Mengejar Cinta Mu

Mengejar Cinta Mu
Bab 116


__ADS_3

Presentasi hari ini berakhir dengan berhasil dan bos besar menerima ide dari Adrian ini untuk memajukan perusahaan mereka. Meski hari ini Bella sang sekretaris harus datang telat dalam presentasi, namun Adrian tidak memperdulikannya. Mengingat kembali perkataan Alisya padanya, membuat dia sadar diri jika berawal dari rasa kasihan bisa menimbulkan benih cinta. Adrian lebih baik mencegahnya sebelum itu beneran terjadi. Mulai besok dirinya akan sibuk bersama dengan karyawan untuk proyek baru mereka nanti. Adrian juga tidak mau bergantung begitu besar kepada Bella juga, sebab dia ingin menghargai perasaan Alisya yang sudah mulai cemburu dengan adanya Bella berada didekatnya.


" Pak, maaf atas keterlambatan ku hari ini." Bella menemui Adrian di ruangan kerja sebagai permohonan karena terlambat di momen saat Adrian tengah mempresentasikan proyek terbaru perusahan mereka.


" Lain kali jangan diulangi!" Adrian bersikap tegas kali ini.


Bella berpikir jika respon yang Adrian tunjukan akan berbeda, namun sepertinya Bella salah menduga raut wajah Adrian sudah tidak terlihat sebagai seorang bos yang perhatian kepada karyawannya.


" Bella, ada yang harus aku bicarakan kepadamu." Adrian teringat dengan sikap lancang Bella yang diceritakan oleh Alisya kemarin malam.


" Iya pak, ada apa?"


Tiba-tiba pintu terbuka, Laras masuk membawakan sebuah dokumen untuk Adrian.


" Aku hanya ingin memperingati kamu, jangan pernah menyentuh barang yang bukan milikmu. Aku diberitahu oleh istriku jika kemarin malam kamu mengangkat telepon dari istriku, kenapa kamu begitu lancang menyentuh ponselku dan berani mengangkat telepon dari istri ku!" Kata Adrian raut wajah begitu marah karena sikap Bella yang mulai lancang terhadapnya.


Laras yang ingin mengembalikan dokumen hanya bisa berdiri diam dan tak berkutik karena melihat Adrian yang tengah memarahi Bella. Laras yang tak menyangka jika semalam Bella berbohong kepada dirinya dan juga Yoga mengenai dirinya yang dekat dengan Adrian dan diperbolehkan menyentuh ponsel bosnya. Dan akhirnya Bella sudah menunjukan sikap aslinya yang ternyata kurang sopan dan lancang seperti itu.

__ADS_1


" Maafkan aku pak, karena semalam istri bapak menelfon, aku tak tega jika tak memberi kabar makanya dengan lancang aku mengangkat telepon itu. Sekedar untuk memberi kabar kepada istri bapak." Ujar Alisya memberikan alasan.


" Cukup! Aku hanya memperingatkan, jika lagi-lagi kamu bersikap lancang seperti kemarin malam, meski cara kerja bagus di perusahaan ini namun aku tidak bisa mentolerir jika kamu bersikap lancang seperti kemarin malam. Sekarang kamu boleh keluar." Kata Adrian dengan tegas.


Dengan menunduk, karena tahu akan kesalahan, Bella keluar dari ruangan atasannya itu.Laras memandang Bella dengan tatapan mata tak suka. Berani sekali gadis itu berbohong seolah dekat dengan mereka. Benar-benar munafik begitu yang dipikirkan Laras ketika melihat Bella.


" Pak, ini dokumen yang bapak minta." Laras menyerahkan dokumen yang dibawanya


" Letakkan saja diatas meja." Ucap Adrian tanpa menoleh.


Laras melihat raut wajah atasannya itu, terlihat atasannya itu tengah ada masalah, wajah begitu gusar mungkin karena sikap Bella yang mengangkat telepon dari istrinya, membuat bosnya itu harus bermasalah dengan istrinya. Apalagi semalam pasti Bella pulang bersama dengan bosnya, yang menimbulkan permasalahan dirumah tangganya, pikir Laras. Laras merasa ini akan menjadi gosip yang bagus untuk teman-teman karyawan yang lain. Laras lalu keluar setelah meletakkan dokumen yang dibawanya diatas meja atasannya.


Sebagai sahabat Bunga tahu jika Alisya sudah seperti ini pasti perempuan itu sedang ada masalah dengan suaminya. Bunga menghampiri Alisya yang hanya duduk termenung sendirian.


" Al, makan siang yuk." Bunga mengajak Alisya mungkin dengan makan siang, setidaknya perempuan itu bisa tersenyum lagi.


" Lagi malas." Alisya menolak ajakan Bunga, karena dirinya tak bisa tenang memikirkan perkataan yang dilontarkan tadi kepada suaminya.

__ADS_1


" Gak ada malas-malasan, ingat dedek bayi juga butuh makan." Bunga membujuk dengan menarik tangan sahabatnya itu. Aksi tarikan tangan itu berakhir ketika seseorang memasuki butik.


Adrian dengan membawa kantong plastik yang berisikan masuk kedalam butik. Alisya terkejut melihat kehadiran, karena sudah lama suaminya itu tak pernah datang ke butik saat jam makan siang. Entah mimpi apa atau karena perkataan tadi pagi membuat suaminya itu bisa meluangkan waktu untuk mengantarkannya makan siang.


" Bilang saja suami mu datang mengantarkan makan siang, jangan sok bilang malas." Bunga cemberut karena dia berpikir dengan mengajak Alisya makan siang bersama, bisa membuatnya ceria namun sayang yang bisa bikin sahabatnya tersenyum cuma kehadiran suaminya. Buktinya Alisya tengah tersenyum memandang kearah suaminya.


" Bunga, kamu gak usah makan diluar. Aku juga bawa buatmu." Kata Adrian memperlihatkan satu kantong berisi kotak makanan untuk Bunga.


" Makasih, kalau kayak gini aku gak perlu ngeluarin duit terus ya." Ucap Bunga tersenyum menerima kantong berisi kotak makanan untuknya.


" Kamu gak sibuk? Kenapa mesti antar makan siang segala." Tanya Alisya.


" Gak kok, kebetulan kita udah lama gak makan siang bersama. Nih untukmu, dimakan ya." Ujar Adrian.


" Kamu langsung pergi?" Tanya Alisya lagi, dipikirnya suaminya akan pergi, dan datang cuma mengantarkan makan siang untuknya.


" Nanti, setelah kita makan siang bersama." Kata Adrian membukakan kotak makanannya.

__ADS_1


Mereka menikmati makan siang bersama, momen yang hampir punah bagi pasangan suami istri itu. Alisya sesekali tersenyum menatap suaminya, ternyata mengungkapkan perasaannya itu memang seharusnya dilakukan ketika kamu memiliki hubungan. Meski rasa kesal, kecewa, khawatir dan sedih terhadap pasanganmu, kamu tak perlu menyembunyikannya dan merasa jika akan baik-baik saja jika dirimu menghadapinya. Justru itu adalah prinsip yang salah dalam sebuah hubungan, pasanganmu tidak akan peka jika kita tidak mengungkapnya. Bahkan bisa saja pasangan mu akan terus melakukannya lagi, dan akan terus melukai perasaan mu. Sebagai seorang istri, Alisya tak perlu memendam apa yang dirasakan. Kekhawatirannya akan rasa takut, jika Adrian akan berkhianat jika memendam akan membuatnya terluka sendiri, Alisya dengan berani mengatakan apa yang ingin dia katakan, membuat sang suami Adrian mulai mengerti dan memahami perasaan istrinya. Dan kini Adrian mulai kembali mendekati diri setelah dia membuat jarak yang cukup lama dengan istrinya. Sambil memandang suaminya yang tengah menyantap makan siang, Alisya terus berdoa jika hubungan mereka akan tetap terus begini sampai saat anak pertama mereka lahir nantinya.


__ADS_2