
“Arya.. ini aku beliin kue nanti pakai camilan” kata Eve sambil meletakkan paper bag di depan Arya.
“Gak usah repot-repot mba, saya juga tidak biasa ngemil” tolak Arya halus.
Tiara dan Wisnu saling pandang kemudian kembali melanjutkan makan dalam diam. Arya yang menyadari Tiara tak seperti biasa pun akhirnya bertanya.
“Makanannya gak enak?” tanya Arya perhatian.
Tiara tersenyum kemudian menggeleng.
“Enak kok” jawab Tiara kemudian.
Eve yang melihat pemandangan itu menggerutu dalam hati. Niat ingin membuat mereka bertengkar malah dia yang harus melihat perhatian Arya pada Tiara.
“Oh iya, aku dulu gak nyangka lho kalian pacaran. Habisnya di sosmed Arya gak ada foto kalian berdua, adanya yang berempat aja” kata Eve sok akrab.
“Saya jarang maen sosmed mba” jawab Arya.
“Padahal upload foto di sosmed itu artinya kamu menunjukkan kalau kamu bangga dan cinta sama pasangan lho” imbuh Eve memanas-manasi.
Wisnu yang dari tadi diam mulai geram.
“Saya juga gak pernah upload foto pacar saya mba, berarti saya gak cinta sama pacar saya gitu ya?” Wisnu buka suara. Tentu saja dia berbohong. Karena Wisnu tipe orang yang suka mengumbar kemesraan di sosial media.
Tiara menunduk menahan tawa. Hampir saja dia tertawa lepas. Bisa-bisanya pemikiran Eve seperti anak kecil.
Eve gelagapan menjawab pertanyaan Wisnu.
“Yang tahu kamu cinta sama enggak kan kamu nu, mana aku tahu” jawab Eve kemudian.
“Nah itu pinter, bukan berarti hanya karena Arya tidak pernah upload foto Tiara itu artinya dia gak cinta kan mba?” lanjut Wisnu.
__ADS_1
Eve hanya diam tidak menjawab lagi.
“Lagian mba ada-ada aja, masak cinta sama nggak nya dinilai dari postingan di sosmed” kata Wisnu sambil geleng-geleng kepala.
“Saya jarang maen sosmed mba, bukan berarti tak cinta sama Tiara mba, cuma saya tidak suka mengumbar kemesraan di sosial media” jawab Arya kemudian dengan tersenyum sambil menggenggam tangan Tiara dibawah meja.
Tiara melihat ke arah Arya kemudian ikut tersenyum. Lagi-lagi Eve merasa geram.
“Tapi kalau memang menurut wanita memamerkan hubungan di media sosial itu penting, mungkin saya akan lebih sering mengabadikan kemesraan kami di sosmed. Selama ini Tiara tidak pernah komplain mba. Jadi kalau memang Tiara keberatan saya tidak pernah pasang foto berdua sekarang pun bisa langsung saya upload. Di galeri saya penuh isinya foto kami berdua” imbuh Arya dengan senyum lebarnya.
Tiara memukul lengan Arya pelan.
“Udah gak usah bahas itu. Malu” kata Tiara kemudian.
Arya hanya terkekeh geli.
Arya kemudian pandangi wajah Tiara dengan dalam.
“Kamu keberatan kalau selama ini aku jarang foto kita berdua?” tanya Arya serius.
“Kalau kamu keberatan… Kapanpun aku bisa upload foto kita berdua karena tidak ada perasaan wanita lain yang harus aku jaga”.
Tiara tersenyum.
“Aku tidak masalah. Karena perasaan seseorang tidak diukur dari seberapa sering seseorang memposting foto pasangannya” jawab Tiara yang semakin membuat Eve geram.
Wisnu berdehem cukup keras.
Hem.
“Ingat tempat disini banyak orang” goda Wisnu penuh maksud.
__ADS_1
Tiara dan Arya tidak menanggapi dan hanya saling melempar senyum. Ditempatnya Eve meremas celana bahan miliknya. Amarahnya sudah benar-benar naik ke ubun-ubun.
….
Tiara dan Arya sedang berada di rumah Tiara. Pulang kerja Arya saat mengantar Tiara pulang, seperti biasa Ratih meminta Arya untuk mampir. Sudah hampir seminggu Kristian tidak pulang karena kondisi Amara semakin buruk.
“Makan disini ya Arya, Mama masak banyak karena Papa kemarin bilang mau pulang. Tapi tadi Papa ngabarin kalau belum bisa pulang” kata Ratih. Ratih benar-benar sabar. Sudah terlalu sering Kristian berlaku tidak adil tetapi dia tetap bertahan demi Tiara. Tapi Ratih lupa satu hal, Tiara sudah sangat kehilangan sosok Ayahnya dari kecil karena Kristian lebih banyak menghabiskan waktunya dengan istri dan anak pertamanya.
Tiara sudah tidak terlalu sakit hati lagi. Semenjak dia mengungkapkan isi hatinya pada sang Mama, Tiara mulai belajar menerima keadaan. Dia juga tidak bisa mengulang waktu yang sudah terjadi. Tapi dia berharap suatu saat nanti ketika dia sudah memiliki anak, Dia bisa mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya untuk anaknya kelak.
Mereka bertiga sekarang tengah menikmati makan malam mereka hingga tiba-tiba saja bunyi telepon rumah terdengar di ruang keluarga. Ratih menghentikan makan malamnya sejenak untuk mengangkat telepon yang dia yakini sangat penting. Dan benar saja Kristian mengabari kalau Amara sudah meninggal dunia.
Ratih terdiam di tempat, Dia tidak mempunyai masalah dengan Amara dan tidak pernah berusaha saling berlomba-lomba mencari perhatian Kristian. Jadinya mereka selama ini tidak pernah terlibat perselisihan. Dia juga mengerti bagaimana kondisi Amara yang depresi saat hartanya yang paling berharga meninggal dunia. Amara kehilangan pijakan hidup saat Tira telah berpulang.
Arya, Tiara dan Ratih pun bergegas menuju ke kediaman Amara. Sampai disana Kristian langsung memeluk Ratih sambil menangis. Dia terus meminta maaf pada Ratih atas kesalahan fatalnya dulu.
“Maafkan Papa Ma,Papa kehilangan semuanya. Ini karma Papa karena dulu pernah nyakitin perasaan Mama” kata Kristian dengan terisak.
Ratih mengelus punggung suaminya.
“Ini sudah takdir yang di atas. Ini bukan salah Papa” kata Ratih berusaha menguatkan suaminya.
…
Satu bulan berlalu sejak berpulangnya Amara. Kristian masih belum bisa merelakan, bagaimanapun Amara adalah istri pertamanya. Istri yang sangat dia cintai. Karena Amara dia rela membohongi kedua orang tuanya.Dia rela menikah diam-diam karena menolak perjodohannya dengan Ratih. Tapi siapa sangka sekarang dia kehilangan anak dan istrinya. Kristian baru menyadari kalau selama ini dia berlaku tidak adil dan itu berimbas pada putrinya Tiara. Tiara tidak pernah meminta apapun padanya dan bodohnya dia tidak pernah sadar akan hal itu.
Saat Tira SMA, Kristian sudah membelikan putri pertamanya itu mobil. Sedangkan Tiara tidak dia belikan dan tidak pernah meminta apapun. Begitu pun saat Tira kuliah, Kristian tidak memperbolehkan putrinya untuk bekerja, semua biaya kuliah dia yang tanggung. Sedangkan Tiara, dia kuliah dengan jerih payah sendiri, beberapa kali Kristian hendak memberikan uang saku pada anaknya itu tapi Tiara selalu menolak dengan alasan ingin mandiri.
Sekarang Kristian sadar kalau Tiara merasa tertekan, dia merasa tidak disayang dan selalu menjadi nomor dua. Padahal Kristian tidak pernah bermaksud seperti itu. Dia menyayangi kedua putrinya sama rata. Penyesalan hanya bisa menjadi penyesalan karena penyesalan datangnya selalu terlambat.
Kristian tengah duduk bersandar di tempat tidur bersama Ratih.
__ADS_1
“Papa gagal menjadi orang tua. Papa tidak pernah mengerti perasaan putri Papa sendiri” sesal Kristian masih menyalahkan diri sendiri. Bukan tanpa alasan dia mengatakan itu. Dia tanpa sengaja mendengar pembicaraan Tiara dan Arya saat pemakaman Amara. Disana Arya memeluk tubuh Tiara yang menangis. Tiara berkata tetap menyayangi Amara walau dia kerap kali merasa kalau Kristian lebih menyayangi Amara dan Tira dibandingkan Ratih dan dirinya.
Bersambung...