Mengejar Cinta Mu

Mengejar Cinta Mu
Bab 107


__ADS_3

Hari pernikahan yang dinantikan pun telah tiba. Tania menggandeng tangan Dafa berjalan menuju setelah selesai mengadakan ijab kabul. Alisya dan Adrian termasuk yang duduk satu meja berdiri menyambut kedua pengantin yang berjalan beriringan dengan penari yang menyambut kedatangan mereka. Hiruk pikuk tepuk tangan dari pada tamu undangan membuat suasana semakin rame. Tania tersenyum manis kepada semua tamu yang hadir diacara pernikahannya. Alisya tidak lupa mengambil saat Tania dan Dafa berjalan ke altar. Alisya turut bahagia.


Sesi pengucapan selamat kepada pengantin sudah dimulai, Alisya dan Adrian mengantri untuk bisa berfoto bahkan memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua. Kini giliran mereka berdua telah tiba, " Selamat ya kak Dafa dan Kak Tania." Ucap Alisya dengan penuh haru.


" Iya, makasih ya udah datang dan gaunnya juga." Ujar Tania membuat Alisya tersenyum malu.


" Selamat ya untuk kalian berdua." Ucap Adrian.


Setelah itu fotografer membuat momen diantar mereka, senyum tawa dan haru tercipta disana.


Bunga tengah memilih makanan mana yang akan di makannya, " Enakan yang mana ya?"


" Yang ini saja, rekomendasi dari ku enak tahu."


Bunga menoleh dia tahu betul suara itu. Dan Bunga tersenyum saat melihat orang itu. " Udah lama ya?"


" Kak Bagas." Ucap Bunga.


Mereka berdua pun berpelukan melepaskan rasa rindu yang sudah lama tidak bersua. Bagas melihat wajah Bunga, rasanya sudah lama wajah itu tidak pernah dia lihat. Wajah Bunga mulai kurusan, berbeda dari terakhir mereka bertemu. " Bagaimana dengan skripsinya?"


" Udah di ACC kok sama dosen, tinggal naik ujian aja."


" Benarkah! Selamat ya." Ucap Bagas memberikan selamat kepada Bunga.


" Jangan dulu, belum juga ujian."


" Pasti deg-degan ya." Ujar Bagas menggoda Bunga.


" Itu mah sudah pasti. Tapi aku yakin kok, aku sendiri yang mengerjainya jadi aku lumayan gak takut sih jika pertanyaannya nanti mengenai isi dari skripsiku." Ujar Bunga.


" Semangat ya. Eum.. nanti pulang sama siapa?"


" Tadi aku kesini dengan Alisya dan suaminya. Soalnya gak bagus kelihatannya jika pake gaun membawa motor. Jadi aku minta barengan deh."


" Eum...mau pulang bareng aku?" Tanya Bagas dengan malu-malu.


" Boleh." Jawab bunga tersenyum.


Pernikahan telah usai, Alisya dan Adrian pulang berdua karena Bunga diantar pulang oleh Bagas. Mereka berdua telah sampai di rumah, Alisya segera melepaskan high heelsnya dengan sedikit memijit kakinya.


" Kenapa? Sakit?" Tanya Adrian.


" Iya nih. Mungkin karena jarang mengenakan high heels makanya sakit." Ujar Alisya.

__ADS_1


" Sini, aku bantu pijitin." Adrian melepaskan jasnya, lalu duduk mengangkat kaki Alisya lalu diletakkan di pahanya sambil memijit kaki Alisya.


" Ah! Aku lupa. Ada kado yang ingin aku berikan untukmu."


" Kado?"


" Sabar ya." Alisya lalu menuju ke kamar, mengambil kado kecil di laci meja riasnya. Alisya lalu memberikan kado itu kepada Adrian.


" Apa ini?" Tanya Adrian.


" Bukalah." Ucap Alisya.


Adrian membuka kado itu, dan ternyata isinya adalah tespeck lalu saat dilihat oleh Adrian ternyata tespeck itu terdapat garis dua.


" Kamu hamil?" Tany Adrian tak percaya.


Alisya mengangguk tersenyum. Sebuah pelukan yang didapatkan Alisya, Adrian tak lupa mencium kening istrinya. Tak disangka, istrinya tengah mengandung anaknya. Adrian sangat bahagia rasanya ini adalah kado terindah dari Tuhan untuk mereka berdua.


Adrian mungkin sangat bahagia, namun tidak dengan Alisya dia bahagia jika Adrian bahagia. Tetapi, dilubuk hatinya ada sedikit keraguan akan kehadiran anaknya. Alisya takut jika kasih sayang Adrian akan terbagi nantinya. Dia seolah belum bisa mengikhlaskan itu, karena Alisya begitu mencintai suaminya. Sengaja Alisya memberi kejutan, dia ingin tahu reaksi Adrian. Tak terduga Adrian begitu ingin menyambut kehadiran buah hatinya.


" Ada apa?" Tanya Adrian saat melihat ekspresi Alisya yang namanya tidak bahagia.


" Gak apa-apa."


" Gak ada, hanya saja aku berpikir kamu terlihat cantik hari ini."


" Emang aku cantik." Ucap Bunga dengan pedenya.


" O iya, kamu suka KPop kan?"


" Kok kamu tahu?" Selama dekat dengan Bagas bahkan pernah menjadi karyawan di cafenya Bagas. Bunga tidak pernah menceritakan apa yang ia sukai kepada Bagas.


" Aku tahu dari Tania dan Dafa. Sudah lama sih." Ujar Bagas.


" Aah.. Iya.."


" Eum.. KPop mana yang kamu suka?" Tanya Bagas sekedar ingin basa basi.


" Seventeen. Biasku Jeonghan.. Tapi semenjak kuliah aku jadi jarang gitu. Tapi aku masih suka kok sama lagu mereka." Jawab Bunga.


" O gitu.. Katanya akan ada konser seventeen di Jakarta."


" Soal itu aku udah tahu. Tapi karena persiapan skripsi jadi telat beli tiket, keburu habis. Maklum saja sekarang marak yang suka."

__ADS_1


" Iya sih. Sebelum aku antar sampai rumah, singgah ke warung dulu yuk. Lagi pengen nasi Padang." Usul Bagas karena ingin lebih lama dengan Bunga.


" Boleh." Ucap Bunga.


Malam pertama bagi Tania dan Dafa, meski dulu saat mereka menjalani hubungan sulit bagi Dafa untuk membuka hatinya untuk Tania. Namun demikian Tania tidak menyerah bahan bertindak jahat seperti dulu dirinya tetap sabar. Hingga pertemuan mereka saat dirinya menemani Dafa memotret di perkampungan, Dafa tiba-tiba menanyakan pertanyaan yang begitu mengejutkan baginya.


" Apa kita menikah saja?"


" Hah! maksud kamu apa?" tanya Tania tidak percaya dengan pertanyaan yang diajukan oleh Dafa.


" Aku ingin kamu menjadi istriku?"


Awalnya ragu untuk menjawab, tetapi mengingat kembali Adrian bahkan menjalin pernikahan dengan Alisya itu bisa membuat Adrian jatuh cinta. Mungkin dengan mereka Dafa bisa lebih lagi membuka hati untuknya. Itulah sebabnya mereka berdua memutuskan menikah.


Tania masih mengenakan gaun pengantinnya, dia duduk dipinggir kasur sambil berfikir bagaimana cara dia melepaskan gaun ini.


" Kamu belum ganti pakaian?" tanya Dafa saat dirinya baru saja selesai mandi.


" Bagaimana bisa? Aku gak bisa membukanya. Bisa kamu bantu aku?"


" Mari sini aku bantu." ucap Dafa.


Tania berdiri membelakangi Dafa, dengan pelan Dafa menarik resleting bajunya kebawah hingga memperlihatkan punggung mulus milik Tania. Dafa yang belum terbiasa akan hal seperti itu sedikit lalu mengahlikan pandangannya.


" Sudah." ucap Dafa.


" Makasih." ucap Tania sambil tersenyum.


" Aku akan keluar, kamu gantilah mandi dan ganti pakaianmu."


Namun, Tania mencegah suami yang baru saja menikah dengannya itu untuk keluar dari kamar. " Kenapa mesti keluar? Bukannya kita suami istri?"


" Aku cuma belum terbiasa."


" Harus dibiasakan." ucap Tania lalu membuka gaun pengantin didepan sang suami.


Dafa hanya tertunduk memandang lantai, belum berani baginya memandang tubuh mulus istrinya.


" Maaf." ucap Dafa.


" Untuk?"


" Malam ini." ucap Dafa lalu keluar dari kamar.

__ADS_1


Tania mengerti dia maksud Dafa, dia menyadari jika dirinya masih belum berada di hati suaminya.


__ADS_2