
Alisya pulang ke hotel, dengan pikiran masih bingung. Dia masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Dafa padanya. Memang tidak salah jika Dafa menjadi orang yang dipercaya Alisya untuk mencurahkan masalah yang ada dipikirannya. Saat dirinya tiba di hotel, dia kembali bertemu dengan Adrian yang kebetulan tengah duduk sendirian di lobi.
Alisya memandang suaminya, dia kepikiran dengan apa yang dikatakan Dafa. Seolah berharap jika yang katakan Dafa mungkin ada benarnya. Adrian mungkin sudah mulai mencintainya, meski menyadarinya terlambat. Namun, Alisya masih ragu untuk mendekati suaminya yang tengah duduk memainkan ponselnya.
Adrian melihat Alisya berdiri memandanginya, Adrian berdiri dan menghampiri Alisya. " Al, kamu dari mana? tadi aku tanya sama bunga katanya kamu ada keluar, makanya aku menunggu di lobi." ujar Adrian.
" Aku ingin bicara denganmu. Bisa kita keluar sebentar." ujar Alisya.
Adrian sedikit terkejut dengan apa yang barusan didengarnya. Alisya akhirnya mau berbicara dengannya. Apa ini akan menjadi kesempatan untuk mereka berdua kembali bersama. Adrian sangat berharap jika yang keluar dari mulut Alisya nanti ialah Alisya menerimanya kembali.
Mereka berdua menuju sebuah cafe yang tidak jauh dari hotel. Alisya hanya memesan minum sebab sebelumnya dia sudah berkunjung ke cafe lain untuk bertemu dengan Dafa.
" Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Adrian.
" Pesanlah dulu makanan." ucap Alisya.
" Baiklah."
Adrian mulai memesan minuman dan juga makanan untuk menemani mereka berdua mengobrol. " Kamu mau makan apa?" tanya Adrian.
" Tidak usah, aku sudah makan. Perutku masih kenyang." tolak Alisya.
Setelah memesan, tanpa basa basi Alisya mulai pembicaraan. Namun, sebelum mengeluarkan kata dari mulutnya, gadis itu menarik nafas lalu menghembuskan dengan perlahan. "Adrian, aku akan berkata jujur hari ini. Sulit bagiku untuk percaya lagi padamu. Kamu pasti tahu, aku perempuan terlalu banyak rasa sabar yang aku jalanin selama menjalani pernikahan denganmu. Sabar dengan harapan jika kamu mencintaiku. Tetapi kamu patahkan setelah kejadian tempo di kota ini." ujar Alisya.
__ADS_1
" Tapi Al, itu sudah kamu udah penjelasannya, kan. Semuanya cuma rekayasa Tania saja." ujar Adrian.
" Aku tahu, tapi yang menjadi permasalahan bukan rekayasanya. Melainkan kamu berbohong Adrian, kamu menemui Tania tanpa bicara kepadaku. Disitu aku menyadari jika kamu masih mencintainya." ujar Alisya.
" Al, awalnya aku mengira jika aku masih mencintainya, namun setelah aku menemuinya yang dipikiran ku hanya kamu. Aku tidak menyakiti mu, itulah sebabnya aku berbohong. Dan lagi pula aku ingin menyelesaikan hubungan ku dengan Tania yang dulu digantung begitu saja. Bukan berarti aku ingin bersama Tania."
Adrian perlahan mencoba memegangi jemari tangan istrinya. " Al, aku menyesal.. aku minta maaf.. aku baru menyadarinya... Aku benar-benar tidak jika aku sudah mulai memiliki perasaan denganmu. Hanya karena hubungan ku dan Tania belum selesai, aku malah justru fokus dengan itu. Tanpa sadar jika perasaanku kepadamu sudah mulai tumbuh. Aku tidak memaksa atau memohon kepadamu kali ini. Aku hanya ingin kamu tanya pada hatimu, sebelum kamu memberikan keputusan." ujar Adrian yang pasrah dengan keputusan yang nantinya diambil oleh Alisya.
Entah kenapa kalimat terakhir yang di sama persis dengan apa yang dikatakan oleh Dafa. Seolah mereka berdua tidak ingin Alisya mengambil keputusan yang gegabah. Dan Adrian seperti sudah pasrah dan menerima segala keputusan yang akan diambil oleh Alisya.
" Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Alisya.
" Itu karena aku menyesali semuanya. Dan soal keputusan mu aku tidak memaksa meski nantinya kamu tidak lagi memberikan ku kesempatan. Karena bagiku setiap keputusan mu itu pasti yang terbaik meski harus menyakiti perasaanku. Dan aku merasa aku pantas menerimanya, karena selama ini aku sudah menyakiti perasaanmu, mungkin itu balasan untukku." ujar Adrian menyadari kesalahannya.
" Aku butuh waktu.. begitu berat bagi ku untuk dengan cepat mengambil sebuah keputusan. Aku butuh waktu untuk berpikir, butuh waktu untuk bertanya pada diriku sendiri keputusan mana yang terbaik untuk diriku." ujar Alisya meminum minuman pesenannya, lalu bangkit untuk membayar pesanannya.
" Kamu mau pergi?" tanya adrian, dia tidak ingin Alisya pergi begitu saja. Dia ingin berlama-lama dengan Alisya.
" Hmm.. aku harus pergi. Ada yang harus aku urus bersama bunga. Aku akan kasih jawaban nanti saat sampai di Jakarta." ujar Alisya berlalu.
Adrian hanya bisa memandang kepergian Alisya. Dia meminum minumannya dan juga tak lupa memakan makanan yang dipesannya. Soalnya sedari tadi makanan itu hanya bisa menonton percakapan Alisya dan Adrian tanpa disentuh oleh mereka berdua sama sekali.
Bunga yang tidak kemana-mana hari ini. Ditelfon oleh Bagas untuk bertemu. Bunga menolak karena dia ingin bersama dengan Alisya sebab dia tidak mau jauh saat Alisya masih dalam keadaan galau. Sebagai sahabat, mungkin dengan keberadaan disamping Alisya, perasaan Alisya mungkin bisa membaik.
__ADS_1
" Bunga, sekali saja sebelum kamu berangkat ke Jakarta. Aku ingin kita bertemu dan jalan-jalan mengelilingi Surabaya. Kamu pasti belum jalan-jalan, kan." bujuk Bagas dalam telefon.
" Iya, tapi aku tidak bisa meninggalkan Alisya begitu saja. Alisya masih sedih karena kejadian kemarin." ujar bunga.
" Aku mohon, setidaknya ini momen yang tidak bisa dilewatkan. Kamu bisa bicara baik-baik dengan Alisya. Aku yakin Alisya mengizinkan mu pergi. Kalau perlu kamu ajak aja Alisya sekalian kita jalan-jalan bersama." bujuk Bagas supaya bunga mau ikut jalan-jalan dengannya.
" Aku akan bicara dengan Alisya dulu.." ucap bunga menyudahi telefon mereka.
Alisya baru saja tiba di kamar, dia meletakkan tas kecilnya di atas kasur. Lalu membaring badannya menatap langit-langit kamar hotelnya.
" Ada apa, Al?" tanya bunga dengan lembut.
" Aku ragu akan keputusan yang nantinya aku ambil." ujar Alisya.
" Perasaan mu gimana?" tanya bunga yang memastikan apakah Alisya masih mencintai Adrian atau sudah membencinya.
" Aku masih mencintainya." jawab Alisya.
" Lalu yang menjadi kamu ragu apa. Jelas-jelas perasaan masih mencintai Adrian. Dan cintamu juga terbalas, kan." ujar bunga.
" Iya, yang membuatku ragu adalah perasaan Adrian. Apa perasaannya itu tulus, karena aku tidak mau disakiti lagi."
" Saranku, dari pada kamu menyakiti diri dengan berpura-pura untuk tidak mencintainya itu justru malah menyakiti dirimu. Lebih baik kamu jujur saja, jika perasaanmu masih sama. Dan mungkin menjalani rumah tangga dengan saling mencintai justru akan berbeda rasanya. Tapi itu tergantung dari kamu, Alisya." ujar bunga.
__ADS_1
Alisya terdiam, lagi-lagi semuanya tergantung pada Alisya.