
Happy Reading ❤️
Tiara sampai di rumah sudah menjelang jam 6 sore. Saat itu Arya pun sudah ada di rumah. Arya terlihat sedang memasak di dapur. Entah apa yang dia buat hingga tidak mendengar salam dari sang istri.
“Masak apa?” tanya Tiara sambil melingkarkan tangannya di perut sang suami. Tiara memeluk Arya dari belakang.
Arya menoleh pada sang istri kemudian menghadiahkan ciuman singkat di keningnya.
“Masak Tom Yam” jawab Arya sambil mengaduk masakannya.
“Kamu dari mana?” tanya Arya pula.
Tiara melepas pelukannya kemudian menyender tubuhnya di meja dapur menghadap sang suami.
“Tadi aku ke mall terus lihat Kak Arum”jawab Tiara.
Arya menghentikan sejenak kegiatan memasaknya kemudian menatap lekat pada sang istri.
“Dia nggak nyari masalah lagi kan?” tanya Arya. Arya yang sudah tau perangai Arumi tentu sedikit khawatir bila Tiara kembali bertemu dengan wanita tersebut.
Tiara menghela nafas sejenak.
__ADS_1
“Tadi Kak Arum jatuh. Dia sedang hamil besar, jadi aku antar ke rumah sakit” ucap Tiara.
“Terus bagaimana?” tanya Arya. Walau Arya tidak menyukai Arumi tapi tetap saja jiwa kemanusiaanya terpanggil.
“Aku belum tau kelanjutannya, semoga baik-baik saja. Tadi suaminya sudah datang saat aku tinggal pulang” jawab Tiara. Arya pun menganggukkan kepala.
“Iya, semoga saja Bayi dan Ibunya sehat” ucap Arya menimpali.
“Mandi dulu gih, bentar lagi makanannya siap” ucap Arya sambil mengelus puncak kepala istrinya.
Tiara mengangguk kemudian menghadiahi ciuman di pipi Arya.
…
“Tadi Kak Arum sebenarnya mengeluarkan kata-kata yang tidak enak di dengar” ucap Tiara curhat pada suaminya.
“Dia bilang apa? Pasti membandingkan kamu dengan dirinya yang sudah hamil kan?” tebak Arya. Dia sangat tau bagaimana karakter Arumi dan dengan mudah bisa menebak kemungkinan apa yang dia lakukan.
Tiara pun menganggukkan kepalanya.
“Aku sebenarnya kesal, tapi melihat dia yang kesakitan aku juga tidak tega” ucap Tiara. Rasanya tidak tega membiarkan Arumi kesakitan seperti tadi walau dia sendiri sangat kesal dengan kata-kata yang Arumi lontarkan.
__ADS_1
“Kamu terlalu baik. Tapi ada kalanya kita harus menjauh dari orang-orang seperti itu” ucap Arya sambil mengelus rambut istrinya.
“Kita harus memilih circle mana yang patut kita ajak berteman, bila sudah toxic seperti Arumi lebih baik kita jauh-jauh saja” ucap Arya pula.
Tiara pun menganggukkan kepalanya.
“Iya kamu benar yank, Aku tidak bisa membayangkan kalau setiap hari bertemu dengan orang seperti dia” ucap Tiara sambil terkekeh.
“Sama seperti aku yang setiap hari bertemu Eve, Eve dan Arumi sebelas dua belas” ucap Arya.
“Apa mbak Eve masih ngejar-ngejar kamu?” goda Tiara pada sang suami.
Arya malah tertawa.
“David yang sekarang jadi incarannya” jawab Arya saat tawanya sudah mulai reda.
“Wah cocok kayaknya itu” ucap Tiara menimpali.
“Iya, David sampai kesal sekali. Mana pacar David ngambek gara-gara Eve terus gangguin mereka” ucap Arya pula.
“Sampai kayak gitu? Kenapa Mbak Eve gak cari pria yang bebas aja, kenapa harus yang sudah memiliki kekasih?” ucap Tiara terheran.
__ADS_1
“Mungkin itu tantangan untuknya. Sudah jangan bahas itu lagi. Kita makan dulu sebelum melanjutkan yang lain” ucap Arya sambil tersenyum genit. Senyum yang Tiara sangat tau artinya apa.
Bersambung...