
Setelah melewati hari dimana semuanya sudah terungkap. Adrian memutuskan untuk menemui Alisya. Dia menunggu Alisya didepan pintu kamar hotel Alisya dan Bunga. Pintu lalu terbuka, nampaknya bukan Alisya yang keluar melainkan Bunga. Bunga hanya sendirian, dia cukup kaget melihat Adrian yang berdiri tepat disamping pintu kamar mereka.
" Adrian, kamu kok bisa tahu."
" Aku mengikuti kalian berdua kemarin saat di bandara." ujar Adrian memotong ucapan bunga.
" Jadi kamu menginap disini?" pertanyaan bunga itu hanya dijawab dengan sebuah anggukan kepala dari Adrian.
" Alisya masih di kamar?" tanya Adrian.
" Iya, dia masih istirahat. Karena kemarin dia sudah mengeluarkan banyak air mata." ujar bunga.
" Aku merasa bersalah." ucap Adrian tertunduk.
" Bukan kamu, semua itu salah si Tania. Aku tidak menyangka Tania itu tega berbohong selama ini." ujar bunga.
" Jangan sebut nama si bangsat itu lagi. Aku benar-benar kecewa padanya. Aku ditipu selama ini." ujar Adrian dengan geram.
" Aku mendengarnya pun juga merasakan yang sama. Kenapa dia bisa sejahat itu?" ujar bunga.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, Alisya baru saja keluar. Bunga terkejut sebab sebelum keluar Alisya masih tertidur.
" Al, kamu udah bangun?" ujar bunga.
Alisya memandang Adrian yang berdiri disamping bunga. Alisya tidak menyapa, dia bersikap cuek saat melihat suaminya itu.
" Yuk, sarapan." ajak Alisya dengan menarik tangan sahabatnya bunga.
" Al.." panggil Adrian dengan memenggangi pergelangan tangan istrinya.
" Adrian, aku mohon... untuk berhenti. Aku tidak mau berdebat." ujar Alisya.
" Al, aku tidak mengajak mu berdebat. Aku hanya minta kesempatan. Cuma itu." ujar Adrian.
" Kesempatan?"
" Iya, Al. Aku ingin memperbaiki semuanya. Jika kamu tidak percaya aku mencintaimu, tidak apa-apa. Tapi Al, aku ingin kita perbaiki semuanya dan kembali seperti dulu. Itu saja." ujar Adrian meminta.
Alisya terdiam, menatap lekat wajah Adrian. Dia masih ragu dengan untuk memberikan kesempatan itu atau tidak.
__ADS_1
" Al, aku mohon beri aku kesempatan. Kita bisa perbaiki semuanya." pinta Adrian.
" Aku mau sarapan dulu. Tolong lepaskan tanganku." ujar Alisya.
Mau tidak mau, Adrian tidak memaksa. Dia melepaskan tangannya yang memegangi tangan Alisya. Membiarkan gadis itu pergi.
Dafa sedang mengemasi pakaian, dia berencana untuk pulang kembali ke Jakarta. Menurutnya kedatangan dia ke Surabaya hanyalah sia-sia. Padahal dia ingin melihat Alisya bahagia dengan balikan lagi bersama dengan Adrian. Nyatanya gadis itu pulang ke hotel dengan menangis tersedu-sedu. Dafa tidak tega melihat Alisya harus seperti itu dihadapannya.
Bagas berdiri di pintu kamar Dafa, "Serius kamu beneran mau ke Jakarta? Apa tidak istirahat disini dulu beberapa hari?" tanya Bagas yang tidak ingin Dafa pulang dengan cepat.
" Untuk apa? banyak pekerjaan yang harus aku urus." ujar dafa.
" Pekerjaan? Atau kamu kecewa karena kemarin?" tanya Bagas, dia tahu betul sahabatnya itu.
Dafa menghentikan aktivitasnya, dan memandang Bagas. " Berhentilah memikirkan kondisi gadis itu, Daf. Kamu juga butuh hiburan. Dia sudah dewasa, aku yakin dia bisa menyelesaikan sendiri. Adrian tidak mungkin tinggal diam, jika istri yang dia cintai tidak beri kesempatan untuknya." ujar Bagas.
Dafa terdiam, lalu kembali mengemasi pakaiannya.
" Daf, aku tahu dalam lubuk hatimu, kamu tidak ingin Alisya balikan dengan Adrian, kan. Tapi kamu mengikhlaskan karena kamu ingin melihat orang kamu cintai itu bahagia." ujar Bagas.
" Iya, cinta memang tidak dimiliki." ucap Dafa.
" Jika begitu, kalau Adrian mendapatkan kesempatan. Apa kamu tidak bisa memberikan kesempatan?"
" Cinta memang tidak harus dimiliki. Tapi menerima orang yang mencintai bolehlah. Karena aku pernah denger, menerima orang yang lebih mencintai itu terasa menyenangkan. Kamu tidak mau mencoba?" ujar Bagas berjalan mendekati sahabatnya itu.
Dafa terdiam, dia tahu maksud dari Bagas sekarang. " Selesaikan dulu semuanya," ucap Dafa keluar dari kamarnya.
Dia melihat Tania yang ternyata berdiri diluar kamarnya. Dia melihat Tania, namun tidak menyapa dan melanjutkan jalannya. Sedangkan Tania hanya menatap punggungnya.
Dafa ke dapur, menuangkan air dalam gelas lalu meminumnya. Ponselnya berdering, Dafa meletakkan gelas di meja dan mengambil ponselnya disaku celananya. Terlihat nama Alisya disana, Dafa segera mengangkat dia tahu Alisya pasti akan mencarinya ketika gadis itu tengah dalam masalah.
" Hallo, Al. Ada apa?" tanya Dafa.
" Kak Dafa tidak sibuk,kan?" tanya Alisya didalam telfon.
" Tidak, aku tidak sibuk."
" Aku ingin bertemu, aku akan kirim lokasinya."
__ADS_1
"Baiklah, sebentar lagi aku akan kesana." ujar Dafa mematikan telfonnya.
Bagas datang menghampirinya, " Siapa yang menelfon?" tanya Bagas.
" Alisya. Aku keluar sebentar." ujar Dafa berlalu.
Tania yang mendengar hanya bisa menahan sakit, bagaimana tidak Dafa masih saja perduli dengan Alisya. Tania sadar jika dirinya tidak akan bisa memiliki hati Alisya. Bagas menyadari perasaan sahabat, dia mendekati Tania dan merangkulnya.
" Sudahlah. Setidaknya kamu sudah melakukan yang terbaik." ujar Bagas menghibur Tania.
Dafa sudah sampai disebuah cafe, nampaknya Alisya meminta bertemu diluar hotel. Dafa segera memasuki cafe itu, terlihat Alisya sudah duduk namun dia sendirian.
" Al, maaf." ucap Dafa.
" Tidak apa-apa kok kak. Kakak mau pesan apa?" tanya Alisya.
" Biar aku yang memesannya sendiri." ucap Dafa.
" Kak Dafa, aku ingin cerita padamu. Aku tahu kakak pasti sudah mengetahuinya." ujar Alisya.
" Iya, maaf.." ucap Dafa.
" Kakak tidak perlu meminta maaf." ujar Alisya.
" Jadi apa yang kami ingin bicarakan?" tanya Dafa.
" Aku bingung kak, tadi pagi Adrian memohon untuk memberikannya kesempatan. Namun, aku merasa jika ini tidak bisa diperbaiki lagi. Aku ingin melepaskan Adrian. Aku sudah capek harus menjalani hidup dengan mencintai kak." ujar Alisya.
" Kenapa kmu berpikir seperti itu, Al? kamu tidak mendengar jika Adrian sudah mengatakan jika dia mencintaimu."
" Tapi kak, aku merasa jika itu bukan dari lubuk hatinya. Aku tahu Adrian sangat mencintai Tania, tidak mungkin baginya semudah itu mencintai ku." ujar Alisya, dia yakin Adrian hanya berpura-pura.
" Al, kamu pernah mendengar witing tresno jalaran Soko kulino." ujar Dafa.
" Maksud kakak?" Alisya tidak mengerti dengan apa yang Dafa katakan.
" Itu bahasa Jawa, Al. Yang artinya cinta hadir karena terbiasa. Jadi Adrian mulai jatuh cinta denganmu karena setiap harinya dia bersama denganmu, al. Mungkin dia menyadari terlambat. Kamu jangan gegabah dalam mengambil keputusan." ujar Dafa meski menyakitkan tapi ini yang terbaik untuk Alisya.
Alisya terdiam mencerna apa yang dikatakan oleh Dafa. Apa benar jika Adrian sudah mulai membuka hatinya untuk Alisya.
__ADS_1
" Al, sebagai seorang sahabat. Aku hanya ingin bilang tanyakan pada perasaanmu.Apa kamu masih mencintai Adrian atau tidak. Jika masih, untuk apa kamu mengambil keputusan yang hanya menyakiti perasaan mu saja. Ikuti kata hatimu." ujar Dafa.
Alisya masih terdiam, " Kalau begitu, tugas ku sudah selesai. Jika ada apa-apa jangan lupa hubungi aku, aku permisi dulu ya." ujar pamit pergi.