Mengejar Cinta Mu

Mengejar Cinta Mu
Bab 74


__ADS_3

Hari ini hari weekend, kebetulan Adrian tidak masuk kantor. Adrian berinisiatif mengajak Alisya untuk jalan-jalan di luar rumah. Biasanya selama weekend mereka berdua hanya di rumah atau mengunjungi rumah orang tua mereka. Tidak ada yang spesial di hari weekend. Namun, kali ini Adrian ingin membuat hati itu menjadi hari untuk membahagiakan istrinya.


Alisya masih sibuk, begitulah tugas ibu rumah tangga. Alisya mengerjakan pekerjaan seperti itu setiap harinya. Mungkin sebagian orang akan bosan, dan mencari suasana yang baru. Bagi Alisya juga mungkin sama, tetapi jika masih ada Adrian di sampingnya. Pekerjaan yang membosankan ini tidak menjadi masalah yang penting dia bisa menjadi istri yang baik untuk suaminya, Adrian.


Adrian keluar dari kamar, mengamati istri yang sibuk dengan piring-piring di dapur. Menata ulang semua piring-piring, mengubah suasana dapur agar tidak membosankan bagi Alisya. Adrian mendekati istrinya, berdiri dibelakang istrinya. Alisya yang merapikan piring sudah menyadari kehadiran suaminya itu.


" Ada apa?" tanya Alisya masih sibuk dengan menata piring ke rak tanpa menoleh kebelakang. Yang ditanyai tidak merespon malah justru memeluk Alisya.


Adrian meletakkan dagunya di bahu istrinya. Tanpa ada suara yang dikeluarkan, padahal rencana awalnya dia ingin memberitahu istrinya. Jika dia ingin mengajak Alisya jalan-jalan hari ini. Alisya seolah tahu apa yang dirasakan suaminya, kembali bertanya, " Ada apa, Adrian?" dengan nada begitu lembut.


" Aku merindukanmu." bisik Adrian.


Alisya mengangkat kedua alisnya, arah matanya menatap suaminya itu, seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Tiba-tiba Adrian mengatakan merindukannya. Padahal mereka setiap hari sering bertemu, dan Alisya juga sering ke kantor mengantarkan makan siang. Alisya menghentikan aktivitasnya, dan membalikkan badannya. Adrian yang menyadari pergerakan Alisya segera menjauh dari bahu Alisya dan melonggarkan pelukannya.


Kedua tangan terangkat, menyentuh pipi lembut suaminya. " Katakan padaku, ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini, hm?"


" Sudah ku bilang aku merindukan ku." ucap Adrian tetap kekeh dengan jawabannya.


" Apaan sih! Aku butuh jawaban yang benar." ujar Alisya yang mulai kesal dengan Adrian.


" Itu jawaban ku." masih dengan jawab yang sama.


Bibir bawah Alisya maju sedikit, seperti Alisya begitu kesal dengan jawaban Adrian yang menurutnya tidak masuk di akal. Adrian menyadari ekspresi wajah Alisya sudah seperti itu, berarti gadis itu sedang kesal dengannya.


" Baiklah, Emangnya salah jika aku merindukan istriku sendiri?" tanya Adrian kepada Alisya.


" Bukan begitu, gak masuk diakal aja. Kita ketemu tiap hari dan kamu mengatakan rindu. Rasanya begitu aneh buatku. Jadi beritahu aku yang sebenarnya." kata Alisya menjelaskan serta memaksa suaminya untuk mengungkapkan yang sebenarnya.


" Baiklah istriku. Aku merindukan belaian mu. Sentuh aku istriku." Adrian menggoda istrinya dengan sedikit memajukan tubuh untuk lebih dengan Alisya.


Dulu Alisya akan malu setiap Adrian menggoda seperti itu, namun kini dia sudah terbiasa dengan perkataan seperti itu. Telapak tangan kanan Alisya memukul dahi Adrian, mendorongnya agar sedikit menjauh dari tubuhnya.

__ADS_1


" Berhentilah menggodaku, lebih baik kamu membantuku membersihkan dapur." ujar Alisya kembali melanjutkan aktivitasnya.


Bukannya mengikuti perintah istrinya, Adrian justru merengek seperti anak kecil yang sedang meminta dibelikan jajan oleh ibunya. Dia terus memegang tangan istrinya menggoyangkan dan terus merengek meminta diperhatikan oleh Alisya. Namun, Alisya tidak memperdulikannya.


Merasa tidak diperhatikan, Adrian berdiri mematung. Memandangi terus wajah istrinya itu. Merasa terus diperhatikan oleh Adrian, Alisya akhirnya menoleh.


" Jadi sebenarnya apa mau mu? berhentilah merengek seperti bocah." ujar Alisya kesal kepada Adrian.


" Masa setiap weekend selalu itu-itu yang dikerjakan, kalau gak pergi ke rumah ayah dan ibu. Selalu seperti itu, sesekali beri waktu berdua gitu." ujar Adrian menggerutu kesal karena setiap weekend suasana selalu sama.


" Jadi sekarang katakan apa maumu?" tanya Alisya meminta jawaban yang tepat.


" Jalan-jalan yuk. Udah lama kita gak jalan-jalan berdua. Terakhir kali liburan ke Bandung." kata Adrian dengan wajah memohon agar istrinya mau.


Melihat tatapan memohon Adrian, Alisya berencana mengerjai suaminya itu.


" Hmm.. Gimana ya? masalahnya ini sudah tugas yang aku terapkan jadi gak bisa kalau diganti hatinya." ujar Alisya dengan tangan kiri melipat di dadanya dan jari tangannya terangkat menggaruk alis kanannya. Seolah dirinya masih menimbang tawaran dari suaminya itu.


" Iya, setelah aku selesaikan ini dulu. Baru kita keluar. Tapi kamu tolong bantu aku ya." ujar Alisya kembali merapikan piring dan dibantu oleh Adrian.


Awalnya Adrian ingin mengajak Alisya ke sebuah wahana. Karena hari weekend pengunjung ramai, hal itu membuat Adrian memutuskan untuk pergi ke tempat lain. Namun, sebelumnya dia bertanya kepada alisya, siapa tahu gadis itu ingin bermain dengan beberapa wahana disana.


" Bagaimana? Kamu masih ingin atau kita pergi saja?" tanya Adrian melihat banyak sekali pengunjung.


" Kenapa kamu menanyakan itu padaku? Bukannya kamu yang mengajak ku disini." kata Alisya.


" Bukan begitu, kamu gak lihat banyak sekali pengunjung. Pasti banyak banget yang antri jika ingin bermain satu wahana." Ujar Adrian menunjukan beberapa wahana yang rame pengunjung.


Alisya menghela nafasnya, sebenarnya Adrian benar-benar niat mengajaknya jalan-jalan atau tidak.


" Sebaiknya kita pulang saja kalau begitu." ujar Alisya membalik untuk menuju mobil.

__ADS_1


Adrian merasa jika Alisya kesal padanya. Dia sendiri yang mengajak Alisya keluar justru malah membuat Alisya kesal.


" Ah, mari kita coba beberapa wahana dulu." ujar Adrian menarik tangan istrinya, agar Alisya tidak merengek minta pulang.


Mereka berdua mencoba beberapa wahana, terlihat dari wajah pasangan itu nampak begitu bahagia dan menikmati permainan di beberapa wahana yang mereka. Sudah lama, Alisya tidak merasakan sensasi perasaan bahagia seperti ini. Dulu saat masih duduk di sekolah dasar, dia sering datang bersama kedua orangtuanya. Kini Alisya bukan lagi bersama orang tuanya melainkan suaminya. Alisya memandang wajah suaminya dengan tersenyum. Rasa syukur Alisya yang terima, memiliki suami seperti Adrian.


Alisya tertawa, saat melihat wajah Adrian. Cowok itu terlihat trauma setelah menaiki bianglala. " Hahaha.. makanya jangan sok jagoan. Trauma kan?"


" Cukup kali ini saja aku menaiki wahana itu." ujar Adrian, dirinya memandang Alisya yang menertawakannya.


" Dia kalau tertawa manis juga." pikir Adrian.


" Jadi sekarang kita istirahat dulu ya." ucap Adrian karena dia masih mabuk karena efek bianglala.


Alisya melihat penjual es krim, kebetulan sekali matahari sudah meninggi. Siang terik seperti itu, memang enak jika mereka berdua mencicipi es krim.


" Adrian, disana ada penjual es krim. Mari kita beli." ujar Alisya menarik tangan suaminya yang masih pusing.


" Pak, pesan es krim dua ya. Kamu mau rasa apa Adrian?" tanya Alisya.


" Vanila."


" Oke, vanila satu sama coklat satu ya. pak."


Mereka berdua menikmati es krim sambil berjalan. Sesekali Adrian memandang istri, Adrian begitu senang jika istrinya Alisya terlihat bahagia.


" Baguslah jika kamu bahagia." ucap Adrian dalam hati.


" Makasih ya." ucap alisya tersenyum menikmati es krimnya.


" Adrian, ada wahana bagus. Yuk, kita coba." kata Alisya menarik tangan Adrian.

__ADS_1


" Sudah cukup Al, aku udah gak kuat." teriak Adrian, dia sudah menyerah.


__ADS_2