Mengejar Cinta Mu

Mengejar Cinta Mu
Bab 90


__ADS_3

Tania terdiam mendengar semua perkataan Bagas. Apakah dia tidak sadar jika selama ini Dafa sudah memperhatikannya. Tani meminum minumannya, belum ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Gadis itu masih terdiam memikirkan semua perkataan Bagas barusan.


" Tan, lebih baik kita memperbaiki semuanya yang telah terjadi. Masih ada kesempatan bagi kita untuk memperbaikinya." ujar Bagas memandang Tania.


" Aku butuh waktu memikirkan ini semua." ujar Tania.


Bagas mengerti maksud Tania, dia pasti butuh waktu untuk menyesali dirinya. Sudah terlalu lama dia menyakiti perasaan orang lain.


" Kalau begitu aku pergi dulu. Kasihan karyawan ku di cafe, udah sering aku tinggal." ujar Bagas berdiri pergi meninggalkan Tania.


Alisya bersiap menuju cafe untuk bertemu dengan Dafa. Soalnya kemarin seharian dia terlarut dalam sedihnya. Bahkan bunga yang terus memaksa untuk keluar rumah pun Alisya terus menolak. Dia menaiki taksi menuju cafenya Bagas, dimana cafe itu merupakan teman tongkrongan dia bersama Dafa dan bunga.


Meski dalam hati dia takut jika tidak sengaja bertemu dengan Adrian. Hati Alisya belum siap untuk bertemu dengan suaminya. Alisya masuk ke dalam cafe, Dafa sudah menunggunya disana sambil duduk meminum kopi moccacinonya.


" Hay kak." sapa Alisya duduk dihadapannya Daffa.


Bagas juga baru saja datang, dia terkejut melihat Alisya sudah berada di dalam cafenya. Bagas buru-buru mendekati Alisya dan menanyakan apa ingin dia pesan.


" Aku memesan ice mocca latte satu dengan brownies coklat ya kak." ujar Alisya tersenyum.


Bagas memperhatikan wajah gadis dihadapannya itu. Gadis itu memang sedang tersenyum namun, dari raut wajah terlihat masih belum bahagia seperti senyumannya. Mata sembabnya sangat terlihat, pasti gadis itu baru saja nangis semalaman. Bagas tidak mau bertanya banyak, dia hanya menjalani tugasnya menjadi sebagai pelayan.


" Bagaimana? Perasaan mu udah lega?" tanya Dafa. Dia tahu gadis itu belum hatinya belum baik-baik saja.


" Hmm.. Aku gak mau terlarut dalam kesedihan lagi." ujar Alisya sambil tersenyum menyembunyikan luka yang masih dirasakan.


" Jangan terlalu memaksa jika belum membaik. " ujar Dafa. Hany dibalas anggukan oleh Alisya.


" Tadi Adrian kesini, Bagas yang bilang padaku." ucap Dafa.

__ADS_1


" Ngapain dia kesini?" tanya Alisya.


Alisya begitu heran dengan suaminya. Disaat dirinya sedang bersedih menangisi dirinya sendiri. Suaminya malah berkunjung ke cafe. Entah apa yang dipikirkan suaminya itu.


" Dia mencari mu." ucap Dafa.


" Kenapa mesti mencarikan? bukannya ini yang dia mau?" ujar Alisya. Dari nadanya dia begitu kesal dengan suaminya. Bukankah ini yang suaminya inginkan, menyaksikan dirinya yang terluka.


" Aku tak tahu. Mungkin dia ingin meminta maaf." ujar Dafa.


" Tak perlu meminta maaf." ucap Alisya.


Dafa memandang Alisya, gadis itu terlihat marah jika membahas tentang Adrian yang ingin menemuinya. Alisya nampaknya belum sembuh, kejadian kemarin lalu benar-benar menyimpan luka begitu dalam. Dafa terus memandang gadis itu, dia menyadari tidak ada kesempatan bagi dirinya untuk memiliki gadis itu. Meski kejadian seperti kemarin pun, tidak akan pernah lunturnya cinta Alisya untuk Adrian. Alisya begitu mencintai suaminya, pengkhianat yang dilakukan Adrian saja membuat luka hati Alisya begitu besar. Namun, gadis itu nampaknya tidak membenci suaminya.


" Lalu selanjutnya kamu bagaimana? Sampai kapan kamu harus sembunyi seperti ini?" tanya Dafa.


Belum sempat dijawab Alisya, Bagas datang dengan nampan membawa ice mocca latte untuk Alisya. Bagas berdiri sejenak hendak memberi tahu jika Adrian kemarin lalu mencarinya di cafe.


Setelah mendengar itu Bagas lalu berlalu, dia tidak mau ikut mencampuri percakapan mereka berdua. Dia tidak mau Alisya tahu jika dirinya juga terlibat mengenai foto yang Alisya dapatkan. Bagas ingin menunggu keputusan Tania mengenai masalah itu. Karena Tania yang meminta untuk ikut membantu rencana itu.


" Aku belum kepikiran, apakah aku harus kembali menjadi istri Adrian atau menyudahi saja." ujar Alisya.


" Al, aku harap kamu tenang dulu dalam mengambil keputusan. Aku tahu kamu begitu mencintai Adrian, tidak mudah bagimu untuk melepaskannya. Aku rasa lebih baik, kamu memaafkannya." ujar Dafa.


Jawaban itu, sebenarnya hati Dafa tidak ingin melontarkannya. Pesan yang begitu menyiksa hatinya. Tetapi dia juga tidak mau menyakiti gadis dihadapannya ini. Keputusan yang Dafa mungkin yang terbaik oleh Alisya.


" Aku akan memikirkannya, untuk saat ini hanya rasa sakit yang rasakan." ujar Alisya.


Sudah hampir seminggu, Adrian hanya sendirian di rumah. Hampir seminggu lebih pria itu tidak masuk kerja. Bella sang sekretaris terus menelfon menanyakan keadaan bosnya. Sebab semenjak dari Surabaya, bosnya itu selalu meminta Bella untuk mengurus semua kerjaan. Hal itu membuat Bella khawatir dengan keadaan bosnya. Tetapi apa daya setiap ditanya, baik Adrian maupun sahabat Adrian Jefri selalu menjawab Adrian baik-baik saja.

__ADS_1


Adrian duduk di sebuah cafe pinggir jalan. Meminum teh tarik yang dipesannya. Keadaanya begitu kacau, karena sudah seminggu dia mencari istrinya. Namun, sosok Alisya belum pernah dia temui.


Jefri datang dengan pakaian yang masih rapi, layaknya orang sedang pulang kerja. Jefri menghampiri lalu duduk disampingnya.


" Apa yang terjadinya?" tanya Jefri tanpa sapa ataupun menanyakan kabar sahabatnya itu.


Melihat keadaannya, Jefri sudah pasti jika Adrian sedang ada masalah. Entah apa itu, makanya Jefri langsung bertanya. Karena seminggu tidak masuk kerja, Jefri juga merasa khawatir dengan sahabatnya itu. Adrian pun akhirnya mengajaknya untuk bertemu di cafe pinggir jalan.


" Pesan dulu, gak enak sama yang menjual." ucap Adrian tanpa dulu menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya.


Jefri mengangkat tangannya, memanggil pelayan cafe. Pelayan datang dan menanyakan apa yang dipesan oleh Jefri.


" Americano satu." ucap Jefri. Seketika pergi menuju dapur, mungkin ingin membuat pesanan dari Jefri.


" Jadi sekarang ceritakan padaku, Apa yang terjadi? Sampai dirimu menjadi seperti ini " ujar Jefri.


Adrian menghela nafasnya, mengaduk teh tarik pesanannya dengan sendok.


"Alisya pergi meninggalkan aku." ucap Adrian singkat tanpa menceritakan semuanya.


" Kok bisa! Bukannya justru bagus, ini kesempatan untuk kamu bersama Tania, kan." ujar Jefri. Namun melihat keadaan Adrian sepertinya berita itu tidak bisa dikatakan berita bagus untuk adrian sendiri.


" Dari penampilanmu sekarang, jangan-jangan kamu mulai mencintai Alisya." ujar Jefri menebak.


" Aku tak tahu, yang jelas aku tidak mau kehilangannya. Aku sudah mencarinya seminggu ini. Namun, aku belum juga menemukannya. Aku tahu aku salah kali ini." ujar Adrian.


" Dengan kamu merasa tidak mau kehilangannya. Bukankah berarti kamu sadar jika perasaanmu sudah berubah." ujar Jefri.


" Kayaknya. Sebelum kejadian ini aku bertemu dengan Tania." ujar Adrian.

__ADS_1


" Serius, jadi Alisya pergi karena dia tahu kamu bertemu dengan Tania. Lalu apa yang rasakan saat bertemu dengan Tania?" tanya Jefri yang penasaran dengan perasaan yang dimiliki oleh sahabatnya.


" Aku..."


__ADS_2