
Tania hanya bisa terdiam mendengar amukan dari Alisya. Dia menyadari apa yang diucapkan Alisya adalah benar. Dia tidak memikirkan perasaan orang lain, dia hanya memikirkan dirinya sendiri dan balas dendamnya.
Tanpa mereka sadari, Dafa yang berada di dapur juga mendengar obrolan mereka. Pria itu, hanya bisa mendengar, dia tak mau ikut campur dalam urusan mereka. Karena itu adalah tanggung jawab Tania. Dia yang menyebabkan kekacauan tersebut. Dafa menyadari karena perasaannya terhadap alisya, dia tidak sadar jika sudah menyakiti hati Tania juga. Kasihan Alisya selama ini hanya bisa menanggung rasa sakit dari Adrian.
" Aku tahu aku salah dalam hal ini. makanya aku ingin meminta maaf. Aku ingin menebus semua kesalahanku. Aku minta maaf Alisya, aku salah. Aku sudah menyakiti perasaan ku selama ini." ujar Tania memohon.
Tania berjalan mendekati Alisya, berusaha meraih tangan Alisya. Sebagai bentuk ketulusannya dalam meminta maaf.
" Kak, bukan aku yang kakak perlu meminta maaf, tetapi Adrian. Selama aku menikah dengannya, hanya kakak yang Adrian cintai, bukan aku. Adrian sangat mencintai kakak. Seharusnya kakak meminta maaf kepadanya, bukan aku. Bagaimana perasaan Adrian jika dia tahu kakak cuman memanfaatkannya saja." ujar Alisya geram.
" Aku akan menjelaskan semuanya kepada Adrian, tapi aku perlu meminta maaf kepadamu juga Alisya. Aku menyebabkan kamu merasakan sakit hati selama ini. Maafkan aku Alisya." pinta Tania memelas.
Alisya menarik nafasnya sejenak, mencoba menjernihkan pikirannya. "Kak, aku paham apa yang kakak rasakan. Kita sama-sama perempuan, kita mencintai orang yang tidak mencintai. Jika aku diposisi kakak, aku mungkin akan melakukan hal sama. Namun sayangnya pikiran ku tidak selicik itu. Jadi, aku sudah memaafkan kakak." ujar Alisya tanpa sadari air matanya menetes, air matanya yang mengakui jika cintanya tidak akan terbalas.
Tania tersenyum, hatinya sedikit lega mendengar perkataan Alisya. Gadis itu sudah memaafkannya. " Makasih Alisya." ucap Tania tersenyum memegangi tangan Alisya.
" Tapi kak, kakak harus menjelaskan semuanya kepada Adrian. Karena yang seharusnya kakak meminta maaf adalah Adrian." ujar Alisya.
__ADS_1
"Iya, Al. Makasih.. Aku sudah berencana menjelaskan semuanya kepada Adrian juga." ujar Tania.
" Hiks... aku... bisa melihat wajah Adrian yang sedih.. jika dia tahu kakak selama ini tidak mencintainya.. Padahal Adrian sangat mencintai kakak.." ujar Alisya sambil menangis.
" Siapa bilang hanya Tania yang aku cintai Al?" celetuk seseorang yang baru masuk, siapa lagi kalau bukan Adrian.
" Adrian.." ucap Alisya terkejut melihat suaminya baru saja masuk kedalam rumah.
" Iya Al. Ini aku... Aku mendengar semuanya di luar, Tania. Aku tidak menyangka selama ini aku ditipu oleh mu. Kamu tahu Tan, dulu aku sangat mencintaimu bahkan tak segan aku menyakiti perasaan istriku. Aku pikir selama ini kamu juga mencintai ku, ternyata semua hanyalah palsu." ujar Adrian geram.
Tania begitu terkejut, dengan kedatangan yang tiba-tiba dari Adrian. "Adrian... Aku minta maaf... Aku tahu aku salah.. Aku salah besar dalam hal ini.. Rasa cemburuku terhadap Alisya, membuatmu juga ikut terjebak dalam hal ini. Maafkan aku Adrin.. Aku mohon.. Maafkan aku.." pinta Tania menangis mengakui kesalahannya.
" Ak... aku minta maaf ... Aku minta maaf..." pinta Tania berlutut dihadapan Alisya dan Adrian, memohon untuk dimaafkan kesalahannya.
" Tidak segampang itu, Tania. Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan mu. Kamu sudah membuat ku gila karena mencintaimu." ujar Adrian geram.
Alisya hanya menangis, dia menyadari jika disini bukan dia yang merasa sakit hati karena mengetahui kebenarannya. Tetapi juga adrian, pria itu pasti lebih sakit darinya. Alisya menatap suaminya itu, wajah Adrian memerah. Sepertinya adrian sedang menahan amarahnya. Dia tidak ingin memukul gadis yang berlutut dihadapan dia dan Adrian.
__ADS_1
" Alisya, kamu sekarang sudah tahu, kan. Aku tidak mungkin mengkhianati mu. Aku tidak menyentuh Tania sama sekali. Saat itu aku memang berniat bertemu dengan Tania. Tetapi bukan untuk balikan, atau menerimanya ke kehidupan ku. Aku hanya ingin memastikan perasaanku sebenarnya." ujar Adrian ingin menyelesaikan semua masalah yang terjadi antar dirinya dengan Alisya.
" Aku juga meminta maaf karena tidak percaya padamu.Tapi.. aku butuh waktu untuk kita bisa bersama. Bunga, mari kita pulang." ujar Alisya mengajak bunga untuk pergi dari tempat itu.
" Alisya.. Aku mohon tinggallah disini bersama kami. Setidaknya kita bisa menyelesaikan ini bersama-sama. Disini aku juga ingin meminta maaf, aku juga tahu rencana Tania. Aku yang membantunya mengambil foto serta mengirimkannya padamu. Aku mohon menginaplah disini bersama. Setidaknya kita bisa menjadi teman setelah menyelesaikan semuanya." pinta Bagas.
" Dengan bodohnya aku tidak menyadari bahwa kehadiran kakak dan kebaikan kakak yang menemani ku saat itu hanyalah tipu muslihat untuk melancarkan aksi kalian berdua. Aku mungkin bisa memaafkan tapi untuk tinggal dan berharap menjadi teman lagi. Aku butuh waktu akan hal itu. Aku perempuan, aku merasa sakit hati karena sudah dibodohi oleh kalian berdua." ujar Alisya pergi sambil menarik tangan bunga.
" Al, tunggu dulu.. Aku mohon maafkan aku.. Kamu sudah tahu semuanya, kan. Al, aku tidak bisa jika kamu harus pergi dari kehidupan ku. Aku mohon kita balik lagi seperti dulu." pinta Adrian menyusul istrinya.
Alisya menatap wajah Adrian, wajah yang selama dia rindukan. Dia tidak menipu dirinya Jia dia sangat merindukan pria yang dihadapannya kini. Alisya menarik nafasnya pelan-pelan menghembuskan. Menatap lekat wajah pria itu, lalu berkata, " Aku tidak bisa, aku tidak bisa.. memaksa diri untuk terus berharap menjadi orang yang ada di hatimu."
Alisya terus menarik tangan bunga untuk pergi, bunga melihat sekilas wajah Bagas. Bunga menarik kembali tangannya, " Maafkan aku, Al. Bukannya aku ikut campur masalah kalian. Tetapi Al, kamu juga tidak bisa membohongi dirimu. Aku tahu kamu masih mencintai Adrian." ujar bunga.
" Aku sudah bilang, aku butuh waktu.. aku tidak bisa jika aku harus bertahan hanya karena aku cinta sedangkan dia..."
" Aku mencintaimu." ujar Adrian mendekati Alisya.
__ADS_1
Alisya memejamkan matanya mencerna kalimat yang baru saja dia didengar. Kalimat yang selama ini dia rindukan dari mulut pria itu. Kalimat itu dengan indah keluar dari mulut suami yang cintainya itu.