
Alisya menjelaskan bisnis yang akan dikerjakannya bersama bunga. Bunga menyetujui hal itu, menurutnya itu justru bagus menambah aktivitas Alisya sebagai istri bahkan untuk dirinya agar bisa mengekspor ilmu yang selama ini dia dapatkan di bangku kuliah. Dafa yang juga mendengar rencana bisnis, juga menyetujui ide bisnis dari Alisya.
" Al, jika kamu butuh bantuan fotografer untuk memfoto barang bisnis mu, aku siap membantu." ujar Daffa tersenyum menatap gadis yang dicintainya itu.
" Siap kak." Kata Alisya.
Alisya dan bunga sepakat akan mencari tahu bisnis apa yang akan mereka sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
" Al, alangkah baiknya bisnis yang kita jalanin ini sesuai dengan tren anak muda sekarang." ujar bunga memberikan saran bisnis apa yang akan mereka buat.
" Ide yang bagus juga. Bagaimana trend fashion saja, setidaknya anak remaja sekarang suka banget dengan penampilan ala Korea gitu." kata Alisya.
" Bagus Al, itu juga menarik. Kebetulan aku juga Kpop gitu. Jadi lumayan tahu lah aku fashion Korea yang terkenal dan sesuai dengan musim di negara kita."
" Baiklah, aku akan bicarakan dengan ibuku. Kebetulan ibu juga punya bisnis fashion. Setidaknya berguru dulu sebelum memulai."
Bunga mengangguk menyetujui perkataan Alisya. Mereka bertiga kembali mengobrol untuk mengobati rasa rindu setelah sekian lama tidak nongkrong bersama.
Tidak terasa obrolan mereka memakan waktu yang cukup lama. Hari yang tadinya terang, kini sinarnya mulai redup. Menandakan jika hari sudah mulai sore, Alisya teringat jika Adrian pasti akan segera pulang ke rumah.
" Aku harus pulang, Adrian bentar lagi akan pulang." ujar Alisya.
Bagas yang sedari tadi bekerja, sekaligus menggantikan tugas bunga mendekati mereka bertiga. " Pulang gih! menghabiskan waktu bunga saja. Sedari tadi ngobrol terus." Ujar Bagas kesal sebab dia harus mengantikan tugas bunga yang biasanya membantunya melayani pelanggan.
Alisya yang melihat Bagas pun menyapa. " Hai kak."
Bagas hanya tersenyum, lalu menatap bunga. Alisya sedari tadi belum mengetahui jika bunga bekerja di cafe yang dirinya kunjungi ini.
__ADS_1
" Emangnya bunga gak boleh ngobrol bareng kita?" tanya Alisya bingung dengan maksud Bagas.
" Bukan begitu, sedari tadi ngobrol gak ingat waktu. Padahal masih jam kerja." ujar Bagas merasa kesal karena sejak tadi dirinyalah yang harus bekerja melayani pelanggan yang datang.
Alisya akhirnya tahu jika bunga bekerja di cafe ini. Kenapa bunga tidak cerita tentang hal itu kepadanya? Padahal mereka berdua sudah bersahabat lama dengannya.
" Kamu kok gak kasih tahu aku sih!" ujar Alisya merasa cemburu karena tidak diberitahu soalnya bunga yang bekerja di cafe yang sering mereka berdua kunjungi.
" Maaf Al, bukannya gak mau kasih tahu. Tapi aku ngerasa galau banget semenjak putus dari Aril. Aku ngerasa kesibukan ku di kuliah gak mengubah apapun akhirnya aku memutuskan bekerja setidaknya untuk mencari kesibukan lain, itung-itung untuk membantu ibu biayain kuliah." ujar bunga menjelaskan sebelum Alisya salah paham padanya.
Dafa menghela nafas, dia tahu Bagas memang mencari perhatian. Padahal tadi dirinya sudah mengatakan akan membayar jam kerja bunga, supaya gadis itu menemaninya mengobrol.
" Sudahlah, tadi aku sudah bilang akan membayar jam kerja bunga. Jadi bunga berhak disini lama-lama dengan aku dan Alisya." ujar Dafa.
" Kalau kurang biar aku nambah." ujar Alisya menimpali sebab dia juga merasa tidak enak karena hanya Dafa yang membayar jam kerja bunga padahal dirinya juga lebih banyak mengobrol dengannya.
" Gak perlu, aku saja yang bayar. Lebih baik kamu pergi sana! Layani tuh! para pelanggan yang baru datang." ujar Dafa terkekeh, dia memang sengaja begitu kepada Bagas. Soalnya Bagas memang sengaja mengganggu mereka bertiga.
Lagi-lagi Bagas kembali mendekati mereka hanya sekedar mengucapkan, "Nasibnya punya teman yang sudah bersuami baru saja datang gak berlangsung lama pulang." dengan ekspresi seolah mengejek Dafa dan bunga.
Dafa tidak ambil pusing dia lalu membalas perkataan Bagas, "Berhentilah mencari perhatian.
" O yah, hari sudah malam. Kamu kerjanya part time, kan? Jadi jam kerjamu sudah habis." ujar Dafa mengingatkan jika bunga sudah harus selesai bekerja.
" Iya kak, aku harus siap-siap mau pulang."
" Pas banget! aku juga mau pulang. Biar aku antar saja." ucap Dafa melirik kearah Bagas. Dia sengaja memanas-manasi sahabatnya itu. Sedangkan Bagas hanya menatap Dafa tajam. Dia tidak bisa mencegah bunga, toh jam kerja bunga sudah selesai dan dia tidak mungkin meminta bunga untuk menunggunya sejenak.
__ADS_1
Bunga berdiri mendekati Bagas, yang tengah berdiri menyandarkan dirinya di kasir.
" Kak, aku pamit pulang ya. Jam kerja ju udah selesai." ujar bunga berpamitan. Bunga berjalan beriringan dengan Dafa keluar dari cafe. Sedangkan Bagas hanya bisa diam dan menatap kepergian mereka dengan tak rela, bunga harus pulang bersama dengan Dafa.
Alisya sudah sampai di rumah, lampu rumah sudah menyala. Berarti Adrian sudah pulang duluan sebelum dia. Adrian keluar dari kamar, dengan handuk untuk mengeringkan rambutnya.
" Kamu baru pulang ya, Al. Kenapa lama banget?" tanya Adrian, karena selama ini setiap Adrian pulang kerja Alisya sudah berada di rumah. Jadi melihat Alisya pulang telat darinya, merasa tidak seperti biasa.
" Kamu maklumi saja. Namanya juga ketemu sama sahabat terkadang kalau ngobrol suka lupa waktu. Maaf ya, udah telat pulang." ujar Alisya yang merasa bersalah.
" Gak usah merasa bersalah begitu. Nanti juga kalau kamu punya bisnis pasti akan pulang telat juga dari aku. Itung-itung belajar ya, membiasakan diri kalau kamu pulang telat." ujar Adrian yang menggosok rambutnya dengan handuk.
Alisya tertawa mendengar perkataan, "Apa yang harus dipelajari dengan aku pulang telat dari kamu?" tanya Alisya yang merasa lucu dengan ujaran suaminya.
" Ada dong!" ucap Adrian berjalan ke dapur diikuti oleh Alisya dari belakang.
" Taraaa! Makan malam sudah siap." ucap Adrian berdiri layaknya pelayan yang memperlihatkan makan malam yang sudah disiapkannya di meja makan.
Alisya terkejut, melihat Adrian mempersiapkan itu semua, biasanya dirinya yang menyiapkan sebelum suaminya pulang. Dia tidak menyangka jika Adrian juga mau membagi pekerjaan semacam itu dengannya.
" Hebat, kan aku sebagai suami." ucap adrian membanggakan dirinya dengan melipatkan kedua tangannya di dada dengan ekspresi sombong.
Alisya tersenyum menatap suaminya itu. Alisya berjalan mendekati suaminya. Tangannya terangkat menyentuh pipi suaminya itu.
" Makasih ya suamiku." ucap Alisya tersenyum.
Wajah Alisya yang begitu dekat dengannya dengan senyuman manis itu membuat Adrian yang tadi sok menyombongkan diri. Tiba-tiba berubah menjadi salah tingkah, ditambah sentuhan tangan halus Alisya di pipinya. Takut jika Alisya menyadarinya, Adrian segera menyuruh istrinya itu untuk mandi.
__ADS_1
" Eum, bau! Mandi sana! Pakaian mu itu dari tadi siang belum diganti." ucap Adrian menutupi hidungnya dengan tangan kanannya seoalah badan Alisya bau. Padahal dia mencoba menutupi wajahnya yang salah tingkah.
Alisya berhenti menyentuh pipi suaminya itu, dengan wajah cemberut berkata, " Sok-sokan bilang aku bau, biasanya aku gak mandi pun kamu tetap nyosor."