
Adrian kini semakin sibuk dengan pekerjaannya, apalagi dirinya dan Bella akan menangani proyek besar untuk perusahaannya. Maka tidak jarang Adrian harus sering berbarengan dengan Bella kemanapun dirinya pergi dalam urusan pekerjaan. Karena pekerjaan yang belum selesai, padahal jadwal untuk mempretasikan proyek itu akan dilaksanakan besok pagi. Namun banyak dokumen yang belum disediakan untuk, bahwa ppt untuk presentasi juga belum dikerjakan. Dengan terpaksa, Adrian harus lembur malam ini di kantor bersama dengan Bella, bukan hanya Bella tetapi juga ada dua karyawan yang akan membantu mereka malam itu. Karena direncanakannya mendadak, Adrian tidak sempat pulang ke rumah. Dia hanya bisa menghubungi Alisya istrinya untuk sekedar bilang jika malam ini dia akan lembur bekerja.
Alisya sudah berada di rumah sejak sore, sudah tidak khawatir dengan Adrian yang pulang larut malam. Dia bahkan tidak lagi menunggu suaminya jika dirinya sudah merasa ngantuk. Alisya sudah memaklumi semuanya dan mencoba memahami jika itulah pekerjaan dari suaminya. Namun malam ini, sudah hampir jam 11 malam sang suami masih belum pulang. Alisya mencoba berpikir positif mungkin Adrian masih sibuk dengan pekerjaannya. Saat dirinya tengah asyik melihat pakaian bayi yang lucu di akun online shop diponselnya, tiba-tiba saja berdering. Terlihat nama sang suami tertera disana. Alisya mengangkat telpon itu, mungkin ada kabar penting yang membuat Adrian telat pulang malam ini.
" Hallo.. Adrian.. ada apa?" Tanya Alisya saat sudah mengangkat telfon dari suaminya.
" Al, maaf. Malam ini aku gak bisa pulang ke rumah. Besok pagi kami harus mempresentasikan proyek kami di depan ayah dan klien. Makanya malam ini aku harus begadang untuk ngurusin semuanya, agar besok tidak keburu saat presentasi." Ujar Adrian di dalam telfon.
" Oh.. Tapi.." ucapan Alisya dipotong oleh suara telfon dari Adrian.
" Kamu gak usah khawatir, aku gak sendirian, ada Bella yang akan membantu mungkin pekerjaan gak akan sampai pagi. Palingan jam 2 atau 3 aku akan pulang ke rumah. Kamu gak apa-apa, aku tinggalkan sendirian di rumah? Kalau takut minta tolong Bunga atau mama untuk temani kamu di rumah. Kalau begitu aku tutup dulu telfonnya." Ujar Adrian menutup teleponnya tanpa mendengar satu katapun yang keluar dari mulut istrinya.
Mendengar nama Bella yang lagi-lagi disebut suaminya. Alisya yang cemburu kembali dicemburui. Meski berulang kali mencoba untuk berpikir positif jika ini hanya soal pekerjaan antara bosa dan sekretaris. Alisya meletakkan ponselnya dimeja samping kasur, menarik nafas pelan sambil melihat atap kamar yang terang akibat cahaya lampu. Mencoba menenangkan pikirannya untuk tidak berpikir macam-macam akan keberadaan Adrian bersama sekretarisnya di dalam kantor berdua.
" Ya.. mereka cuma bekerja untuk presentasi besok." Ucap Alisya sendirian seoalah kalimat itu menjadi penguat agar pikiran tidak merujuk kebayangan aneh yang mungkin saja akan menyakiti perasaannya.
__ADS_1
Alisya memejamkan matanya, mencoba untuk tidur sambil mengelus perutnya yang sudah membesar itu. Namun, semakin dia terhanyut dalam tidur, pikiran negatif serta bayangan Adrian bersama Bella terbayang dipikirannya. Alisya membuka matanya, tak sanggup bagi dirinya untuk membayangkan itu terjadi. Alisya mengelus perut besarnya, mencoba untuk menarik napas lalu menghembuskan pelan.encoba menenangkan dirinya untuk tidak termakan akan ekspetasi yang dibuatnya. Tetapi, karena dirinya terlanjur takut akan pikiran negatifnya, Alisya memutuskan untuk menghubungi suaminya. Setidaknya hanya menghubungi tanpa bicara pun tak masalah, yang penting dirinya bisa melihat bahkan mendengar apa yang sedang suaminya lakukan bersama sekretarisnya.
Alisya mencoba menghubungi namun tak kunjung diangkat oleh Adrian. Apa sesibuk itu? Bahkan telepon dari istrinya saja, Adrian terlihat begitu enggan untuk mengangkat. Padahal niat Alisya bukan untuk mengganggu tetapi hanya untuk tahu, agar dirinya tidak merasa cemburu atau berpikir yang macam-macam akan suaminya yang sedang bekerja dengan Adrian.
Adrian tengah sibuk melihat dokumen, sesekali dia memanggil Bella untuk membantunya. " Bell, menurutmu apa kita gunakan isi dari dokumen untuk menambah sumber untuk aku dalam persentase besok?" Tanya Adrian meminta pendapat sekretarisnya itu.
" Alangkah baiknya, kita buat langkah serta cara kerja untuk proyek ini. Biar klien serta bisa besar tahu cara kerja dalam membangun proyek besar ini pak, untuk dokumen ini dibiarkan saja untuk menambah saja." Saran Bella.
Adrian mengerti, dia meletakkan dokumen itu diatas mejanya. Adrian lalu menuju ke beberapa tumpukan dokumen di rak yang berisikan dokumen-dokumen kerjanya untuk melihat dokumen apalagi yang akan mereka butuhkan. Bella yang sedari tadi berdiri di meja kerja Adrian, melihat ponsel Adrian berdering. Tertera nama istriku disana, bukannya memanggil Adrian jika ada telepon dari istrinya. Bella malah justru membiarkan, entah apa yang merasuki pikiran Bella malam ini. Dia seolah tidak ingin Adrian tahu jika baru saja istrinya itu menelpon. Bella berjalan mendekati Adrian, berniat membantu untuk mencari dokumen yang akan mereka perlukan untuk besok. Sedangkan kedua karyawan yang membantu tengah sibuk, menyiapkan salinan dokumen untuk perencanaan proyek mereka.
" Gak perlu, biar aku sendiri saja. Aku siapkan saja power point untuk besok.. Kita bagi tugas buat bisa cepat selesai, supaya kita cepat pulang dan beristirahat sebelum presentasi." Ujar Adrian menolak tawaran Bella.
Bella akhirnya bergabung dengan sua karyawan itu, dia mulai kembali bekerja mengedit powerpoint untuk presentasi besok. Tiba-tiba salah satu karyawan wanita bernama Laras mulai merasa ngantuk, dia akhirnya mengusul untuk diputarkan kopi untuk menemani mereka bekerja malam ini.
" Ide bagus, aku sedari tadi sudah mengantuk." Ujar salah satu karyawan bernama Yoga.
__ADS_1
" Baiklah, aku akan pergi memesan kopinya." Ujar Laras.
" Kamu sendirian? Alangkah baiknya Yoga menemani mu." Kata Bella merasa kasihan jika Laras harus sendirian memesan kopi untuk mereka, apalagi Laras adalah wanita, lebih baik dirinya ditemani oleh seorang pria.
" Gak apa-apa.. biar aku sendiri saja. Toh, di ruang pantry kayaknya ada kopi deh. Aku tinggal putar saja tanpa harus memesan." Ujar Laras.
Laras berjalan mendekati bosnya Adrian, dia juga inginkan menawarkan apakah bosnya itu juga bersedia untuk diputarkan kopi olehnya. " Maaf pak, apa bapak mau aku putarkan kopi juga? Untuk menemani kerja kita malam ini." Saran Laras saat sudah berada dekat dengan bosnya.
" Boleh." Ucap Adrian.
Laras lalu berlalu menuju pantry kantor. Dia melihat di atas meja apakah kopi masih ada atau tidak. Syukurlah masih ada kopi yang cukup untuk mereka berempat, segera dia panaskan air untuk memutar kopi. Setelah kopi sudah diputar segera dia membawa kopi dengan mapan menuju ke kantor bosnya. Dia segera meletakan kopi untuk Adrian diatas meja kerjanya, sedangkan untuk mereka bertiga diletakkan dimeja tempat mereka bekerja. Karena kurang hati-hati tak sengaja Adrian menumpahkan kopi mengenai kemejanya. Mereka bertiga begitu terkejut mendengar teriakkan Adrian.
" Bapak, maafkan aku.." ucap Laras segera meminta maaf karena dirinya yang menaruh kopi di atas meja Adrian.
" Gk masalah. Aku ketoilet dulu." Ujar Adrian segera pergi.
__ADS_1
Lagi-lagi ponsel berdering, Alisya kembali menelpon Adrian. Bella tanpa rasa takut mengambil ponsel Adrian dan mengangkat telponnya.