
Adrian memeriksa dokumen baru saja diberikan oleh Bella. Sebelumnya dia mengantarkan istrinya pulang ke rumah. Tidak disangka pertemuan akan dilaksanakan di kota Surabaya. Karena klien tersebut meminta untuk bertemu disana.
" Kenapa harus Surabaya? Bukannya sudah terpampang jelas jika bisnis yang dia jalani berada di Jakarta." ujar Adrian sambil melihat dokumen itu.
Bella sedari cemberut, dia tidak fokus dengan pekerjaan. Rasa patah hati dirasakan setelah melihat adegan pelukan Adrian dengan istrinya. Mau bagaimana pun juga, mereka berdua suami istri. Ikatan hubungan itu tidak akan mudah putus meski ada orang yang ingin mencoba memutuskannya. Bella yang dulu tidak berharap, tapi setelah melihat jarak antar Alisya dan Adrian. Membuat Bella kembali berharap kepada Adrian. Ditambah saat nama pria lain disebut Alisya ditelpon membuat Bella menerka jika nama lelaki itu adalah selingkuhan Alisya. Sebab pernikahan dijodohkan belum tentu keduanya saling mencintai. Kini Bella harus menampar dirinya sendiri biar dirinya cepat sadar bahwa dia tidak akan pernah bisa merebut Adrian dari Alisya.
Bunga berada di aula, untuk mengikuti seminar. Banyak mahasiswa yang hadir. Bunga duduk ditengah-tengah mahasiswa yang lain. Acara sudah dimulai, sang moderator selaku pembawa acara seminar memanggil sang pengisi materi seminar.
" Kita akan memanggil pak Bagas untuk hadir di atas panggung." ujar si moderator.
Bunga merasa familiar sebab nama itu mirip dengan nama Bagas pelayan cafe tempat dia bekerja. Dan ternyata saat Bagas yang dipanggil itu naik diatas panggung. Bunga terkejut, ternyata Bagas yang dimaksud adalah orang sama.
" Kak Bagas!" seru bunga melihat Bagas yang berdiri dan tersenyum kepada mahasiswa yang hadir.
" Kamu kenal dengan dia?" tanya mahasiswi yang duduk disebelahnya bunga.
" Iya, dia kakak kelas ku dulu di SMA." ujar bunga.
" Dia terkenal banget di kalangan pebisnis, katanya di usianya masih muda dia udah memiliki usaha diberbagai kota." ujar mahasiswi itu.
Bunga begitu terkejut dengan info yang dia terima. Dia tidak menyangka Bagas yang kerja sebagai pelayan bersamanya di cafe itu ternyata adalah seorang pebisnis kaya.
" Jangan-jangan cafe itu juga miliknya." pikir bunga, sebab selama bunga bekerja dia tidak bertemu dengan bos pemilik cafe itu. Bahkan setiap ditanya tidak yang menjawab.
" Tapi kenapa dia menutupi indentitasnya sebagai pemilik cafe." ujar bunga dalam hati. Bunga tidak mengerti dengan jalan pikiran Bagas. Yang jelas, sekarang dirinya bangga melihat teman partner kerjanya itu sebenarnya seorang pebisnis hebat.
Bagas mengisi seminar dengan membahas kesusksesan dalam berbisnis. Bahkan disesi tanya jawab, banyak mahasiswa yang ingin bertanya kepadanya. Bunga juga menyiapkan pertanyaan, namun dia mengurungkan sebab dia begitu malu berhadapan dengan Bagas. Toh, selama ini dia bersikap seoalah Bagas sama sepertinya. Namun, ternyata dia salah besar.
Acara seminar telah selesai, sebagian mahasiswa mengantri untuk berfoto bersama Bagas. Namun, ada pula yang memutuskan untuk keluar dari aula. Bunga berdua berjalan menuju pintu keluar. Mahasiswi yang duduk disampingnya tadi, menahan untuk jangan dulu keluar aula.
__ADS_1
" Ada apa?" tanya bunga kepada mahasiswi itu.
" Bantuin aku doang, biar bisa foto dengan kak Bagas." ujar mahasiswi itu.
" Kamu tinggal menunggu giliran saja dengan mereka." ujar bunga menunjukan kerumunan mahasiswi yang ingin foto bersama Bagas.
" Kamu begitu kenal dengannya, biar lebih gampang aja, dari pada harus menunggu lama. Lihat banyak sekali yang ingin berfoto dengannya." ujar mahasiswi itu dengan wajah memelas agar bunga bisa membantunya.
Bunga mengehela nafasnya, dia ingin menolak sebab dia begitu malu berhadapan dengan Bagas. Tapi mahasiswi itu terus memaksanya. Dengan terpaksa bunga berjalan bersama mahasiswi itu menuju kerumunan mahasiswi.
" Permisi, kak Bagas boleh aku sebentar gak? ada yang ingin aku bicarakan." ujar bunga. Dengan membuat Bagas menjauh, mahasiswi tadi bisa berfoto dengan Bagas. Kebetulan bunga lupa jika dia ingin menyampaikan pengunduran dirinya bekerja di cafe.
Bagas melihat kearah bunga, dia begitu terkejut bunga ada di sini. Dia berfikir jika bunga akan bekerja di cafe.
"Ah, teman-teman semua sudah dulu sesi fotonya ya. Aku permisi dulu." ujar Bagas tersenyum kepada para mahasiswi yang ingin foto dengannya.
" Ada apa? Kamu kok gak kerja?" tanya Bagas kepada bunga.
" Tuh! temanku ada yang mau foto. Foto dengan dia sebentar, nanti kita bicara." ujar bunga.
Bagas tersenyum kepada mahasiswi yang berdiri tak jauh dari mereka. Mahasiswi itu menghampiri mereka berdua.
" Apa boleh aku minta foto dengan kakak? Cuman sebentar saja." ujar mahasiswi itu.
" Boleh, sekali saja ya." ucap Bagas tersenyum.
Di kantor, Adrian keluar ruangannya menghampiri Bella. Bella yang melihat Adrian menuju kearah segera melihat wajahnya di kaca, takutnya dia terlihat berantakan di depan Adrian.
" Bella." panggil Adrian saat sudah berada dekat di meja kerja bela.
__ADS_1
" Ada apa pak?" tanya Bella karena ini momen pertama kalinya Adrian menghampirinya di meja kerjanya sendiri.
" Aku mau nanya soal klien kita ini. Dia ada usaha juga di Jakarta. Kenapa beliau mesti meminta agar pertemuan rapat ini di Surabaya?" tanya Adrian karena tidak mengerti dengan klien baru mereka.
" Ah, soal itu aku tidak tahu pak. Yang jelas begitu yang dia kirimkan melalui email. Mungkin saja beliau sedang sibuk di Surabaya makanya dia meminta bapak untuk mengunjunginya disana." ujar Bella.
" Baiklah, besok aku akan berangkat. Kamu disini saja."ujar Adrian berlalu.
Selalu saja Bella tidak diajak di setiap pertemuan dengan klien di luar kota. Bukannya tugas sekretaris harus menemani bosnya untuk membantu mengurus setiap pertemuan itu. Namun, Adrian selalu menolak, dan selalu yang diajaknya adalah istrinya sendiri.
Adrian memutuskan pulang, setelah selesai mengurus dokumen untuk pertemuan dengan klien di Surabaya. Dia akan memberitahu Alisya, bahwa besok mereka berdua akan jalan ke Surabaya.
Dia ingin lihat ekspresi wajah antusias istrinya itu. Mereka sudah lama tidak liburan berdua. Setelah terakhir kali libur di Bandung, Adrian maupun Alisya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, meski hany bertemu di dalam rumah saja.
" Aku pulang." ucap Adrian membukakan pintu rumahnya.
" Loh kamu udah pulang? aku baru saja memasak untuk bekal makan siangmu. Kamu kok pulangnya cepat banget." ujar Alisya muncul dengan celemek sebab dirinya sedang memasak makan siang.
" Hah, Alisya.. capek banget. Pekerjaan hari ini cuma sedikit, aku hanya memeriksa beberapa dokumen untuk perjalanan bisnis besok." ujar Adrian lalu memeluk istrinya.
" Besok? masuknya besok kamu mau keluar kota." tanya Alisya melepaskan pelukan Adrian.
" Iya, besok kita berdua akan ke Surabaya." ujar Adrian.
" Kita?" tanya Alisya tak paham.
" Iya, kamu sama aku. Kamu akan temani aku kesana. Mau,kan?"
Alisya mengangguk dia tersenyum senang, akhirnya dia bisa liburan bersama suaminya lagi.
__ADS_1