
Tania duduk sendirian di kasur, semalam dia bermimpi Dafa menikah bersama dengan Alisya. Tania sangat ketakutan jika hal itu terjadi. Jika benar, untuk apa selama ini dia lakukan. Menyakiti hati Alisya malah justru dirinya yang sakit hati. Tania duduk memandang diluar jendela kamarnya. Gadis itu mengingat kembali perkataan Bagas kepadanya. Ditambah dengan mimpinya membuat gadis itu terus kepikiran.
Tania menghela nafasnya, dia masih memandang diluar jendelanya dengan pikiran yang memikirkan masalahnya. Sebenarnya apa yang Tania inginkan dengan melakukan semua ini. Bukannya mendapatkan cinta dari Dafa justru Tania malah membuat cowok itu semakin membencinya. Seharusnya Tania berterima kasih kepada Dafa karenanya Tania bisa memiliki tempat tinggal yang layak sekarang. Tania menghela nafasnya lagi menyesali yang semuanya telah terjadi. Dia sudah terlanjur jauh menyakiti hati Alisya, benar yang dikatakan Bagas Alisya tidak tahu apa-apa soal ini. Hanya karena membalas rasa sakit dia menyakiti hati yang tidak tahu apa-apa. Tania mulai menyesali perbuatannya.
Alisya mulai sibuk dengan bisnisnya. Tidak pernah dia melihat Adrian datang untuk mencarinya di butik. Mungkin cowok itu sudah melupakannya. Karena sudah ada Tania, mungkin Adrian tidak lagi mencarinya. Bunga membantu Alisya mengurus beberapa pakaian yang dipesan oleh konsumen untuk dikirim. Bunga memerhatikan Alisya, Bunga mengkhawatirkan sahabatnya itu.
" Al, jika kamu merasa gak enakan. Lebih baik pulang saja dulu. Biar aku yang mengurus semuanya sendiri." ujar bunga.
" Aku gak apa-apa kok. Kamu gak usah khawatir." ujar Alisya tersenyum.
Namun, senyuman itu hanyalah cover untuk menutupi kegalauannya.
Tidak berselang lama, butik didatangi seseorang. Segera Alisya memasang wajah ramah untuk menyambut pelanggan. Ternyata bukanlah orang lain, melainkan Jefri sahabat sekaligus karyawan di kantor Adrian.
" Jefri." ucap Alisya.
" Hay Alisya, Bunga." sapa Jefri kepada kedua gadis yang ada dihadapannya.
" Kamu itu.. Ah! kamu cowok anak kelas IPA yang pernah kasih surat ke Alisya ya. Surat dari Adrian, kan?" ujar bunga mengingat kembali, siapa Jefri.
" Ah iya." kata Jefri canggung menggaruk tengkuknya malu mengingat masa SMA dulu.
__ADS_1
" Ada apa?" tanya Alisya tahu jika Jefri kesini bukan untuk membeli melainkan untuk bertemu dengannya.
" Wah, kamu kayak tahu saja." ujar Jefri saat Alisya sudah tahu maksud kedatangan.
" Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Alisya lagi tanpa mau basa basi.
" Bisakah kita cuman berdua?" tanya Jefri pelan melirik sekilas kearah bunga yang sibuk mengatur barang.
" Bicarakan saja." ujar Alisya menolak pindah dari situ.
" Kemarin aku baru saja bertemu dengan Adrian. Dia menceritakan semuanya kepadaku. Aku cuma hanya ingin menyampaikan apa yang kamu lihat di foto memang benar adanya. Tetapi Adrian tidak yakin jika dia beneran melakukannya atau tidak. Yang jelas yang Adrian ingat dia hanya minum kopi lalu tidak sadarkan diri." ujar Jefri menjelaskan seperti apa yang Adrian jelaskan padanya.
" Kamu pasti bertanya kenapa tidak Adrian yang datang menemui mu dan menjelaskan semuanya. Percuma, kamu pasti tidak akan mendengarkan, bahkan mungkin akan lari saat melihat Adrian datang menemui mu disini." ujar Jefri sebelum Alisya berbicara.
Melihat Alisya hanya terdiam, Jefri kembali menjelaskan seperti apa yang Adrian bicarakan padanya. " Al, seharusnya kamu tahu jika Adrian belum mencintaimu karena dihatinya masih ada Tania. Dan sangat wajar bagi ku jika Adrian menemui Tania tanpa memberitahu padamu terlebih dahulu. Sebab pertemuan itu tidak akan terjadi, dan Adrian juga tidak mau menyakiti perasaan mu. Al, aku tahu disini Adrian melakukan kesalahan yang sangat fatal. Tapi sebagai istri apa kamu tidak mau melihat dari sisi pandangnya, dari sisi perasaannya." ujar Jefri.
" Aku... Jika dia tahu itu bakal menyakiti perasaan ku. Kenapa dia harus menemui Tania? Kenapa? Apa salahnya dia berbicara padaku? Mungkin aku akan memaklumi." ujar Alisya.
" Memaklumi? sebuah foto saja yang dikirim orang yang kamu tidak tahu edit atau tidak. Itupun kamu merasa sakit hati bahkan seminggu kamu menghindar tanpa mendengarkan penjelasan dan menyelesaikan itu semua. Itu yang kamu sebut bakal memaklumi jika Adrian memberitahu mu soal pertemuannya dengan Tania. Kurasa tidak akan ada kata memaklumi." ujar Jefri.
Alisya terdiam kembali dia memikirkan perkataan Jefri. Terkadang apa yang dikatakan cowok dihadapannya ini memanglah benar. Jika sakit hati, kata memaklumi tidak ada pantas. Karena manusia bakalan mengikuti rasa sakitnya tanpa mendengarkan penjelasan bahkan menghindar menjadi solusi terbaik bagi mereka.
__ADS_1
" Al, kayaknya kamu tidak bisa mengatakan apapun lagi. Aku kesini hanya ingin menyampaikan penjelasan Adrian. Seperti dulu, saat Adrian malu untuk mengajak mu pulang. Maka aku akan datang menemui mu dengan memberikan sepucuk surat. Disini aku tidak membela siapapun tapi aku hanya membantu sebisa ku. Kalau begitu aku pergi dulu. Semangat untuk kerjanya!" ujar Jefri pergi keluar dari butik.
Benar, Alisya tidak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar perkataan Jefri. Dia hanya menatap cowok itu keluar dari butiknya.
Jefri masuk ke dalam mobil, ternyata di dalam mobil sudah ada Adrian. Jadi setelah pertemuan kemarin, Adrian meminta Jefri sama seperti dulu. Adrian memintanya untuk menemui Alisya. Sebab Adrian tahu gadis itu tidak akan mau mendengar penjelasannya bahkan melihat wajah Adrian pun, mungkin Alisya tidak mau. Itulah sebabnya dia meminta bantuan Jefri. Setelah menyampaikan penjelasan mengenai masalah itu ke Jefri. Jefri diminta untuk menemui Alisya sendirian. Awalnya mereka mencoba mencari. Namun, tidak disangka butik Alisya buka, Adrian meminta Jefri untuk berkunjung ke butik itu. Tidak disangka dia bertemu dengan Alisya, dan menyampaikan semua.
" Bagaimana?" tanya Adrian saat Jefri sudah masuk ke dalam mobil.
" Sudah aku jelaskan seperti apa yang kamu katakan. Adrian, kurasa gadis itu juga kacau, sama seperti mu. Hanya saja dia berusaha kuat untuk dirinya sendiri." ujar Jefri.
" Benarkah! Maafkan aku Alisya." ucap Adrian menghela nafas penyesalan.
" Percuma kamu bergumam disini. Katakan langsung padanya." ujar Jefri.
" Percuma. Alisya tidak akan menemui mu." ujar Adrian dengan tatapan penyesalan.
" Mungkin, tidak akan lama lagi dia akan menemui. Yang penting kamu siap-siap saja mendengar keputusannya." ujar Jefri.
Mendengar hal itu, Adrian menoleh. Apa yang dibicarakan Jefri. Maksudnya apa dengan keputusan.
" Apa maksudmu?" tanya Adrian tajam.
__ADS_1
" Aku berbicara sesuai apa yang kamu katakan. Tetapi kembali keputusan jatuh ke tangan Alisya. Jadi kamu, harus siap-siap agar keputusan yang tidak kamu inginkan itu keluar dari mulut Alisya. Paham kamu!" ujar Jefri.
Adrian hanya mengangguk. Semoga tidak ada keputusan yang seperti Adrian inginkan.