
Alisya sudah membuat keputusan dan menurut keputusan yang diambilnya merupakan keputusan yang terbaik untuknya. Alisya juga sudah memutuskan tentang hubungan kerja sama untuk bisnisnya. Alisya tidak ingin bekerja sama. Karena untuk membuka cabang bisnis dia ingin membukanya sendiri tanpa harus mendapatkan modal dari orang lain. Semua urusan sudah dibereskan, namun saat Alisya memutuskan untuk balik ke Jakarta. Bunga meminta satu hari lagi untuk menginap.
" Kenapa? bukannya urusan pekerjaan sudah selesai." ujar Alisya.
" Iya, kita udah di Surabaya loh, Al. Masa kamu tidak ingin jalan-jalan." ujar bunga.
" Aku sudah jalan-jalan kok. Dulu saat pergi dengan Adrian, aku juga sudah jalan meski cuma sebentar." ujar Alisya mengingat kenangan pahitnya saat di Surabaya bersama Adrian.
" Itu saat kamu dengan Adrian. Tapi kamu belum jalan-jalan denganku." ujar bunga.
" Bilang saja kamu mau jalan-jalan dengan Bagas. Iya, kan?" ujar Alisya menebak sebab dia tidak sengaja mendengar percakapan bunga yang sedang telfonan dengan Bagas.
" Kok kamu tahu." ucap bunga merasa dia tidak perlu lagi membujuk Alisya.
" Aku tahu lah, suaramu yang telfonan itu kedengaran. Maaf ya, gara-gara aku kemarin kalian berdua tidak jadi keluar." ujar Alisya meminta maaf sebab kemarin Bagas sudah mengajak bunga. Namun karena Alisya masih galau jadi bunga memutuskan untuk tidak pergi bersama dengan Bagas, agar dirinya bisa menemani Alisya.
" Tidak apa-apa, Al. Menemani mu itu lebih penting." ujar bunga memeluk sahabatnya.
Akhirnya Alisya mengizinkan bunga untuk pergi, dan menunda kepulangan mereka ke Jakarta. Bunga sangat senang, akhirnya dia bisa berjalan-jalan melihat kota Surabaya. Tetapi Alisya tidak ikut, dia ingin seharian di kamar hotel. Karena khawatir bunga ingin menolak untuk tidak keluar, namun Alisya terus dengan mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
" Ayolah Al, kamu ikut ya. Masa aku sendirian. Aku mau sama kamu." pinta bunga yang ingin Alisya juga ikut dengannya.
" Aku lagi malas untuk keluar. Kamu juga tidak sendiri, ada Bagas yang menemani kamu, kan." ujar Alisya.
Bunga terus memaksa, mau tidak mau dengan terpaksa juga Alisya menuruti untuk pergi bersama bunga. Mereka mulai bersiap-siap untuk keluar. Saat sedang keluar dari kamar hotel. Tidak sengaja mereka berpapasan dengan Adrian. Sepertinya adrian mau check out dari hotel karena terlihat Adrian membawa tas besar. Bunga menyapa Adrian, " Hay Adrian.. kamu udah mau pulang ke Jakarta?" tanya bunga melihat tas besar disamping Adrian.
" Iya nih, soalnya ada urusan pekerjaan yang harus diselesaikan. Kalian berdua belum pulang?" ujar Adrian melihat mereka tidak membawa koper.
" Belum, kita berencana mau jalan-jalan. Aku mau mengajak mu untuk ikut, tapi kalau kamu mau ke Jakarta. Ya, tidak jadi deh. Kamu hati-hati ya." ujar bunga.
Alisya menyenggol lengan bunga seolah memberi isyarat. " Kenapa kamu tidak kasih tahu aku kalau kamu mau mengajak Adrian juga?" bisik Alisya didekat bunga.
" Oh, kalau aku bilang kamu pasti tidak akan mau. Ini saja, kamu aku paksa dulu baru mau ikut." ujar Bunga karena dia sudah sangat hafal dengan watak dari Alisya sahabatnya.
__ADS_1
Adrian nampaknya sedikit kecewa mendengar perkataan Bunga. Seolah menjelaskan jika Alisya seperti tidak ingin bertemu dengannya.
" Kalian pergilah.. Aku harus segera check out karena pesawat tidak akan lama." ujar Adrian bukan niat mengusir, tetapi dia ingin agar Alisya tidak melihatnya karena itu memang keinginan gadis itu.
" Oh gitu.. kita mau pergi kok. Alisya kamu tidak mengucapkan kalimat hati-hati diperjalanan untuk suamimu." ujar Bunga.
" Apaan sih!" Alisya begitu malu, saat bunga berkata seperti itu. Dengan malu, dia berkata, " Kamu hati-hati diperjalanan ya. Aku akan kabari kamu saat di Jakarta." ujar Alisya.
Adrian tersenyum mendengar kata perhatian dari istrinya. Sudah lama kalimat-kalimat seperti itu tidak dia dengar lagi dari Alisya.
" Iya, kamu cepat pulang ya. Aku menunggu jawaban mu." ujar Adrian tersenyum.
Bunga dan Alisya bersama dengan Bagas mereka bertiga berjalan-jalan mengelilingi kota Surabaya. Tiba-tiba Bagas mendapat sebuah telfon.
" Hallo.."
" Sampai kapan kamu meninggalkan aku sendiri." ujar seseorang ditelfon.
" Kamu mau aku menjemputmu sekarang." tanya bagas.
" Tapi..."
" Tidak ada tapi-tapi.. aku tunggu.." telfon dimatikan.
Bagas melihat ke arah kaca karena Alisya duduk di pintu belakang. Bunga menyadari gerak-gerik mencurigakan dari Bagas.
" Ada apa? emangnya siapa yang menelfon?" tanya bunga.
" Begini... Tadi Tania menelfon agar aku segera menjemputnya. Eum.. hanya saja aku merasa..."
" Kamu tidak usah memikirkan aku. Aku sudah berusaha memaafkan kesalahan kalian dimasa lalu." ujar Alisya.
Bagas tersenyum, dia tidak menyangka jika Alisya punya pemikiran yang sedewasa itu. Pantasan Dafa sangat menyukainya, Alisya tipekal gadis yang baik. Bahkan dengan mudahnya dia belajar untuk memaafkan kesalahan yang mungkin tidak akan mudah bagi seorang perempuan.
__ADS_1
" Baiklah, aku menjemput Tania dulu. Setelah itu kita kembali jalan-jalan." ujar Bagas.
Adrian berada didalam pesawat, namun dia tidak menyangka jika dirinya akan satu pesawat dengan Dafa. Karena pertemuannya dengan Alisya, Dafa telat naik pesawat menuju Jakarta. Untuknya hari ini dia bisa mendapatkan tiket untuk pulang.
Mereka bukan hanya satu pesawat tetapi tempat duduk mereka juga berdampingan. Alhasil hanya kecanggungan yang tercipta diantara kedua pria itu. Adrian yang dulunya menganggap Dafa, teman biasa kini dia merasa jika Dafa bisa jadi saingan untuknya sebab Alisya masih belum memberikan keputusan untuknya.
" Kamu juga pulang hari ini?" tanya Dafa memulai percakapan.
" Iya, ada urusan pekerjaan soalnya." jawab Adrian.
" Aku kirain kamu belum pulang. Bagaimana Alisya sudah memberi keputusan?" tanya Dafa.
Adrian menatap Dafa, " Kamu tidak usah menatap ku seperti itu. Alisya menceritakan semuanya padaku. Dia bingung, tapi tenang saja aku tidak mengambil kesempatan saat dia merasa ragu padamu." ujar Dafa.
Adrian akhirnya memahami, jika Dafa sudah mengikhlaskan Alisya untuk bersama dengannya.
" Belum, dia bilang tunggu saat dia sampai Jakarta." ujar Adrian.
" Alisya tidak mungkin gegabah dalam mengambil keputusannya. Jadi kamu tunggu saja. Gadis itu pasti tahu mana yang terbaik untuknya." ujar Bagas.
Bagas melajukan mobilnya menuju bandara. Bunga merasa heran kenapa mereka harus menjemput Tania di bandara. " Kenapa kita ke bandara? emangnya Tania dari mana?" tanya bunga sebab dua hari yang lalu dia baru saja melihat Tania yang meminta maaf kepada Alisya, sekarang gadis itu berada di bandara.
" Tania baru saja mengantarkan Dafa. Makanya itu aku menjemputnya disini." ujar Bagas.
" Dafa juga ke Jakarta hari ini. berarti dia berbarengan dengan Adrian dong."
" Benarkah!"
" Iya, soalnya sebelum bertemu dengan mu kita melihat Adrian. Dia bilang jika dia akan ke Jakarta hari ini." ujar bunga.
"Ah itu dia." ucap Bagas melihat Tania berdiri sendirian.
Bagas berhentikan mobilnya dihadapannya Tania. Tania dengan kesal langsung masuk di tempat duduk bagian belakang.
__ADS_1
" Kamu lama banget sih! Dafa udah keburu sampai Jakarta karena menunggumu." ujar Tania kesal.
Namun mulutnya berhenti bicara saat melihat Alisya ada disampingnya. Suasana canggung pun tercipta.