Mengejar Cinta Mu

Mengejar Cinta Mu
RENCANA EVE


__ADS_3

Sudah 4 Bulan berlalu dan Tiara sudah bisa berjalan seperti biasa. Sudah seminggu ini dia bekerja kembali. Hanya saja dia belum berani memaksakan kakinya bekerja terlalu keras. Jarak dari parkir ke kantornya lumayan jauh, dia kan berjalan sangat berhati-hati dan memakan waktu lama. Arya akan menemaninya dan mereka berjalan beriringan. Mereka tidak bergandengan tangan karena di kantor tidak pantas untuk melakukan hal seperti itu. Arya juga bukan tipe yang terbuka tentang hubungan percintaan di depan umum, berbeda kalau mereka hanya berdua atau di dekat keluarga dan teman dekat. Arya akan sangat menempel pada Tiara. Tapi Arya selalu berusaha untuk tetap menjaga Tiara dan tidak menyentuh secara berlebihan sebelum mereka menikah.


“Aku keruangan dulu ya” kata Arya saat mereka sudah sampai di depan kantor Blissful.


Tiara mengangguk seraya tersenyum.


Arya kemudian mempercepat jalannya agar sampai di ruangan sebelum Pak Bram sampai. Beruntung dia karena Pak Bram sepertinya hari ini datang terlambat. Jadwal yang sudah dibuat terpaksa diundur. Untuk jadwal bertemu klien yang bisa diwakilkan maka akan digantikan oleh Arya. Jam 9 Pagi Harusnya Pak Bramasta bertemu dengan PT Kencana Internasional, pabrik pembuat mesin jahit tas. Karena perwakilan PT Kencana sudah tiba di kantor maka Arya dan Eve yang menggantikan untuk bertemu.


Eve merasa senang bukan main. Akhirnya dia bisa berdekatan dengan Arya. Tak masalah jarak usia yang terpaut jauh yang terpenting Arya masuk salah satu kualifikasi pria idamannya setelah Pak Bramasta.


Bukannya mendengarkan penjelasan dari supplier, Eve terus saja mencuri pandang pada Arya. Arya bukan tidak tahu tetapi memilih pura-pura tidak tahu. Menurutnya Eve bukan wanita baik-baik. Wanita baik-baik tidak akan mencari perhatian pada Pria yang sudah mempunyai kekasih.


Arya mengajukan pertanyaan yang tadi sudah dia tanyakan lebih dulu pada Pak Bram. Pak Randy perwakilan dari PT Kencana pun menjawab semua pertanyaan Arya dengan lugas.


“Bagaimana bu, apa dari Boaza ada yang mau ditanyakan?” pertanyaan Arya membuat Eve tersentak. Dia kelabakan karena tidak mendengarkan penjelasan dari Pak Randy.


Eve menelan ludahnya secara paksa. Berdehem sebentar kemudian menjawab.


“Kalau saya asal Pak Bramasta sudah setuju, kami pasti setuju juga” jawab Eve kemudian.


“Bukan begitu bu, mesin ini kan akan digunakan oleh team Ibu. Jadi Pak Bram minta menanyakan kepada Ibu juga seperti apa keinginan Ibu dan team untuk mempermudah produksi” jelas Arya dengan tegas.


Eve semakin tersentak. Arya ternyata lebih tegas dari yang dia bayangkan. Tatapannya seperti menusuk. Seperti mau memakannya hidup-hidup karena tidak fokus mendengarkan.


Arya tidak suka dengan sikap Eve. Padahal Mesin ini untuk kelancaran produksi disana, tetapi dia seperti main-main dan tidak fokus. Bagaimana mungkin seorang Leader tidak fokus seperti dia? batin Arya tidak percaya.


Selesai pertemuan dengan Pak Randy. Arya mengajak Eve berbicara berdua. Eve tidak pernah kepikiran Arya akan memarahinya. Yang ada dalam pikirannya adalah Arya terpesona dengan penampilannya. Walau sudah kepala tiga tetapi Eve memiliki wajah yang masih terlihat muda. Eve sudah membayangkan yang tidak-tidak. Bahkan senyumnya tidak bisa dia tahan. Tapi senyumnya langsung luntur begitu melihat wajah Arya yang datar tanpa senyum.

__ADS_1


“Mba, maaf kalau saya harus berbicara seperti ini. Saya tidak mau kalau sampai Pak Bram memberikan wejangan kepada kita berdua karena kita yang bertemu dengan PT Kencana tadi. Saya harap mba bisa fokus mendengarkan presentasi produk yang mereka paparkan. Bagaimana kalau Pak Bramasta menanyakan kepada Mba tentang keunggulan mesinnya? Bukan hanya mba yang akan kena imbasnya tetapi saya juga, mohon kerjasamanya mba” kata Arya panjang lebar.


Glek.


Eve menelan ludahnya paksa.


“Silan aku diceramahi anak ingusan”batinnya kesal. Jiwa Bossy nya meraung-raung. Tidak terima orang yang bisa dibilang juniornya menceramahi dia seperti itu.


“Lihat saja Arya, kamu belum tahu berurusan dengan siapa” batin Eve.


“Maaf ya mba sudah berkata yang tidak pantas. Tapi ini untuk kebaikan kita bersama” imbuh Arya karena Eve hanya diam.


Eve berpura-pura tersenyum.


“Gak apa-apa Arya. Aku senang kalau ada yang ingetin aku. Lain kali jangan segan ingatkan aku lagi ya kalau aku ada keliru”jawab Eve akhirnya. Sungguh dalam hati dia mengutuki Arya yang sudah berani menceramahinya. Rasa kagum nya sudah hilang menjadi benci. Dia akan membalas Arya secepatnya dan mempermalukan Arya.


“Terima kasih mba sudah mau mengerti. Kalau begitu saya duluan ya mba” pamit Arya kemudian kembali ke ruangannya.


“Sialan, dia udah permaluin aku. Bisa-bisanya anak ingusan ceramahin aku” dumal Eve pelan. Di ruangan itu hanya ada dia sendiri, tetapi dia tidak mau ada yang lewat dan mendengar gerutuannya.


“Akan aku buat kamu malu Arya” batin Eve.


Eve kembali ke ruangannya dengan wajah kesalnya. Tim nya tidak ada yang berani menanyakan sebab musababnya. Mereka sudah hafal bila Eve dalam mode senggol bacok maka jangan sekali-kali mendekat supaya tidak kena getahnya.


Eve duduk di tempatnya sambil mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen. Memikirkan bagaimana caranya membalas perlakuan Arya padanya. Egonya yang tinggi masih tidak terima dinasehati anak ingusan seperti Arya. Menurutnya Kualitas Arya jauh dibawahnya. Dia hanya seorang asisten bukan seorang leader tapi sudah berani menceramahi dirinya.


“Aku apain ya dia?” otak licik Eve sudah beraksi. Memikirkan rencana untuk membuat Arya malu.

__ADS_1


“Tapi kayaknya anak itu gak punya malu. Aku buat aja dia dan pacarnya yang resek itu berantem. Iya… itu kayaknya paling masuk akal. Makanya jangan macam-macam sama Eve”. kata Eve dengan senyum menyeringai.


Saat jam istirahat, Eve menghampiri Arya keruangannya bertepatan dengan Arya yang akan makan siang dengan Tiara dan juga Wisnu.


“Eh Arya mau kemana?” tanya Eve dengan tersenyum manis.


“Mau makan siang mbak, Mbak mau nyari Pak Bram? Maaf tapi beliau gak bisa hadir hari ini”.jawab Arya.


“Bukan, Aku mau ngajak kamu makan siang”jawab Eve dengan tidak tau malunya.


Arya mengernyitkan kening bingung. Tidak ada angin tidak ada hujan tumben-tumbenan Eve mengajaknya makan siang bersama.


“Maaf mbak, kebetulan saya sudah ada janji. Apa mbak mau ikut?” tawar Arya. Tidak enak juga langsung menolak begitu saja. 


“Boleh deh. Sama Tiara kan?”.


Arya pun mengangguk sebagai jawaban.


Jadilah mereka beriringan menuju kantin. Di Kantin Tiara dan Wisnu sudah menunggu. Tiara begitu terkejut melihat Arya yang datang bersama Eve. 


“Mak lampir ngapain ikut?” tanya Wisnu sedikit berbisik.


Tiara hanya mengedikkan bahu tanda tidak tahu. Arya kemudian seperti biasa duduk disebelah Tiara, sedangkan Eve di sebelah Wisnu. Jadilah sekarang Arya berhadapan dengan Eve. Kesempatan ini pun digunakan Eve untuk memanas-manasi Tiara.


“Arya, terima kasih ya bantuannya tadi. Kalau tidak ada kamu gak tahu deh gimana tadi bingungnya aku” kata Eve memulai pembicaraan. Sontak saja perkataan Eve tadi membuat Tiara melihat ke arah Arya. Seolah menuntut penjelasan.


“Sama-sama mba, saya hanya menjalankan tugas dari Pak Bram” jawab Arya kemudian mulai memakan makan siangnya yang baru saja tiba.

__ADS_1


Arya tidak menghiraukan Eve lagi. Sedangkan Tiara bertanya-tanya dalam hatinya. Bantuan apa yang kira-kira diberikan Arya untuk Eve.


Bersambung...


__ADS_2