
Tiara dan Arya yang awalnya akan mengunjungi lokasi usahanya pun mengurungkan niatnya. Tiara dan Papanya kemudian duduk di teras rumah berdua saja. Mereka akan menyelesaikan kesalahpahaman yang selama ini terjadi.
Kristian meraih tangan anaknya kemudian menggenggamnya erat.
“Papa minta maaf ya Tiara. Papa tau Papa sudah sangat bersalah padamu. Ijinkan Papa untuk menebus semua kesalahan Papa" ucap Kristian dengan wajah sendunya.
Tiara tidak menjawab. Pandangannya pun lurus ke depan memandang kendaraan yang lalu lalang di depan rumahnya.
"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan dari dulu pada Papa" ucap Tiara lagi-lagi tanpa melihat ke arah Ayahnya.
"Apa itu nak?" Ucap Kristian menunggu pertanyaan Tiara.
"Papa kan dari awal tidak mencintai Mama, kenapa Papa bertahan? Apa karena Mama mengandung Aku? Karena tanggung jawab Papa pada ku?" Tuntut Tiara.
Kristian menggeleng dengan cepat.
"Papa sangat mencintai Mama mu nak, Papa tidak bisa berpisah dari nya. Bahkan saat Mama Amara meminta Papa untuk memilih menceraikan Mama mu atau dia tidak akan" Kristian menjeda ucapannya karena sampai sekarang Ratih pun tidak tau tentang ini.
__ADS_1
"Akan apa Pa?" Tuntut Tiara karena Papanya cukup lama tidak melanjutkan ucapannya.
Kristian menghela nafas berkali-kali.
"Hubungan Papa dengan Mama Amara tidak seperti yang kalian pikirkan, Papa dan Mama Amara sudah pisah kamar bahkan sebelum kamu lahir" ucap Kristian akhirnya mengungkapkan segalanya. "Dan itu karena Papa bersikeras tidak mau berpisah dengan Mama mu. Karena Papa mencintai Mamamu Tiara" .
Deg.
Ratih yang menguping di balik pintu begitu terkejut mendengar ini semua.
Tiara pun sama terkejutnya.
"Tira sering merasa iri dan cemburu padamu, dia merasa kesepian karena tidak mendapat kasih sayang dari Mamanya. Amara menutup diri dan stress. Amara depresi karena Papa Tiara, Papa merasa bersalah. Setiap ada kunjungan wali murid Amara tidak bisa datang ke sekolah karena keadaannya yang memang tidak memungkinkan. Dan Papa tidak mungkin menelantarkan Tira juga sama seperti Amara karena hanya Papa yang dia punya. Maafkan Papa nak. Tapi Papa sayang kalian berdua. Kalian buah hati Papa" ucap Kristian sambil membelai wajah putrinya.
Tanpa sadar air mata Tiara terjatuh. Ini pun memang kesalahannya. Dulu dia tidak pernah menuntut penjelasan karena lebih percaya kesimpulannya sendiri kalau Kristian lebih menyayangi Tira daripada dirinya.
Melihat putrinya menangis membuat Kristian membawa Tiara ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Maafkan Papa Tiara. Papa memang bukan Ayah yang baik. Papa sering ingkar janji padamu. Papa minta maaf" ucap Kristian yang sudah sama-sama menangis seperti Tiara.
Di dalam rumah Ratih pun ikut menangis. Dia keluar dan ikut berpelukan dengan anak serta suaminya.
"Mama yang salah Tiara, Mama harusnya menjelaskan kenapa Papa sering membatalkan janjinya. Mama yang salah" ucap Ratih yang sudah terisak.
Jadilah keluarga itu saling menangis dan menyalahkan satu sama lain.
"Kenapa Papa tidak pernah cerita kalau selama ini Papa pisah kamar dengan Mbak Amara?" Tanya Ratih menuntut penjelasan suaminya.
"Kalau kamu tau alasannya pasti kamu akan meminta berpisah sedangkan kamu tau sendiri aku tidak bisa berpisah denganmu Ratih. Aku sangat mencintaimu" ucap Kristian sambil menggenggam kedua tangan istrinya.
Ratih semakin terisak, dia tidak pernah menyangka kalau Kristian sampai bertindak sejauh ini dan merahasiakan semua ini darinya.
Kristian bangkit dari duduknya kemudian memeluk erat tubuh istrinya.
"Papa mencintai Mama, Papa rela hidup seperti ini asal bisa tetap bersama Mama" ungkap Kristian.
__ADS_1
Tiara menyeka air matanya, ternyata dia salah sangka selama ini. Papanya ternyata begitu mencintai Mamanya.
Bersambung...