
Alisya dan Bunga akhirnya pulang ke Jakarta. Dan hari ini juga merupakan hari dimana Alisya akan memberikan jawaban akan keputusan yang dia ambil. Alisya tidak lagi menginap di rumah, setelah sampai di Jakarta dia langsung menuju rumah yang pernah dia tinggalkan. Dengan menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan, Alisya memencet bel rumah mereka.
Ting..tong.. suara bel rumah terdengar dari dalam ruangan. Demi menunggu jawaban Alisya, Adrian rela tidak masuk kerja hari ini. Dia duduk di sofa menunggu telfon atau chat dari Alisya, namun sayangnya tidak ada tanda-tanda dari ponselnya. Adrian berpikir jika ini adalah akhir dari pernikahan mereka. Adrian berjalan mendekati pintu untuk melihat siapa yang berkunjung siang ini.
Adrian membuka pintu, alangkah terkejutnya dia saat melihat Alisya berdiri didepan rumahnya bersama dengan koper yang dia bawa dari Surabaya.
"Alisya.." Adrian menatap istrinya berdiri tersenyum menatapnya.
" Iya ini aku.. kamu tidak memintaku masuk?" Ujar Alisya karena Adrian sedari terus berdiri menatapnya di pintu masuk.
" Ah! Sini kopermu.." Adrian menyeret koper Alisya, sedangkan Alisya masuk duluan ke dalam rumah.
"Haaahh... Udah lama ya, aku tidak pernah kesini." Alisya menatap seisi ruangan rumah yang sangat dia rindukan.
" Maksud kamu?" Adrian masih belum connect akan kedatangan Alisya di rumah.
" Maksud aku? Menurut mu? Jika aku datang kesini maka keputusan ku?" Alisya tersenyum menatap Adrian lalu duduk di sofa sambil melepaskan tas yang ditentengnya.
" Jadi.... Kamu..."
" Ya, keputusan ku adalah aku tetap ingin melanjutkan pernikahan kita." Alisya memotong ucapan Adrian.
Adrian tersenyum menatap istrinya, dia begitu bahagia karena Alisya memberikan kesempatan kedua untuknya.
Adrian lalu mendekati istrinya, "Kamu serius?"
__ADS_1
" Aku serius, kamu akan tetap menjadi suamiku." Alisya meraih wajah Adrian, menatap lekat wajah yang sangat dia rindukan.
" Makasih ya.." Adrian melepaskan tangan Alisya diwajahnya dan memeluk erat tubuh istrinya.
Alisya begitu terharu tanpa sadar air matanya menetes bahagia. Sudah lama dia merindukan pelukan hangat suami yang sangat ia cintai.
" Maafkan aku." Ucap Alisya dalam tangisannya. Adrian melepaskan pelukan mereka, menatap lekat wajah istrinya. Ibu jarinya bergerak menghapus air mata istrinya.
" Justru aku yang meminta maaf, aku yang salah." Adrian mencium kening Alisya.
Kisah haru nan bahagia itu akhirnya membuat suasana terkesan manis. Tatapan mata mereka bertemu, Adrian pelan mendekati wajahnya lebih dekat dengan sang istri. Hingga berakhir dengan ciuman manis yang tercipta diantara keduanya. Adrian merasakan kembali lembutnya bibir Alisya, menumpahkan semua rindu yang selama ini dia rasakan.
Alisya lalu menyudahi ciuman itu, suasana menjadi semakin canggung. Adrian tersenyum dengan terus memandang wajah istrinya. " Al.. aku sangat merindukanmu."
" Aku juga... Merindukanmu." Ucapnya lembut hingga seperti sedang berbisik.
" Aku belum sempat makan sejak tadi.. Kebetulan sekali di rumah cuma ada mie instan. Selama ini aku selalu makan diluar, kalau tidak ya mie instan."
Layaknya anak kos, bagaimana tidak selama menikah Alisya yang selalu mengurusinya. Maka, saat Alisya menghindar hidup sudah tidak teratur.
" Kenapa makan mie instan? Bukannya kamu bisa masak. Aku masih telur omelette buatan mu itu." Alisya mengingat kembali dulu saat Adrian memasak makanan untuknya.
Adrian menghampiri istrinya, yang sedang berdiri di dekat wastafel dengan memeluknya dari belakang. " Habisnya selama ini hidup galau.. aku jadi tidak terlalu nafsu sama makanan. Sebab makanan yang terenak cuma buatan mu saja."
" Padahal aku masaknya yang simpel doang. Masih dibilang enak, enaknya makanan yang ada diluar." Alisya merasa jika Adrian mengatakan makanan yang paling enak. Karena selama membina rumah tangga, Alisya hanya memasak makanan sederhana saja.
__ADS_1
" Beda dong sayang. Diluar kota tidak tahu apakah mereka memasak pakai cinta atau hanya mencari untung saja. Sedangkan kamu memasak makanan dengan cinta. Itulah kenapa aku jadi jatuh cinta sama kamu." Kata Adrian lalu mencium pipi istrinya. Alhasil Alisya menjadi salah tingkah karena sudah dipuji bahkan diberi ciuman juga.
" Udah ah! Jangan ganggu dulu. Kamu mau makan tidak? Biarkan aku memasak." Ujar Alisya sebab dia sudah tersipu malu takutnya Adrian kembali menggodanya.
Sudah lama dia tidak menyentuh dapur yang dulu sering dia gunakan bahkan hari-harinya berkutat dengan makanan di dapur itu. Kini dia kembali sibuk, meski hanya membuatie instan saja. " Sudah lama ya." Gumamnya. Sedangkan Adrian sang suami menarik koper serta tas kecilnya menuju kamar. Meletakkan semuanya dikamar, tidak mau merepotkan sang istri Adrian juga membuka koper istrinya dan menyusun semua pakaian kedalam lemari.
" Adrian, mienya sudah siap." Teriak Alisya di dapur sambil menyiapkan mienya diatas meja.
Adrian segera keluar dari kamar dan menuju dapur. Seperti dulu Alisya sudah duduk dan menunggunya. "Enak nih!."
" Semua mie instan pasti enak lah. Ayo makan!" Seru Alisya menaruh satu mangkok mie untuk lebih dekat dengan Adrian.
" Makasih ya." Ucap Adrian tersenyum.
" Ini udah tugasku. Maaf ya, selama ini aku sebagai istri lupa akan kewajiban ku." Alisya tiba saja murung mengingat dulu dirinya memilih untuk tinggal dengan Bunga tanpa berpikir jika dia masih menjadi istri sah Adrian.
" Kamu tidak salah, Al. Ini semua salahku, aku yang menyebabkan salah paham ini terjadi. Seharusnya aku lebih terbuka padamu."
" Dan seharusnya aku tidak lupa akan kewajiban ku." Alisya menunduk seolah menyesali yang pernah terjadi sebelumnya.
" Al, berhenti menyalahkan diri sendiri. Disini aku yang salah, oke. Mulai sekarang kita bina kembali hubungan rumah tangga kita. Mungkin dulu aku punya tujuan lain, tapi kini tujuan ku hanya ingin membahagiakanmu. Jadi berhentilah menyesali yang pernah terjadi, sekarang kita harus hidup dengan saling membahagiakan serta saling mencintai hingga maut memisahkan kita. Sekarang kita sebaiknya makan, kasihan mienya terus menatap kita seperti tatapan untuk segera disentuh." Adrian tersenyum menggenggam tangannya istri seolah menguatkan seperti apa yang dia katakan. Namun kalimat terakhir membuat Alisya sedikit tertawa.
Alisya lalu mengangguk bahagia, rasanya benar-benar terharu mendengar semua perkataan suaminya. Rasanya dunia baru sedang terbuka lebar untuknya meski tokohnya masih tetap sama. Alisya begitu bahagia, dalam dirinya dia berjanji untuk selalu menjadi istri yang baik untuk suaminya dan seperti yang Adrian katakan dia akan berusaha untuk membahagiakan Adrian sebagai suaminya.
" Al, kenapa kamu menangis?" Adrian melihat air mata istrinya menetes.
__ADS_1
Alisya segera menghapus air matanya, dan tersenyum penuh bahagia. " Tidak apa-apa. Yuk kita makan." Ucap Alisya.