Mengejar Cinta Mu

Mengejar Cinta Mu
Bab 75


__ADS_3

Daffa telah kembali ke Jakarta setelah berkeliling dari kota ke kota. Dirinya berencana untuk menemui sahabatnya itu kebetulan juga ingin bertemu dengan bunga yang bekerja di cafe bersama sahabatnya. Dafa memasuki dan duduk lalu memanggil pelayan yang ternyata adalah bunga.


" Kak Dafa." sapa bunga antusias saat melihat Daffa, karena sudah lama Bunga tidak pernah bertemu dengan Daffa.


" Bunga, kamu bekerja disini." tanya Dafa, padahal dia sudah tahu namun dia berpura-pura tidak mengetahui bunga bekerja di cafe.


"Iya kak, baru sebulan. Kakak mau pesan apa?" tanya bunga sebagai pelayan di cafe itu.


" Seperti biasa. kamu tahu kan." ujar Daffa, dia tahu bunga pasti tahu apa pesenannya karena dulu mereka bertiga sering nongkrong di cafe ini.


" Siap kak." ucap Bunga berlalu.


Sahabatnya Daffa menghampirinya, mereka berdua lalu bersalaman setelah lama tidak bertemu.


" Udah ingat pulang kamu. kirain bakalan gak mau pulang."


" Hahaha, gak gitu juga kali bagas. Aku juga rindu rumah." ujar Daffa.


Ternyata nama sahabat Dafa sekaligus Kakak kelas bunga dan Alisya adalah Bagas. Selama ini Bagas tidak pernah mengungkapkan nama aslinya. Setiap bunga menanyakan namanya dia selalu balik bertanya. Hal itu membuat bunga merasa jengkel padanya.


" Jadi kamu cuman rindu. Lalu aku? kamu gak rindu?" kata Bagas dengan wajah cemberut.


" Apaan sih! Najis tau gak!" Dafa menatap ngeri saat melihat Bagas cemberut didepannya.


Bunga datang membawakan pesanan Daffa. Bunga melirik Bagas, yang terlihat santai dan tidak bekerja.


" Kakak ngapain disini? kerja gih! masih banyak pelanggan tuh." ucap Bunga kepada Bagas.


" Kamu aja gantiin aku. Aku masih melepaskan rindu dengan sahabat ku ini." ujar Bagas santai tidak merasa takut sama sekali.


" Enak aja. Aku bilangin bos tau gak." ujar bunga mengancam Bagas karena tidak mau bekerja.

__ADS_1


" Emang kamu siapa bosnya?" tanya Bagas.


Selama bekerja, bunga belum pernah bertemu dengan pemilik cafe ini. Karyawan di cafe ini hanya ada 4, dia, Bagas dan dua orang lagi yang bekerja di dapur. Bunga langsung masuk dan bekerja saja saat Bagas meminta untuk bekerja di cafe. Bunga juga sempat bertanya dengan kedua karyawan mengenai pemilik cafe ini. Namun jawabannya tetap sama jika pemilik cafenya masih diluar kota.


" Setidaknya saat bos datang aku akan kasih tahu kalau kakak gak pernah bekerja." ujar bunga.


Dafa menatap Bagas, lalu menghela nafasnya. Dafa bingung dengan pemikiran sahabatnya. Jelas-jelas cafe ini adalah miliknya. Namun, dia tidak memberitahukan itu kepada karyawannya.


" Ingat! ini masalah senioritas. Aku bekerja lebih lama disini. Sedangkan kamu anak baru sebulan. Jadi, ikuti saja perintah senior." Kata Bagas.


" Gak ada namanya senioritas di dalam pekerjaan. Benar kan kak Dafa?" kata Bunga membantah.


" Iya. Kamu kerja gih! tuh ada pelanggan datang lagi tuh." ujar Dafa melihat pelanggan yang baru masuk.


" Baiklah, ini karena sahabatku yang minta." ucap Bagas lalu berdiri, namun dicegah oleh Daffa.


" Aku boleh pinjam Bunga gak? aku bayar lebih deh." ujar Daffa.


Bagas melirik Bunga, lalu kembali melihat Daffa. Wajahnya serius, matanya menatap tajam ke arah Dafa. Dafa yang paham lalu menggerakkan bibirnya dengan bermaksud mengatakan kata aman.


" Tapi kak?" bunga ingin sebabnya dia takut sebagai seorang yang masih baru bekerja dia tidak mau jika dilihat sebagai orang yang gak disiplin dalam bekerja.


" Tenang saja, aman. Bayaran lebih kita juga yang untung. Disini juga pelanggannya masih terlalu sedikit." ujar Bagas berlalu.


Bunga duduk dihadapan Dafa. " Ada apa kak?"


" Gak apa-apa. Aku cuman pengen kamu temani aku saja. Ah! bagaimana dengan kuliah mu?" tanya Dafa.


" Baik kak. tapi lumayan sulit untuk memanajemen waktu saat harus kuliah dan bekerja. Sekarang udah gak sih! justru aku merasa sangat sibuk." ujar bunga.


" Hubungan dengan Aril, apa kabar?" Dafa masih belum tahu jika hubungan bunga dengan Aril sudah kandas. Dan alasan bunga bekerja memang untuk sibuk dengan dirinya supaya bisa melupakan Aril.

__ADS_1


Ekspresi wajah bunga berubah menjadi sedih saat Dafa menanyakan kabar hubungan dengan Aril. " Sudah putus kak."


" Maaf." ucap Daffa dia tidak mau bertanya banyak lagi sebab dia memahami perasaan bunga.


" Udah sebulan lebih kok kak. Itu juga menjadi alasan kenapa aku bekerja disini. Karena aku gak tahu gimana bisa melupakan Aril. Pas diajak teman Kakak untuk bekerja disini, aku langsung mau. Dan ternyata dengan aku sibuk, aku jadi lupa bahwa aku pernah sakit hati." ujar bunga.


Daffa terdiam sejenak, dia ingin menanyakan kabar Alisya. Namun, melihat wajah bunga masih sedih dia mengurungkan niatnya.


" Kakak masih komunikasi dengan Alisya?" tanya bunga mengingat Alisya dan Dafa begitu dekat.


" Udah gak. kemarin lalu aku sempat membaca pesannya, namun aku tidak membalasnya. Aku rasa dia sudah bahagia sekarang.


" Iya kak. Alisya sudah bahagia, Kakak juga jangan lupa bahagia." ujar bunga.


Alisya terbatuk saat tidak sengaja menyeruput kuah bakso. Adrian yang duduk disampingnya merasa khawatir, la lalu segera memberikan air putih.


" Kamu gak apa-apa?" tanya Adrian.


" Aku gak apa-apa. Kuahnya aku terlalu banyak ngasih cabe makanya agak pedas." ujar Alisya meminum air yang diberikan oleh Adrian.


Seperti biasanya Alisya datang mengunjungi Adrian di kantor. Mereka berdua makan siang di kantin kantor sebab Alisya tidak membawakan makan siang. Mereka berencana untuk makan diluar, dan Alisya pensiun sementara dalam memasak.


" Al, kamu gak bosen tiap hari di rumah siangnya kamu ngunjungi aku di kantor. Tiap hari kamu seperti itu." ujar Adrian, dia merasa istri pasti akan jenuh karena setiap hari yang dilakukan selalu sama.


" Ah, mengenai pertanyaan mu dulu tentang aku setelah menikah. Aku sudah memikirkan untuk melakukan sebuah bisnis. Rencananya aku akan mengajak bunga sahabat ku untuk memulai bisnis bersama. Kebetulan bunga juga kuliah di bidang bisnis. Jadi lumayan dia bisa membantu ku." kata Alisya.


" Ide yang bagus, kamu kapan memulainya?" tanya Adrian, dia tidak menyangka jika istrinya bisa berfikir sejauh itu. Selama ini dia juga merasa kasihan melihat Alisya hanya bekerja menjadi istri saja.


" Aku belum membicarakan itu kepada bunga. Nanti setelah diskusi aku akan bicarakan padamu. Untuk modalnya kamu gak akan meminta kepadamu. Aku punya modal sendiri." ujar Alisya, selama ini dia juga sering mendapatkan tunjangan dari ayahnya. Apalagi Alisya merupakan anak tunggal, jadi bisnis ayah bisa saja akan menjadi miliknya juga.


" Ya udah. Dengan kamu berfikir seperti itu, aku sudah senang. Aku akan mendukungmu." ujar Adrian mengacak rambut Alisya. Dia begitu bangga dengan istrinya.

__ADS_1


" Jadi nanti setelah makan siang, aku berencana akan menemui bunga. Boleh, kan?" Tanya Alisya kepada Adrian sebagai istri dia harus meminta izin kepada suaminya.


" Boleh dong." jawab Adrian.


__ADS_2