
Tiara berjalan menuju ruangan Papanya dengan membawa banyak proposal di tangannya. Dia menggantikan Kevin yang cuti karena persiapan pernikahannya. Tak terasa sudah satu bulan Tiara bekerja disana dan Tiara lumayan nyaman dengan pekerjaannya. Mengenai lamaran Arya waktu ini, mereka sudah sepakat kalau pernikahan akan diadakan 5 bulan lagi secara sederhana saja dengan mengundang keluarga dan teman-teman dekat.
Setelah dipersilahkan masuk oleh sekretaris Kristian, Tiara pun memasuki ruangan Papanya.
Kristian langsung berdiri ketika melihat putrinya datang.
“Ayo kita duduk di sofa saja nak” ucap Kristian sambil menuntun Tiara menuju sofa yang ada di ruangan tersebut.
Tiara kemudian langsung mempresentasikan proposal yang sudah dia rancang untuk pengembangan perusahaan. Dia ingin bulan ini ide-ide pemasarannya sudah bisa terealisasikan.
Kristian begitu bangga karena putri kecilnya begitu sangat cerdas dan memiliki kompetensi dibidang pemasaran. Banyak yang mereka diskusikan hingga tidak terasa jam makan siang pun tiba.
“Ayo makan siang sama Papa saja. Papa mau makan siang sama Mama juga” ajak Kristian. Tiara pun sangat antusias karena jarang sekali mereka pergi bertiga seperti ini. Dengan membawa tumpukan proposalnya kembali, Tiara mengekori Papanya menuju parkir.
Saat sudah sampai di depan mobil, Kristian membukakan pintu untuk Tiara. Dia juga mengelus rambut putrinya sebelum masuk ke dalam mobil. Arumi yang melihat kejadian itu dengan cepat mengabadikannya. Senyum licik langsung terbit di bibir Arumi.
__ADS_1
“Tidak menyangka wanita yang Ray bangga banggakan itu ternyata selingkuh dengan Om Om” guman Arumi.
“Pantas saja dia langsung mendapatkan jabatan bagus, ternyata…” ucapnya pula.
Dengan bukti yang dia miliki, mulut bercon Arumi mulai menyebarkan gosip tidak mengenakan itu.
“Masak sih?” tanya Nadia korban pertama Arumi.
“Dari awal kan aku sudah kasih tau kamu kalau dia itu bukan wanita baik-baik” kompor Arumi.
“Apa lagi sih?” ucap Wira kesal karena dua orang itu terlihat begitu serius membicarakan orang lain.
“Nih lihat Wir, cewek yang kamu bela-belain itu” ucap Arumi sambil memperlihatkan ponselnya.
“See? kamu masih gak percaya omongan aku?” ucap Arumi pula.
__ADS_1
Wira tidak bisa berkata-kata. Inginnya dia tidak mempercayai Arumi tapi bukti nyata sudah ada di depan mata. Dia kemudian memilih tidak ikut campur. Melihat diamnya Wira membuat Arumi semakin gencar menyebarkan berita ini dari mulut ke mulut.
Hingga saat Tiara sudah kembali dari makan siang bersama Papa dan Mamanya, banyak yang melihat Tiara dengan cara berbeda. Ada yang masih meragukan, Ada yang percaya dan menyayangkan, ada pula yang mencemooh.
Saat memasuki ruangannya, Tiara sudah mendapatkan tatapan sinis dari beberapa orang. Tapi Tiara yang sudah mendapatkan asam garam tentang perlakuan tidak baik dalam dunia kerja selama di BG jadi dia tidak mengambil pusing semua ini. Dia seperti biasa menyapa teman-temannya dengan ramah walau hanya beberapa orang saja yang membalas sapaannya.
Hingga jam pulang kerja semakin banyak saja yang menatap tidak suka padanya.
“Kenapa ya?” batin Tiara merasa aneh. Otak cerdasnya pun langsung berpikir.
“Apa ada orang yang melihat tadi saat aku pergi makan siang dengan Papa?” gumannya pelan.
“Ya sepertinya begitu” lanjutnya.
Kalau memang karena itu menurut Tiara lambat laun akan mereda sendiri. Asal tidak ada yang berlebihan selain tatapan sinis Tiara akan membiarkan saja mereka membicarakan seperti apa.
__ADS_1
Bersambung...