Mengejar Cinta Mu

Mengejar Cinta Mu
Bab 88


__ADS_3

Setelah seharian bersedih, Alisya terbangun dari tidurnya. Matanya begitu bengkak, sebab seharian air matanya mengalir. Bunga sudah menyiapkan serapan untuknya. Hari ini hanya mereka berdua di rumah, sebab ibu bunga sedang berada diluar kota mengunjungi keluarga.


" Ini sarapan dulu. Sarapan seadanya ya, soalnya aku gak bisa masak." ujar bunga mengantar mapan berisi roti yang berisi aneka sayur dan telur.


" Makasih ya." ucap Alisya lemah.


Bunga menatap Alisya lalu tersenyum, "Al, sesakit apapun yang kamu rasakan kamu juga butuh energi. Jadi sarapan lah dulu. Hari ini aku akan ke kampus. Kebetulan aku ada jadwal pagi ini. Aku tinggalin kamu sendirian, gak apa-apa kan?" ujar bunga bersiap-siap untuk berangkat ke kampus.


" Gak apa-apa kok." ucap Alisya sambil mengigit roti isi itu.


" Kalau kamu mau keluar, ini kuncinya. Kamu jangan lupa kunci pintu rumah dengan kunci ini ya." ujar bunga memperlihatkan kunci rumahnya.


" Kayaknya aku gak akan keluar, aku ingin di rumah aja." ucap Alisya.


Bunga menghela nafasnya, dia tahu sahabat itu sedang galau. Namun, sebagai sahabat dia juga tidak mau Alisya terpuruk dengan kegalauannya.


" Al, mencoba untuk bangkit. Dunia ini tidak menyakitkan yang seperti kamu alami." ujar bunga memberi semangat kepada Alisya.


" Mungkin aku akan keluar untuk mengunjunginya butik, tapi.. aku takut jika aku akan bertemu dengan Adrian. Aku masih belum bisa maafkannya. Bayangan foto itu terus menghantuiku." ujar Alisya menunduk.


Bunga menghampiri sahabatnya dan memeluknya. " Kamu gak usah takut, hadapi dan ungkapkan apa yang kamu rasakan, oke?" ujar bunga menguatkan Alisya.


" Aku akan berangkat ke kampus. Jangan berniat aneh-aneh ya." pesan bunga yang takut jika Alisya akan melakukan yang nekat seperti bunuh diri. Karena kebanyakan orang galau akan melakukan sesuatu tanpa berfikir dengan tenang.

__ADS_1


Alisya hanya mengangguk dan kembali tidur. Tiba-tiba bunga datang kembali hanya ingin memastikan keadaan sahabatnya itu.


Pagi ini Adrian memutuskan untuk pulang ke Jakarta. Keadaannya begitu kacau, awalnya dia tidak berniat pulang. Dia takut jika orang tua akan mengamuk karena dirinya sudah mengkhianati Alisya. Namun, ini sudah kesalahan yang dia lakukan. Jadi Adrian harus berani bertanggungjawab. Dia akan mencari keberadaan Alisya. Dia yakin Alisya tidak pulang ke rumah. Dia ingin menjelaskan semuanya agar Alisya memaafkannya lagi.


Sampai ke Jakarta dia langsung menuju rumahnya. Terlihat rumah itu begitu kosong. Dugaan Adrian tidak salah, Alisya tidak mungkin pulang ke rumah. Adrian meletakan kopernya dan segera keluar. Dia tidak beristirahat kali ini, dia ingin mencari keberadaan Alisya. Dia ingin istrinya itu kembali.


Adrian melajukan mobilnya menuju rumah mertuanya. Disana. hanya ada pembantu, orangtuanya Alisya tengah pergi ke luar kota untuk urusan bisnis. Dan menurut penuturannya pembantunya, semalam Alisya tidak datang ke rumah.


Adrian mencoba ke tempat butik Alisya, mungkin Alisya berada disana semalam. Adrian berfikir jika Alisya tidak berani pulang karena takut orangtuanya khawatir. Sesampai di sana, butik itu masih tutup. Adrian yakin Alisya berada disana. Dia mengetuk pintu butik sambil memanggil nama istrinya. Hasilnya tetap saja nihil, tidak ada jawaban. Dia mengintip di balik kaca, butik itu nampak sepi.


" Sebenarnya kamu ada dimana!" gumam adrian.


Adrian berdiri lama di depan butik itu. Berfikir dimana lagi dia mencari keberadaan istrinya. Tidak mungkin Alisya pulang ke rumahnya. Jelas-jelas ada rumah orangtuanya sendiri. Adrian menghela nafasnya dengan kasar, mengacak rambutnya dia seperti orang yang sedang stres.


Adrian masuk ke dalam mobil melajukan mobilnya menuju ke cafe. Cafe itu tidak berubah, terakhir kali Adrian berada disana saat dia memergoki Alisya bersama Dafa. Adrian mengedarkan matanya melihat semua pengunjung yang datang. Dia tidak menemukan sosok Alisya bahkan Dafa sekalipun. Adrian duduk memesan kopi Americano, mungkin dia bisa menenangkan pikirannya sejenak di cafe ini. Seorang pelayan datang memberikan kopi yang dipesan. Adrian mencoba bertanya kepada pelayan itu, tentang keberadaan Alisya dan Dafa.


" Kalau gadis bernama Alisya, aku tidak tahu. Tapi tadi malam Dafa gak berkunjung kemari. Palingan Dafa akan berkunjung nanti saat jam makan siang. Biasanya dia akan memesan kopi." ujar pelayan itu.


Adrian memutuskan untuk menunggu Dafa. Dia akan memaksa cowok itu untuk memberitahu keberadaan Alisya. Sebenarnya Adrian juga mengingat jika Alisya punya sahabat bernama bunga. Namun, Adrian tidak memiliki kontak gadis itu sehingga dia tidak bisa menghubunginya. Adrian mengambil ponselnya mencoba menghubungi nomor Alisya. Namun, tetap saja tidak ada jawaban. Adrian mencoba membuka media sosialnya melihat media sosial Alisya mencari akun sahabatnya Alisya.


Saat Adrian tengah memainkan ponselnya, pintu cafe terbuka muncul sosok Bagas yang baru saja datang. Adrian melihat siapa tahu Dafa yang berkunjung. Tetapi sosok Bagas membuatnya terkejut ternyata Bagas pemilik cafe ini. Terlihat pelayan itu begitu sopan kepadanya bahkan memanggilnya bos.


" Jadi cowok itu pemilik cafe ini." gumam Adrian.

__ADS_1


Bagas melihat Adrian, dia mendekati Adrian. Adrian menyadari hal itu dan tersenyum.


" Aku tidak menyangka jika pak Bagas pemilik cafe ini." ujar Adrian bersalaman dengan Bagas.


" Aku senang sekali jika pak Adrian mengunjungi cafe ku, terakhir kali anda sempat mengamuk." ujar Bagas.


Adrian menyadari itu, ternyata Bagas mengingat kejadian itu. Namun, saat rapat di Surabaya pria itu tidak mengatakan apapun. Dengan malu, Adrian meminta maaf.


" Anda pasti mencari istri bapak ya?" tanya Bagas seolah tahu jika Adrian memang tengah mencari keberadaan istrinya.


Tatapan mata Adrian begitu terkejut dengan pertanyaan dari Bagas. Belum sempat Adrian menjawab. Bagas kembali berbicara.


" Dafa mungkin gak akan datang kesini. Dia pasti sudah marah kepadaku. Jadi percuma jika kamu menunggunya." ujar Bagas berlalu.


Adrian tercengang, sebenarnya ada hubungan apa antara Dafa dan Bagas kliennya itu. Kenapa Bagas juga tahu tentang masalahnya dengan Alisya. Sebenarnya apa yang telah terjadi. Adrian begitu bingung, jadi kliennya bukanlah sekedar klien tetapi orang terdekat Dafa.


Adrian menghampiri Bagas, untuk sekedar menanyakan keberadaan istrinya. Lagi-lagi Bagas menebak apa yang akan Adrian tanyakan.


" Kamu pasti ingin bertanya kepada ku. Aku gak tahu apa-apa soal itu. Aku juga gak bisa menghubungi Dafa." ujar Bagas.


Adrian pergi dari cafe itu dengan lemas karena belum menemukan Alisya.


Disisi lain, Dafa mengunjungi Alisya. Namun, Alisya tidak membukakan pintu. Dengan maksud dia tidak diganggu, dia butuh waktu sendiri untuk memikirkan masalahnya. Akhirnya Dafa memutuskan untuk ke cafe Bagas. Dia mungkin masih marah dengan kelakuan Bagas. Namun, dia tahu jika Bagas membantu Tania karena Tania juga sahabatnya. Tujuan Bagas hanya untuk mendamaikan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2