengan pelan menggenggam tangan istrinya yang sudah lama sekali tidak dia sentuh.


Dalam keadaan menangis Alisya berucap, " Gampang sekali kamu mengucapkan kalimat itu."


" Emang benar, Al. Aku mencintaimu. " ujar Adrian meyakinkan istrinya.


" Sudah cukup dengan kepura-puraan mu itu Adrian. Kalimat itu tidak bisa menyelesaikan masalah yang kita hadapi ini. Kalimat itu tidak bisa memperbaiki semuanya. Bahkan tidak mengobati perasaan ku yang sudah terlanjur kamu sakiti." ujar Alisya sambil menangis.


" Al, aku tidak berpura-pura.. Aku sudah mencintaimu. Aku tidak menyadari hal itu selama ini." ujar Adrian.


" Aku tidak pernah percaya dengan omongan mu. Bunga, kamu mau disini atau pulang bersamaku." ujar Alisya keluar dari rumah Bagas.


Adrian terus mengejarnya dan memanggil-manggil nama Alisya. Namun, perempuan tetap angkuh dia seoalah tidak mendengar. Bunga hanya bisa pasrah, dia hanya mengikuti sahabatnya itu pergi. Mau bagaimana pun dia yang mengajak Alisya kesini, dia pula yang harus menemani Alisya pulang dalam keadaan rapuh seperti itu.


Adrian merasa jika dirinya benar-benar gila hari ini. Alisya sudah menaiki taksi, dia sudah tidak mengejar istrinya. Adrian mengacak rambutnya, dia berteriak seperti orang gila didepan pagar rumah Bagas. Air matanya menetes, hancur sudah. Hancur sudah pernikahan yang mereka jalani meski diawali dengan terpaksa. Adrian merasakan rasa sakit hati, dia baru saja menyadari rasa cintanya. Tapi dengan cepat dia merasakan rasa sakit itu. Alisya sudah tidak percaya dengannya.


Bagas menghampiri Adrian, meski Adrian bukan teman dekatnya. Dia tetap merasa iba dengan pria itu. " Masuklah dulu.. Tenangkan pikiranmu." ujar Bagas.


"Aku harus bagaimana lagi, Alisya sudah tidak mempercayaiku. Aku tidak mau kehilangan Alisya." ujar Adrian dengan haru.


Bagas hanya bisa menepuk pundak Adrian, berusaha menenangkan pria yang sedang patah hati ini. Bagas menuntunnya untuk sementara masuk ke dalam rumahnya. Supaya tidak mengundang tetangga untuk menonton adegan penuh haru ini.

__ADS_1


Di dalam rumah, Tania menangis sesenggukan. Dia sadar kesalahannya membuat semua orang yang terseret merasakan lukanya. Dia menyesali semua perbuatannya dulu.


Dafa keluar dari persembunyian, dia menghampiri Tania yang masih berlutut sambil menangis. Dafa berdiri disamping gadis yang menangis. Dengan tatapan datar, Dafa berkata, " Sekarang lihatlah. Akibat perbuatan mu, orang yang tidak bersalah juga kena imbasnya."


Tania melihat Dafa sambil menangis. Dia sudah menyadari sebelum Dafa mengatakannya. " Maafkan aku.. Maafkan aku.. Hiks.... maaf.... ini benar-benar sebuah kesalahan yang besar...hiks.. Aku... menghancurkan semuanya..." ujar Tania sambil menangis.


" Perasaan sakit hati mu, tidak seberapa dengan rasa sakit hati yang dirasakan oleh dua orang tadi. Bahkan kamu dengar sendiri apa yang Alisya katakan. Dia menahan rasa sakit dari awal, saat kamu pacaran dengan adrian bahkan sampai dia menikah. Adrian tidak pernah mencintainya. Dan sekarang Adrian, kamu lihat pria itu meneteskan air matanya saat Alisya tidak mempercayainya lagi. Bahkan dulu dia menahan rasa sakit karena mencintaimu. Kamu sadar dengan perbuatan mu yang sudah menyakiti mereka berdua. Sekarang lihat hubungan mereka hancur karena perbuatan mu." ujar Dafa.


" Hiks... aku menyesali.. sungguh aku menyesalinya....hiks... aku...." ucap tani terbata-bata karena sambil menangis.


Dafa yang awal cuek, menjadi tidak tega melihat yang berada disampingnya ini tidak berhenti mengalirkan air matanya. Dengan merasa kasihan, dia menepuk pundak Tania. Hanya menepuk tanpa memeluk gadis itu. Setidaknya itu mungkin bisa menenangkan perasaan Tania. Bukannya Dafa jijik atau tidak mau memeluk Tania. Tetapi, Dafa masih merasa kecewa dengan perbuatan Tania. Balas dendam menyakiti serta menghancurkan hubungan suami istri yaitu Alisya dan Adrian.


Adrian menepis tangan Bagas yang menepuk pundaknya. Dia menghapus air mata yang mengalir di pipinya. " Bagas, aku harus pergi. Aku akan menemui Alisya di hotel. Kebetulan hotel tempat aku menginap sama dengan Alisya. Aku akan menemuinya." ujar Adrian.


" Adrian, bukannya aku ikut campur. Sebaiknya kalian berdua menenangkan diri dulu sebelum bertemu dan menyelesaikan masalah kalian. Aku merasa jika Alisya masih syok, sebab sebelum bertemu denganmu. Dia sudah mendengar semua penjelasan dari tania. Biarkan dia tenang dulu, baru kamu bertemu dengannya." ujar Bagas menasihati Adrian.


Bagas hanya bisa diam, dia juga tahu jika Adrian merasa sangat kecewa dengan apa yang Tania lakukan selama ini kepada Adrian. Adrian pasti tidak pernah memaafkan semua tindakan Tania setelah bertahun-tahun gadis itu sudah membohonginya. Bagas menghela napasnya, menggeleng kepalanya pelan. Seolah menunjukan tindakan jika hari ini rasanya begitu berat bagi dirinya karena membantu sahabatnya untuk menebus kesalahannya.


Bagas memasuki rumahnya, di sofa hanya ada Tania yang masih sesenggukan dengan tisu yang menemaninya. Bagas memandang sahabatnya itu, dia duduk disamping Tania. " Kemana Dafa?" tanya bagas karena sedari tadi dia tidak melihat Dafa, hanya tadi pagi saat Dafa memberikan teh anget untuk Tania.


Tidak berselang lama, Dafa datang membawakan segelas air. Dia meletakkan segelas air putih itu diatas meja. " Minumlah." ucap Dafa.


Tania mengambil segelas air putih dan meminumnya dengan perlahan.

__ADS_1


" Haaahh.. Lumayan melelahkan, ya?" ujar Bagas meregangkan kedua tangannya mencoba mencairkan suasana.


" Belum selesai, gas. Kalian harus memperbaikinya." ujar Dafa menatap kosong ke arah meja.


Bagas menghentikan aksinya seketika mendengar ujaran Dafa. Dia paham temannya itu sangat pengertian dengan dia sejoli tadi.


" Iya, setelah semuanya tenang. Aku akan sekali lagi mencoba menemui Alisya atau Adrian. Aku akan berusaha semampu ku agar mereka kembali bersama." ujar Tania.


" Bukannya tugas kita hanya menjelaskan saja." ujar Bagas.


" Menjelaskan? tapi tidak bisa memperbaiki yang sudah rusak." ujar Dafa beranjak dari situ.


Selama perjalanan menuju Bunga hanya bisa memeluk sahabatnya itu. Alisya terus menangis di pelukan bunga.


" Al, tenanglah.." ucap bunga yang tidak kuasa ingin ikut menangis melihat kerapuhan sahabatnya.


" Aku.... Aku tidak menyangka... Jika sakit hatiku... hiks ... karena balas dendam dari Tania.. hiks.. Sebodoh itu...aku...hiks....." ujar Alisya sambil sesenggukan.


Bunga berusaha menahan air matanya dengan tidak ikut menangis. Dia tidak tega dengan sahabatnya, karena dialah yang mengajak Alisya menemui Tania meski dia harus menipu sahabatnya ini. Maksud hati bunga agar Alisya bisa bersama lagi dengan Adrian. Justru dia malah menyakiti hati sahabatnya.


" Maafkan aku, Al.. Seharusnya aku tidak mengajakmu untuk bertemu dengan mereka." ujar bunga menyesali perbuatannya.


" Jangan merasa bersalah seperti itu..Aku justru sangat berterima kasih setidaknya aku sudah tahu semuanya." ujar Alisya melepaskan pelukan mereka dan tersenyum.

__ADS_1


" Tapi aku..."


" Makasih ya, kamu memang sahabat terbaikku." ucap Alisya memeluk bunga.


__ADS_2