Mengejar Cinta Mu

Mengejar Cinta Mu
RUJUK


__ADS_3

Ini hari kedua Tiara di rawat di rumah sakit. Dia masih lemas dan sekarang ditambah mual-mual. Dokter kemudian merujuk Tiara untuk diperiksa dokter kandungan. Baik Arya maupun Tiara tidak mau terlalu berharap, selama dua tahun ini mereka sudah beberapa kali kena prank sehingga mereka takut kali ini pun juga demikian.


Dokter sudah menanyakan kapan Tiara terakhir datang bulan dan lain sebagainya. Tiara pun diminta naik ke atas brangkar. Suster memakaikan gel di perut Tiara. Setelahnya Dokter mulai menekan perut Tiara menggunakan alat USG.


Arya juga sudah berdiri di dekat istrinya, dia ikut melihat ke arah layar monitor. Arya sangat berharap kali ini Tuhan tidak memberi prank dirinya lagi.


"Wah...selamat ya. Ibu beneran hamil" ucap dokter tersebut terdengar ceria.


Degupan jantung Arya begitu keras terasa, dia masih tidak menyangka kalau di rahim istrinya sekarang sudah ada buah cinta mereka.


Sedangkan Tiara sendiri sudah menangis haru sambil menutup mulutnya. Dia sama sekali tidak kepikiran kalau sakitnya sekarang karena dia sedang mengandung.


......................

__ADS_1


Tiara sudah kembali ke ruang rawat inapnya. Saat ini dia sudah duduk bersandar di kepala ranjang dengan Arya memeluknya dengan posisi berdiri. Mereka berdua sama-sama menangis haru. Tidak menyangka di tahun kedua ini akhirnya Tuhan mengabulkan permohonan mereka.


"Kenapa ini?" tanya Ibu dan Bapak Arya yang saat itu baru saja memasuki ruangan menantunya. Mereka takut terjadi sesuatu pada Tiara karena saat ini anak dan menantunya saling memeluk sambil menangis.


Arya melepas pelukannya pada sang istri lalu memeluk Ibunya dengan erat.


"Aku akan jadi Ayah bu" ucap Arya yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


Ibu dan Bapak tentu sangat bahagia mendengar berita itu. Mereka sangat berterima kasih pada Tuhan karena doa mereka selama ini akhirnya dikabulkan oleh Nya.


"Kehamilan awal memang begitu, sabar ya nak" ucap Ibu mendekat pada Tiara lalu memeluknya. Tiara kembali menangis dalam pelukan Ibu. Tiara bersyukur karena memiliki mertua seperti Ibu dan Bapak. Mereka tidak pernah menuntut Tiara sesuai keinginan mereka. Bahkan tentang anak pun mereka tidak pernah mendesak.


Saat masih tinggal bersama , Ibu bahkan memaklumi menantunya yang memang tidak bisa mengerjakan pekerjaan dapur. Ibu juga tidak protes bila Arya membantu pekerjaan rumah. Biasanya mertua kebanyakan akan mengomel dan mengatakan kalau menantunya malas karena membiarkan suami ikut mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi Ibu dan Bapak Arya tidak begitu. Menurut mereka pekerjaan rumah bukanlah tanggung jawab istri saja, semua itu adalah tanggung jawab bersama.

__ADS_1


Selama kurang lebih satu jam orang tua Arya disana, mereka harus kembali karena harus mempersiapkan pesanan.


Arya mengantar Bapak dan Ibunya sampai di depan pintu.


"Kamu gak mau berhenti kerja saja ya? Nanti akan sangat berat bila kalian sudah punya anak dan pekerjaan kamu yang padat itu. Kalau kamu fokus dengan usaha kita sepertinya jauh lebih baik" saran Bapak Arya.


Arya memang sudah memikirkan untuk berhenti dari pekerjaannya dan lebih fokus dengan usaha keluarga saja. Walau tenru penghasilannya tidak sebanyak gaji dia bekerja di BG tapi setidaknya waktu kerjanya lebih fleksibel.


"Akan aku pertimbangkan Pak" ucap Arya kemudian.


Bapak Arya pun menganggukkan kepala. Kedua orang rua Arya pun pamit pulang.


Arya menghela nafas berat. Lambat laun memang dia harus merelakan pekerjaannya dan fokus mengurus usaha keluarga.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2