Mengejar Cinta Mu

Mengejar Cinta Mu
Bab 89


__ADS_3

Dafa mengunjungi cafe, terlihat Bagas tengah sibuk melayani pelanggannya. Dafa duduk di kursi menghadap jendela. Bagas terkejut jika Dafa akan datang berkunjung ke cafe. Bagas mengira karena kejadian kemarin Dafa tidak akan datang lagi ke cafe.


" Mau pesan apa?" tanya Bagas kepada dafa.


" Seperti biasa." ucap Dafa.


Bagas pergi ke dapur untuk mengambil pesanan pelanggan yang lain.


Dafa memainkan ponselnya, dia merasa khawatir dengan keadaan Alisya. Namun, gadis itu tidak bisa dihubungi bahkan tidak mau bertemu dengannya. Dafa ingin menghubungi bunga, namun bunga tengah kuliah. Pasti bunga sedang sibuk sehingga tidak ada waktu untuk memberitahu keadaan Alisya.


Bagas keluar dari dapur meletakan pesanan Dafa di meja.


" Makasih." ucap Dafa.


Bagas masih berdiri, " Aku pikir kamu gak bakalan kesini. Tadi Adrian baru saja pulang, dia berkunjung ke sini untuk mencari Alisya dan juga ingin menemui mu." ujar Bagas.


" Aku gak sejahat itu. Aku mungkin memaafkan mu, tapi tidak untuk Tania." ujar Dafa sambil menyeruput minumannya.


" Aku tahu perbuatan kami benar-benar salah. Jika kamu diposisi ku mungkin aku akan bingung, harus membantu siapa. Jujur kalian berdua memang sahabat terdekat bahkan sudah ku anggap sebagai keluarga." ujar Bagas lalu duduk disamping Dafa.


" Tapi setidaknya kamu tahu resiko dari perbuatan mu." ujar Dafa.


" Aku menyadari, namun aku juga gak bisa menolak." ujar Bagas.


Dafa terdiam, dia mengerti dengan apa yang dirasakan Bagas. Dafa teringat apa yang dikatakan Bagas tentang adrian yang ingin menemuinya.


" Kenapa Adrian ingin menemui ku?" tanya Dafa.

__ADS_1


" Aku gak tahu, tadi karyawan ku bilang kalau Adrian menanyakan mu. Mungkin soal Alisya." ujar Bagas.


" Alisya gak bisa ditemui, aku baru saja ingin menemuinya. Namun dia gak mau membukakan pintu." kata Dafa.


Pembicaraan itu berakhir ketika ada pelanggan yang masuk. Bagas berdiri dan melayani pelanggan itu.


Adrian berada di rumah, dia duduk di sofa menatap kosong ke arah dinding. Dia tahu lagi harus mencari kemana istrinya. Akibat kebodohan itu, dia harus kehilangan Alisya, gadis yang mencintainya. Kenapa Adrian terus berharap kepada Tania, gadis yang menghancurkan semuanya. Padahal ada Alisya yang masih setia meski Adrian tidak pernah membekas perasaannya. Kenapa Tania bisa sejahat itu kepadanya? Bukannya Tania sendiri yang meminta dia untuk menikah dengan Alisya. Hidup Adrian serasa hancur, dia menyadari perasaannya sehari tanpa Alisya di hidupnya.


Adrian bangkit dari sofa berjalan gontai menuju kamar, dia duduk di meja hias istrinya. Memandang meja hias dengan tatapan kosong.


" Baru beberapa jam aku sudah seperti ini, Al." gumam Adrian menyentuh meja rias istrinya.


Alisya seharian berbaring di kasur. Dia hanya bisa bengong, tidak tahu mau ngapain. Sebab saat Dafa datang berkunjung untuk menemuinya Alisya justru menolak. Bunga masih belum juga pulang, mungkin gadis itu masih sibuk dengan kegiatan kuliahnya.


Alisya menghela nafasnya bangun dari kasur. Dia menuju dapur untuk meminum air. Tenggorokannya haus akibat semalam menangis.


Alisya mengambil ponselnya, membuka ponselnya itu terdapat banyak panggilan dari Adrian serta Dafa. Bahkan banyak sekali pesan yang masuk dari Adrian. Aliya tidak memperdulikan, dia malah justru membaca pesan dari Dafa.


" Aku berada di cafe, tempat yang sering kita kunjungi. Jika kamu sudah merasa lega. Kamu bisa kesini. Aku akan mentraktir mu." isi pesan dari Dafa.


Alisya terdiam, menimbang apakah dia harus ke cafe menemui Dafa ataukah dia berada disini saja. Tapi sampai kapan Alisya terus begini. Alisya membayangkan wajah Tania yang mungkin tertawa melihat keadaannya sekarang atau mungkin Adrian juga sama. Alisya membayangkan kembali bagaimana perlakuan Adrian saat dirinya tidak menerima Alisya menjadi istrinya. Bagaiman sikap Adrian yang cuek dan kasar kepada dulu. Adrian tetaplah Adrian dia tidak akan berubah. Perubahan yang Adrian lakukan padanya, hanya untuk menyenanginya selebihnya dia akan kembali menyakiti hati Alisya. Alisya menyadari akan hal itu.


Rasa sakit itu masih membekas, bayangan akan foto Adrian tidur bersama Tania pun terus teringat oleh Alisya. Air mata Alisya kembali menetes, kekecewaan kini dia rasakan begitu dalam. Bukti kesetiaan tanpa balasan cinta bukannya menyembuhkan luka malah memperparah bekas luka itu.


Alisya menghapus matanya tatapan sedih berubah menjadi semangat. Dia tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Dia harus bangkit, dia harus bergerak kali ini yang harus dipikirkan dirinya sendiri.


Alisya memutuskan untuk membuka butiknya, dia yang akan mengawasi butik itu sekaligus mempromosikan jualannya di media sosial tanpa menunggu bunga pulang kuliah. Sebelum itu dia ingin menemui Dafa di cafe.

__ADS_1


Tania duduk disebuah cafe berbeda. Dia tidak ingin ke cafe Bagas. Sebab dia tahu jika Adrian bakal kesana atau mungkin Dafa. Dia tidak mau bertemu dengan kedua orang itu. Tania memakan cake pesanan. Dia berencana menemui Bagas, dia butuh bagas untuk menyelesaikan masalah yang dibuatnya. Kalau untuk kasihan dia mungkin tidak mengasihani Alisya. Namun, tujuan dia ialah dia tidak mau Dafa akan bersanding dengan Alisya.


Makanya Tania kembali meminta bantuan Bagas agar dirinya bisa dimaafkan oleh Dafa dan menyatukan kembali Alisya bersama Adrian. Tania masih setia menunggu Bagas. Karena dia tahu Bagas pasti sibuk di cafenya.


Tak berselang lama, saat Tania masih sibuk menikmati cake nya. Bagas datang menghampirinya.


" Sibuk banget ya?" tanya Tania saat Bagas sudah duduk di hadapannya.


" Iya, tapi tadi agak lama soalnya Dafa ke cafe." ujar Bagas.


" Kamu gak pesan?" tanya Tania melihat Bagas masih duduk tanpa memesan sesuatu.


" Lebih enak di cafe ku " jawab Bagas berbisik.


" Terserah, tapi Dafa gak marah sama kamu. Buktinya dia ke cafe mu, kan?" kata Tania, karena sejak kemarin Bagas merasa jika Dafa akan marah padanya karena membantu Tania.


" Iya, dia gak marah. Karena tahu maksud ku. Tan, sudah cukup seperti ini." ujar Bagas lelah dengan semua tindakan Tania.


" Makanya aku ngajak kamu kesini untuk menghentikan semuanya."


" Tapi tujuan masih sama kan?" tanya Bagas dia tahu betul apa yang tujuan dari Tania.


" Hm.."


Bagas mengehela nafas lelah dengan kelakuan Tania. Dia pikir Tania akan berubah. " Tan, dari SMA bahkan sekarang saat kamu bertemu lagi dengan Adrian. Masih saja kamu menyakiti Alisya. Alisya tidak tahu apa-apa soal ini. Alisya juga tidak tahu jika Dafa menyukainya. Dimata Alisya Dafa udah seperti saudara baginya. Jika kamu berbuat begitu, Dafa akan semakin membenci mu." ujar Bagas ingin menyadari Tania, jika perbuatannya itu salah.


" Aku tahu, tapi kamu gak ngerasain apa yang aku rasakan. Selama ini aku yang hanya menanggung rasa sakit. Dafa gak melihat ku sama sekali." ujar Tania.

__ADS_1


" Bagaimana dia bisa melihat mu jika kamu duluan yang menghindarinya? Karena kamu sakit hati kamu memilih menghindar dan membalas dendam kepada Alisya yang tidak tahu apa-apa. Tan, Dafa sudah bicara semua padaku, dia perhatian sama kamu. Dia yang bilang kepadaku untuk mencari pekerjaan untukmu. Dia tahu kamu hidup miskin dan tinggal di pemukiman umum semenjak ayahmu meninggal. Dafa yang memintaku, Dafa perduli padamu. Hanya kamu terlalu memikirkan rasa sakit sampai kamu tak sadar jika Dafa perhatian padamu." ujar Bagas panjang lebar menjelaskan semuanya. Bagaimana Dafa yang meminta Bagas untuk mencarikan Tania pekerjaan. Dafa memang sepeduli itu sama sahabatnya, namun Tania terlalu fokus dengan rasa sakit sehingga tidak menyadari hal itu.


__ADS_2