Mengejar Cinta Mu

Mengejar Cinta Mu
Bab 82


__ADS_3

Tidak terasa hari sudah malam. Adrian sudah bersiap-siap untuk bertemu dengan kliennya. Pertemuan kali ini berbeda, si klien meminta untuk pertemuan malam. Alhasil rencana untuk jalan-jalan dengan Alisya malam ini harus di tunda.


" Emang klien minta ketemu malam ya? Emang gak bisa besok?" tanya Alisya dengan wajah cemberut akibat rencana jalan-jalan malam akhirnya ditunda.


" Mau bagaimana lagi. Kliennya mintanya begitu." ujar Adrian memakai kemeja.


"Eum, aku boleh ikut gak? dari pada aku disini sendirian lalu tempatnya juga baru, mau jalan jalan takut kesasar lagi." ujar Alisya cemberut karena tidak mau ditinggal sendirian.


" Eum.. gimana ya?" ucap Adrian sengaja menunda keputusannya.


" Boleh ya." ucap alisya dengan wajah memelas.


Adrian tersenyum telapak tangan menyentuh pipi istrinya, seolah gemas dengan tingkah istrinya itu.


" Boleh, kmu segera siap-siap sekarang." ujar Adrian.


Alisya tersenyum senang, dia segera bersiap-siap untuk pergi bersama suaminya.


" Tapi Al, sayangnya nanti aku gak bisa bawa kamu untuk ketemu dengan klien. Kamu bisa tunggu di mobil, kan?" ucap Adrian.


" Gak masalah, yang penting aku ikut denganmu." ujar Alisya.


Mereka berdua menaiki mobil yang sudah disewakan Adrian. Selama perjalanan Alisya hanya memandangi keadaan Surabaya pada malam hari. Bagi Alisya Surabaya maupun suasananya tidak jauh berbeda dengan Jakarta.


Tidak selang beberapa lama dalam perjalanan, mereka telah sampai ke sebuah Cafe yang terkesan lumayan mewah.


" Kamu tunggu disini dulu ya, aku ke dalam untuk rapat dengan klien. Kalau bosan kamu boleh keluar dan pesan makanan di cafe. Yang penting jangan main terlalu jauh dari sekitar sini." nasihat Adrian kepada Alisya.


" Siap pak, semangat kerja ya pak." ujar Alisya tersenyum sambil tangannya mengepal sebagai bentuk menyemangati suaminya. Adrian hanya bisa tertawa melihat tingkah istri itu.


" Aku pergi dulu." ucap Adrian mencium kening istrinya.


Disisi lain bunga tengah sibuk mengatur para model pakaian yang nantinya akan bergaya di depan kamera.


" Nanti saat fotografer mulai memotret kamu harus gaya lebih menjolok, apalagi model pakaian yang kamu pakai warnanya sangat mencolok." ujar bunga memberi arahan kepada para model.


Seseorang datang, dialah Dafa sang fotografer yang akan memotret modelnya.


" Maaf ya, aku agak telat." ucap Dafa karena datang tidak sesuai dengan jam yang ditentukan.

__ADS_1


" Gak apa-apa kok kak. Ini juga aku masih ngarahin modelnya." kata bunga memaklumi keterlambatan Dafa, karena dia tahu jadwal Dafa juga sibuk. Makanya mereka berdua memutuskan melakukan pemotretan malam hari.


" Oke, kalau begitu kita mulai ya." ujar Dafa.


Para model mulai bergaya didepan kamera. Daffa mulai mengarahkan kameranya sedangkan bunga hanya memperhatikan, takutnya ada model yang gayanya kurang bagus.


" Alisya kemana?" tanya Dafa karena sedari tadi hanya bunga yang mengurusinya.


" Oh, dia ke Surabaya. Nemenin suaminya untuk ketemu klien." jawab bunga.


" Ah, jadi ini semua kamu yang ngurusi."


" Iya kak, mau bagaimana lagi. Alisya hanya bilang nanti hasilnya aku akan kirimkan ke dia." ujar bunga.


Hampir sejam pemotretan berlangsung, bunga memberikan apresiasi kepada para model karena kerja keras mereka didepan kamera.


" Terima kasih ya udah membantu. Sekarang kalian boleh pulang." ujar bunga kepada model dengan tersenyum.


Setelah para model pergi, bunga menghampiri Dafa yang tengah sibuk mengedit beberapa foto.


" Makasih ya kak atas bantuannya." ucap bunga.


" Iya kak,"


" Kamu kelihatan dari kemarin jarang ke cafe, kamu izin lagi?" tanya Dafa karena selama berkunjung ke cafe dia tidak pernah melihat bunga bekerja.


" Ah soal itu, aku udah mengundurkan diri."


" Kenapa?" tanya Dafa penasaran, sebab dia yakin Bagas tidak mudah membiarkan bunga keluar begitu saja.


" Aku gak bisa kak, sibuk banget rasanya. Belum kuliah dan ngejalanin bisnis ini. Jadi aku udah bilang kak Bagas, jika aku mau mengundurkan diri. Untungnya kak Bagas masih bisa memberi pengertian soal itu." kata bunga tersenyum.


" Tumben banget dia bisa mengerti, biasanya sekali naksir susah bagi dia untuk melepaskan gadis itu." gumam Dafa dalam hati.


Adrian memasuki cafe, tidak banyak orang yang berada di dalam. Palingan hanya keluarga kecil dan orang yang tengah pacaran mengunjungi cafe tersebut. Adrian melihat ke sekitar cafe, melihat dimana tempat klien yang mengajak bertemu. Seseorang tiba-tiba melambaikan tangan dari jauh, dia duduk dipojok dekat jendela. Adrian tersenyum, dia yakin jika itulah kliennya. Adrian segera berjalan menghampiri kliennya itu.


" Maaf jika aku sudah membuat anda menunggu." ujar Adrian kepada kliennya.


" Gak masalah, aku juga baru datang. Oh iya perkenalkan namaku Bagas." ucap Bagas bersalaman dengan Adrian.

__ADS_1


" Namaku Adrian, tapi kelihatannya muka anda terasa tidak asing bagiku." ujar Adrian melihat wajah kliennya itu.


" Benarkah! Anda mungkin akan ingat jika ada mengingat cafe yang pernah anda kunjungi dulu." ujar Bagas.


Adrian mencoba mengingat cafe yang pernah dia kunjungi namun memorinya sudah tidak mengingatnya lagi. Dengan tersenyum canggung Adrian menjawab, "Mungkin aku udah lupa."


" Hahaha.. Gak masalah. Kalau begitu kita pesan makanan dulu. Ah, tapi Adrian bisakah kamu memesan buatku saja. Terserah apapun itu, aku ingin ke toilet sebentar." ujar Bagas.


" Apa gak masalah jika aku yang memesan?" tanya Adrian takutnya makanan yang dipesannya tidak sesuai dengan selera Bagas.


" Gak masalah, semua menu makanan disini sudah kucoba. Aku ke toilet dulu." ujar Bagas berlalu pergi.


Adrian memanggil pelayan sambil menunduk membaca menu yang sudah berada di meja, seseorang pelayan cewek datang menemuinya.


" Mau pesan apa mas?" tanya pelayan itu.


Suara pelayan itu terdengar seperti tidak asing bagi Adrian. Suara itu yang sangat Adrian rindukan sejak dulu. Tidak mungkin gadis itu berada di surabaya. Adrian mengangkat wajahnya memastikan siapa melayaninya itu.


Dan, damn! bukan orang lain. Gadis itu bukanlah orang lain. Melainkan gadis yang sangat Adrian kenal.


" Tania?" panggil Adrian pelan.


" Hay Adrian!" sapa Tania tersenyum.


Senyuman itu yang sangat Adrian rindukan. Sudah lama Adrian tidak melihat senyuman itu.


" Kamu bisa berada disini?" tanya Adrian.


" Ceritanya panjang, aku akan ceritakan padaku nanti. Tolong silakan pesan menu apa yang kamu mau?" tanya Tania.


" Iya, nanti kita bicarakan setelah aku selesai rapat. Ada butuh penjelasan untuk semua hal kamu lakukan padaku." ujar Adrian menatap tajam gadis itu mengingat bagaimana gadis itu memutuskannya secara sepihak.


" Jadi apa menu yang kamu pesan." tanya Tania siap dengan note untuk menulis menu yang akan Adrian pesan.


Alisya duduk didalam mobil, memainkan ponselnya. Melihat media sosial terkadang dia bermain game.


" Ah.. membosankan!" ujar Alisya mengeluh karena sedari tadi hanya bermain ponsel.


Tiba-tiba notifikasi ponsel berbunyi, Alisya segera membuka ponselnya dan melihat pesan itu.

__ADS_1


__ADS_2