
Tanpa sadar Tiara ketiduran menunggu suaminya mencuci piring sambil membuat minuman hangat. Efek minyak aromaterapy yang dia pakai di hidung dan kening membuatnya menjadi mengantuk.
Saat Arya masuk ke kamar dengan minuman hangatnya, saat itu juga dengkuran halus sudah terdengar. Menandakan sang istri sudah terbuai ke alam mimpi.
Arya letakkan minuman itu di atas nakas. Untuk membangunkan sang istri pun rasanya kasihan. Lebih baik Tiara dibiarkan beristirahat karena flu memang obatnya adalah tidur.
Setelah meletakkan minuman tersebut, Arya memilih melanjutkan pekerjaannya. Selain menyiapkan jadwal Pak Bram besok, Arya juga rajin mempromosikan restoran dan catering milik keluarganya. Dia juga mengirim banyak proposal penawaran kepada beberapa klien yang bekerjasama dengan Bramasta Group. Tentu saja Pak Bram sudah mengijinkan Arya melakukan itu, Arya tidak mungkin berani bila belum mendapatkan ijin. Walau produk yang ditawarkan berbeda tetap saja Arya tidak ingin dianggap sebagai seorang yang merebut pelanggan.
Padahal hal itu sebenarnya sah sah saja dilakukan.
Saat sedang asyik bekerja, Tiara terlihat gelisah dalam tidurnya. Terlihat dari dia beberapa kali merubah posisi tidurnya. Melihat itu Arya pun menjeda pekerjaannya. Dia mendekat ke arah istrinya dan menyentuh keningnya.
"Panas sekali" guman Arya. Dia kemudian mengambil kompres instan di dalam lemari pendingin dan menempelkannya di kening istrinya.
__ADS_1
Merasa benda aneh menempel di tubuhnya membuat Tiara terbangun.
"Tidur lagi" ucap Arya sambil mengelus rambut Tiara.
Tiara pun mengangguk dan memejamkan matanya kembali. Tubuhnya terasa dingin, hidungnya mampet serta kepalanya sedikit pening.
Arya terus mengelus-elus rambut istrinya hingga Tiara kembali tertidur. Arya melirik jam yang menggantung di dinding kamarnya. Waktu menunjukkan sebentar lagi jam 12 malam. Arya kemudian memutuskan untuk menghentikan pekerjaannya. Dia bangkit dari duduknya menuju laptop yang tadi dia tinggal. Dia matikan laptop tersebut dan merapikan berkas-berkas yang tadi dia kerjakan. Setelahnya dia menyusul sang istri untuk menjelajahi dunia mimpi.
...----------------...
Dia letakkan bubur yang masih panas itu di atas nakas dan menutupnya. Setelahnya dia melesat ke kamar mandi takut ke siangan berangkat kerja.
Selesai mandi Tiara belum juga bangun dari tidurnya. Arya memilih langsung berpakaian baru membangunkan istrinya.
__ADS_1
Saat itu juga Tiara bangun dari tidurnya. Dia merasa sangat malas untuk bangun. Tiara pun tidak mengerti kenapa itu bisa terjadi. Aroma bubur yang sangat menggiurkan pun tidak membuat Tiara tertarik. Tiara duduk bersandar di kepala ranjang, dia tarik laci nakas di sebelahnya dan mengambil termometer untuk mengecek suhu tubuhnya. Pantas saja dia merasa panas dingin, suhu tubuhnya mencapai 39 derajat celcius.
"Dimakan dulu buburnya, habis itu minum obat ya. Kalau nanti sore belum turun kita ke dokter" ucap Arya lalu mengecup kening istrinya.
"Aku usahain pulang cepet" ucap Arya pula.
"Maaf ya Aku tidak bisa nemenin di rumah. Nanti siang Aku minta Ibu datang" lanjutnya.
"Gak usah yank. Aku gak apa-apa kok" sahut Tiara. Dia tidak mau merepotkan mertuanya. Apalagi pesanan catering sedang banyak-banyaknya. Maklum lagi musim nikah.
"Ya udah kalau gitu. Di magic com sudah ada bubur. Nanti siang makan itu dulu ya" ucap Arya mengalah.
Tiara pun menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Arya mencium kening istrinya sebelum berangkat bekerja. Sebenarnya dia ingin dirumah saja menemani istrinya tapi pekerjaan hari ini benar-benar tidak bisa ditinggal. Dengan berat hati dia terpaksa meninggalkan istrinya.
Bersambung...