
Bunga sudah mendapatkan alamat pertemuan mereka dengan Bagas. Dimana Bagas sudah mengirim lokasi pertemuan mereka. Alisya sudah bersiap-siap untuk keluar bertemu dengan klien mereka itu.
" Bagaimana? kamu udah dapat lokasi pertemuan kita?" tanya Alisya sambil mengolesi bedak di wajahnya.
" Sudah kok Al, aku mandi dulu. Nanti kita kesana jam 10. Kebetulan masih j setengah 9 masih ada waktu untuk siap-siap." ujar bunga mengambil handuk di kopernya.
" Okelah, kamu harus cepat-cepat, biar kita bisa sarapan sebelum berangkat." ujar Alisya.
" Siap." ucap bunga memasuki kamar mandi.
Adrian ternyata juga check in di hotel yang sama dengan Alisya. Sebenernya dia punya apartemen, namun melihat ada Alisya yang juga ke Surabaya. Adrian memutuskan ikut check in hotel yang sama dengan Alisya. Adrian siap-siap untuk berangkat bertemu dengan Bagas. Kebetulan Bagas sudah mengirim lokasi untuk dijadikan tempat pertemuan mereka. Adrian melewati kamar hotel Alisya, nampaknya gadis itu belum keluar dari kamar hotelnya. Adrian melihat jam di tangannya. Dia masih berdiri didepan kamar hotel Alisya. Tetapi belum ada tanda-tanda kamar hotel itu dibuka. Adrian mulai berpikir jika istrinya mungkin sudah di restoran untuk sarapan. Adrian memutuskan untuk ke restoran di hotel itu. Setidaknya dia bisa melihat Alisya meski dari jauh. Namun, sesampai disana ternyata gadis itu tidak ada.
" Ternyata Alisya belum keluar dari kamar hotelnya." ujar Adrian melihat kesekitar restoran di hotel itu.
Tak berselang lama, saat Adrian tengah duduk sambil memesan makanan untuk sarapan. Alisya, istrinya baru saja tiba di restoran bersama dengan bunga. Adrian memandang gadis itu, sudah lama bahkan sekian lamanya dia tidak melihat istrinya. Gadis itu masih tetap sama, terlihat cantik dengan riasan tipis di wajahnya.
" Alisya, aku merindukanmu." gumamnya.
" Maaf pak, bapak tadi mau bicara apa?" tanya pelayan restoran yang kebetulan menunggu menu pesanan yang mau dipesan oleh Adrian.
Suara dari pelayan itu membuyarkan lamunan Adrian yang terus memandangi Alisya. "Ah, tidak apa-apa. Aku mau pesan menu sarapan yang ini. Nasi goreng saja." ucap Adrian.
" Untuk minumnya?" tanya pelayan.
" Air putih dingin ya." jawab Adrian.
" Baiklah. Kalau begitu bapak tolong tunggu sebentar ya." ucap pelayan tersenyum.
__ADS_1
Saat pergi pelayan itu bergumam, "Pesanan macam di warteg aja."
Adrian kembali memandangi Alisya, wajah ditutupi oleh buku menu di restoran itu. Dari jauh Alisya terlihat sudah mulai sembuh dari luka dihatinya Gadis itu nampak mengobrol bahkan sesekali tersenyum.
" Senyuman itu... Senyuman yang sangat ku rindukan." gumam Adrian yang matanya menatap lekat gadis itu.
Tidak berselang lama, pelayan kembali datang membawakan menu sarapan untuk Adrian. "Ini pak, nasi gorengnya dengan air putih dingin, kan?" kata pelayan sambil meletakkan menu makanan yang dipesan Adrian dimeja.
Lagi-lagi pelayan itu, membuyarkan aksinya yang menatap Alisya secara diam-diam. Adrian menurunkan buku menu restoran itu dengan meletakkan kembali di mejanya. " Terima kasih." ucap Adrian tersenyum.
Pelayan yang sedari tadi melayaninya, mulai penasaran dengan tindakan dari Adrian. Karena sedari dia memperhatikan, Adrian terlihat diam-diam memperhatikan seorang gadis yang tengah duduk tak jauh darinya.
" Pak, apa bapak perlu bantuanku?" tanya pelayan menawarkan diri untuk membantu Adrian agar bisa dekat dengan gadis yang dia pandangi sejak tadi.
" Ah, apa maksudmu?" tanya Adrian tidak mengerti.
" Tidak perlu." ucap Adrian menolak.
" Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu." ujar pelayan itu berlalu.
Adrian menu pesanan itu, teringat menu ini yang sering Alisya buatkan untuknya setiap sarapan pagi. Entah kenapa Adrian terlihat galau seharian ini. Bahkan semalam dia tidak bisa tidur, dan justru malah bolak balik sekedar melihat kamar hotel Alisya. Melihat siapa tahu gadis itu keluar dari kamar hotelnya. Melihat menu sarapannya pun, membuat Adrian merindukan masakan Alisya. Saat Adrian mencicipi nasi goreng itu, Adrian justru merasa jika nasi goreng buatan Alisya lebih enak.
" Al, aku benar-benar merindukanmu." gumamnya sambil mengunyah nasi gorengnya.
" Al, kamu mau sarapan apa?" tanya bunga sambil melihat buku menu restoran itu.
" Nasi goreng aja. Entah kenapa jadi pengen nasi goreng." jawab Alisya.
__ADS_1
" Baiklah. Mbak kita pesan nasi goreng satu sama soto ayam ya." ujar bunga tersenyum kepada pelayan.
" Wah, pesanannya mbak ini mirip sama bapak yang disana." ujar pelayan yang merupakan pelayan dari Adrian menunjuk ke arah Adrian.
Bunga dan Alisya menoleh, untuknya mereka hanya melihat Adrian dari belakang. Karena Adrian saat itu tengah mengenakan topi. Jadi bunga tidak tahu siapa pria itu, sedangkan Alisya memicingkan matanya seolah dia seperti mengenal pria yang ditunjuk oleh pelayan ini.
" Oh gitu.. namanya orang bisa saja seleranya sama." ujar bunga sambil tersenyum.
" Aku pikir mbak berdua kenal sama dia." ujar pelayan.
" Tidak mbak, kita tidak kenal." ucap bunga.
" Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu. Dimohon tunggu sebentar ya." ucap pelayan berlalu.
Mata Alisya masih memandang pria yang sedang memakan itu. Bunga melihat Alisya yang tak berhenti memandang akhirnya bertanya, " Al, kamu mengenalnya?"
" Ah! Sepertinya. Dari belakang pria itu seperti tidak asing menurut ku." ujar Alisya.
" Kalau dari belakang sih, pasti banyak punggung orang yang sama." ucap bunga.
" Mungkin." ucap Alisya.
Alisya merasa jika pria itu mirip seperti Adrian. Apa jangan-jangan Adrian juga berada di Surabaya? Tetapi kenapa Adrian berada di hotel, seharusnya dia tinggal di apartemen sebab Adrian memiliki apartemen sendiri di Surabaya.
Gara-gara pikirannya yang selalu bertanya-tanya tentang Adrian. Membuat dia kembali menyadari jika sudah lama dirinya tidak bertemu dengan Adrian. Bahkan pria itu tidak pernah datang menemuinya. Mungkin Adrian memang tidak ada rasa lagi dengannya. Makanya pria itu tidak pernah bertemu atau mencari Alisya lagi. Adrian mungkin sudah bahagia. Tetapi kenapa Tania menemuinya. Mungkin saja Tania hanya ingin meminta maaf atau mungkin saja Tania ingin berterima kasih kepada Alisya. Jika benar begitu, Alisya harus menyadari bahwa tidak ada hati untuk dirinya dari Adrian. Atau secepatnya Alisya harus mengurusi surat cerai mereka. Percuma jika dirinya mempertahankan karena hubungan mereka sudah tidak bisa lagi dipertahankan.
Alisya tahu dirinya pasti bersikap kurang ajar kepada orang tuanya. Sebab pernikahan dia dan Adrian karena keinginan dari kedua orang tua mereka. Alisya juga tidak berbohong, dia juga menginginkan karena dia juga mencintai Adrian. Tapi cinta memang tidak bisa dipaksa. Tetap saja Adrian akan memilih bersama Tania, meski Alisya sudah berusaha untuk mengejar cinta Adrian.
__ADS_1