Mengejar Cinta Mu

Mengejar Cinta Mu
SINDIRAN


__ADS_3

Selamat membaca ❤️


Sudah seminggu ini Tiara mengambil cuti bekerja. Tiara tidak menyangka kalau cuti akan semenyenangkan ini. Dia bebas pergi kemana saja yang dia mau tanpa harus memikirkan tentang pekerjaan. Selama seminggu ini yang Tiara lakukan hanya mencoba resep baru, berkunjung ke rumah mertua dan juga orang tuanya serta jalan-jalan ke Mall seperti yang dia lakukan sekarang.


Tiara berbelanja kebutuhan dapur serta membeli beberapa potong pakaian. Sudah lama dia tidak berjalan-jalan seperti ini. Setelah menikah dia dan Arya memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Entah itu memasak bersama atau mengurus kebun mereka. Arya juga sekarang disibukkan dengan pengembangan usaha catering orang tuanya. Selain menjadi asisten Pak Bramasta, Arya juga terjun mengelola usaha keluarga. Kini catering orang tua Arya sudah banyak dikenal masyarakat. Setiap ada acara pernikahan, meeting kantor, pertunangan dan acara penting lainnya, Catering milik Bapak dan Ibu Arya siap melayani. Apalagi kini mereka sudah memiliki kurang lebih 10 karyawan. Selain Catering rencananya bulan depan mereka juga akan membuka restoran yang menyajikan masakan khas kota mereka. Tak heran bila semakin hari Arya semakin sibuk.


Kembali ke tempat Tiara berbelanja, Tiara mulai memilih beberapa kemeja untuk Arya. Saat sedang asyik memilih siapa sangka Tiara tidak sengaja menabrak seorang wanita hamil yang juga sedang memilih pakaian.


“Ah.. Maaf saya tidak sengaja “ ucap Tiara sedikit membungkuk. Dia tidak menyadari siapa wanita yang dia tabrak tadi.


“Eh Tiara, Apa kabar?” sapa wanita itu yang ternyata adalah Arumi. Dengan percaya dirinya Arumi merangkul tubuh Tiara seolah mereka sangat akrab. Arumi tidak tau kalau sebenarnya Tiara dan juga Ayahnya tau kalau dialah yang beberapa tahun lalu penyebar rumor tidak sedap itu. Hanya saja atas permintaan Ratih masalah itu tidak diperpanjang.

__ADS_1


Setiap melihat Arumi sebenarnya Tiara sangat kesal, tapi karena Arumi menyapanya dengan ramah maka Tiara juga berlaku sama.


“Baik Kak. Kakak apa kabar?” jawab Tiara basa basi.


“Baik juga” jawab Arumi sambil mengelus perutnya yang membuncit, Dia seolah memamerkan kalau dirinya yang belum genap setahun menikah kini sudah berbadan dua. Sedangkan Tiara yang lebih dulu menikah hingga kini belum juga diberi kepercayaan untuk menjadi seorang Ibu.


“Ngomong-ngomong kamu sudah isi?” tanya Arumi dengan sengaja. Padahal sebagai calon Ibu harusnya Arumi paham kalau pertanyaan itu sangat sensitif untuk diajukan.


“Tentu saja Aku akan mendoakanmu. Enak lho jadi Ibu hamil. Ada yang layani. Mau apa dituruti suami. Belum lagi mertua yang perhatian. Kamu tidak dikejar mertua kan dimintai cucu?” ucap Arumi dengan terkekeh palsu.


Ingin rasanya Tiara membekap mulut Arumi yang tidak berperasaan itu tapi lagi-lagi Tiara harus mengalah karena yang waras memang harus mengalah.

__ADS_1


“Untung nya mertuaku mengerti Kak. Mereka tidak pernah menuntut untuk cepat-cepat punya anak” jawab Tiara masih tersenyum.


Arumi nampak menganggukkan kepalanya.


“Tapi harus cepat dikonsultasikan lho, siapa tau kamu bermasalah jadi bisa segera ditangani. Biar kamu juga bisa mempersiapkan bayi tabung juga kalau seandainya proses alami tidak bisa dilakukan” ucap Arumi dengan tidak tau malunya.


Tiara kembali tersenyum.


“Terima kasih ya kak perhatiannya. Puji Tuhan Aku dan suami sehat, kami hanya perlu berserah diri pada yang diatas” jawab Tiara.


“Syukurlah, semoga ya kamu bisa menyusul Aku” jawab Arumi dengan tersenyum walau Tiara sangat yakin itu adalah senyum merendahkan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2