
Sepulang dari bekerja, Arya langsung menghampiri istrinya yang saat ini sedang tertidur. Untung saja demamnya sudah reda jadi mereka tidak jadi ke dokter. Tapi besoknya Tiara kembali demam, hanya saja dia merahasiakannya dari sang suami. Tiara tidak mau suaminya khawatir. Akhirnya di hari ketiga Tiara sudah tidak kuat, dia limbung sebelum mengantar Arya bekerja.
Arya sangat panik. Dia langsung membawa Tiara ke rumah sakit. Tiara memang tidak sampai pingsan tapi dia sudah lemas sekali. Saat sampai di rumah sakit Tiara tiara harus di opname karena demamnya yang tak kunjung turun. Hasil labbl sudah keluar dan untungnya semua normal. Hanya saja karena kondisi Tiara yang lemas pihak rumah sakit meminta Tiara untuk di opname beberapa hari.
"Maaf ya, kamu jadi harus ambil cuti" ucap Tiara merasa bersalah. Tiara sangat tau bagaimana Pak Bramasta, dia tidak ingin suaminya nanti kena masalah.
"Gak papa, Pak Bramasta juga ngerti kok" ucap Arya menenangkan. Arya elus-elus rambut istrinya agar Tiara segera tidur dan beristirahat.
"Bobo dulu, dokter minta kamu banyak istirahat" ucap Arya pula.
Tiara pun menganggukkan kepalanya.
Tak berapa lama Ratih datang dengan membawa banyak makanan, Tiara yang belum masuk ke alam mimpi pun terpaksa harus menerima suapan dari tangan Ibunya.
"Harus banyak makan" ucap Ratih sambil menyuapi bubur manado kesukaan Tiara.
Baru dua suapan Tiara sudah merasa sangat mual, dia menutup mulutnya dengan satu tangan dan tangan lain mengambil infus. Arya dengan sigap menggendong istrinya agar cepat sampai ke kamar mandi. Tiara pun muntah-muntah disana.
__ADS_1
Ratih yang melihat itu pun jadi merasa bersalah karena telah memaksa Tiara makan.
"Apa kamu gejala DB (Demam berdarah) ? Kamu kayak Papa dulu pas kena DB" ucap Ratih saat Tiara sudah kembali ke ranjangnya.
"Trombositnya masih normal sih ma. Semoga saja enggak" Arya yang menjawab.
"Semoga saja memang enggak ya" ucap Ratih khawatir.
Arya dan Tiara pun mengangguk bersamaan.
Siang harinya, Ratih sudah kembali ke rumah, di ruang rawat itu hanya menyisakan Tiara dan suaminya. Entah tau dari mana, Arumi dan suaminya datang menjenguk dengan membawa parcel buah ditangannya.
Tiara dan Arya tentu sangat terkejut karena mereka tidak akrab dengan keduanya. Walau dengan Arumi sudah beberapa kali terlibat perselisihan.
"Tiara, cepat sembuh ya" ucap Arumi terdengar tulus.
"Terima kasih Kak. Kakak tau dari mana aku di rawat disini?" tanya Tiara terheran.
__ADS_1
"Tadi aku lihat kamu dibawah, anak kami masih dirawat disini Tiara, karena prematur harus dirawat di inkubator" jawab Arumi dengan raut wajah sedih.
"Aku juga mau bilang terima kasih atas bantuan kamu waktu ini. Padahal aku sudah sangat jahat sama kamu tapi kamu masih mau nolong aku" Arumi sudah berkaca-kaca saat mengatakannya.
Arumi juga mengakui kesalahannya dulu saat menyebarkan rumor tidak sedap pada Tiara beberapa tahun lalu. Kali ini Arumi terlihat sungguh-sungguh saat meminta maaf tidak seperti insiden dia menampar Tiara di masa lampau.
Tiara pun tidak memperpanjang lagi. Arumi juga masih bersedih karena bayinya memiliki gangguan pernafasan. Arumi menganggap cobaan ini karena teguran dari Tuhan atas apa yang sudah dia perbuat pada Tiara.
Suami Arumi juga turut meminta maaf dan mengucapkan terima kasih pada Tiara.
Cukup lama mereka disana hingga mereka harus kembali untuk menjenguk putri mereka.
"Semoga saja anak Kak Arum bisa segera sembuh ya yank" ucap Tiara yang turut merasa sedih mendengar cerita Arumi tadi. Memang mendengar cerita tentang anak kecil membuat Tiara begitu sensitif.
"Iya, pasti anak Arumi segera sembuh dan bisa berkumbul bersama keluarganya" ucap Arya sambil mengelur rambut Tiara.
Bersambung...
__ADS_1