
Adrian dengan buru-buru masuk kedalam rumah, karena begitu khawatir dengan keadaan istrinya. " Al, kamu gak apa-apa?" Tanya Adrian melihat istrinya tengah duduk di sofa.
Sebelumnya, Alisya sudah menaruh curiga saat Bella mengangkat telepon darinya, padahal jelas itu adalah ponsel Adrian. Bella sebagai sekertaris dirinya begitu lancang menyentuh ponsel bosnya. Karena tak terima dengan sikap semena-mena dari Bella, Alisya memikirkan cara agar Adrian cepat pulang dan tidak berduaan lagi dengan Bella. Awalnya Alisya berencana untuk langsung pergi menuju kantor Adrian, namun dia teringat jika ada Jefri teman dekat Adrian yang kebetulan juga bekerja bersama dengan Adrian. Dia mencari kontak Jefri agar bisa menghubungi cowok itu, setidaknya dengan adanya Jefri bisa membantunya.
" Hallo?" Seru seseorang cowok yang mengangkat telfon dari Alisya.
" Jef, ini aku Alisya." Ujar Alisya.
" Alisya? Ada apa telfon malam-malam begini?" Tanya Jefri yang merasa bingung, sudah tengah malam saat dirinya sedang tertidur Alisya menelfonnya. Apa ini tentang Adrian lagi?
" Bisa bantu aku?" Ujar Alisya meminta bantuan siapa tahu Jefri bisa membantunya.
" Iya, ada apa?" Tanya Jefri yang bisa bersedia membantu apalagi Alisya adalah istri dari teman dekatnya.
" Bisa kamu ke kantor. Tadi aku menelepon Adrian namun tidak bisa diangkat, aku tahu dia sedang sibuk namun saat aku mencoba menelepon lagi malah sekretarisnya yang mengangkat. Aku pasti mengerti perasaan aku, sebagai perempuan yang sedang hamil aku sudah mencoba untuk gak berpikir negatif tapi.." Alisya sudah tidak bisa melanjutkan kata-katanya, dia yakin Jefri akan paham.
" Baik, aku akan ke kantor sekarang." Ujar Jefri lalu mematikan sambungan telepon mereka. Jefri sebenarnya sudah tahu jika Bella mempunyai perasaan kepada Adrian, namun Jefri yang menyukai Bella, mencoba untuk melakukan pendekatan namun gadis itu nampaknya begitu enggan padanya. Seharusnya dirinya sadar jika Adrian sudah memiliki istri, takut akan Bella yang melakukan tindakan yang tidak diinginkan. Maka Jefri dengan terburu-buru segera menuju ke kantor.
" Aku gak apa-apa.. Tapi bisakah kamu untuk lebih tegas dengan sekretaris mu." Ujar Alisya yang merasa kesal dengan tindakan Bella yang mengangkat telepon darinya.
__ADS_1
" Emangnya kenapa Al?" Tanya Adrian yang tidak mengerti padahal dirinya begitu khawatir dengan keadaan istrinya. Malah sampai di rumah istri malah membahas tentang sekretarisnya.
" Aku sedari tadi menelepon mu namun kamu gak angkat.." perkataan Alisya dipotong oleh Adrian.
" Udah aku bilang aku sibuk." Ucap Adrian.
" Dengerin aku dulu, aku menelepon mu dan sekretaris mu itu mengangkatnya. Gak selancangnya dia mengangkat telepon diponselmu." Ujar Alisya begitu kesal dengan Bella.
" Yang kamu katakan serius?" Adrian seolah tidak percaya dengan apa yang Alisya kepada istrinya.
" Iya Adrian, aku mendengar suaranya yang mengatakan jika kamu tengah berada di toilet. Dia lancang banget mengangkat telfon dari ku. Adrian, jika kamu gak ingin aku berpikir macam-macam, setidaknya kamu bersikap lebih tegas terhadap sekretaris mu." Ujar Alisya sangat kesal, Adrian menjadi pria gampang baik terhadap orang lain, yang bisa saja orang itu dapat menghancurkan hubungan rumah tangga mereka.
Pagi hari, Adrian hanya tidur dia jam saja karena dia harus bangun pagi sekali untuk belajar proyek yang akan dia presentasikan nanti. Alisya seperti biasa menyiapkan sarapan untuk suaminya. " Mari sarapan dulu." Ucap Alisya yang sudah menyiapkan sarapan diatas meja makan.
Adrian duduk melihat sarapan sudah tertata oleh istrinya diatas meja. Dia memandang istrinya, tatapan kasihan sebab dalam keadaan hamil besar istrinya masih bisa menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya. Alisya menyadari tatapan Adrian kepada sehingga membuat dirinya bertanya, " ada apa? Kenapa menatap ku seperti itu?"
"Maafkan aku, sebagai suami seharusnya aku membantumu menyiapkan sarapan." Kata Adrian merasa bersalah.
" Gak usah merasa bersalah begitu, ini udah tigas. Selama aku baik-baik saja, jadi gak masalah." Kata Alisya tersenyum.
__ADS_1
Mereka berdua menikmati sarapan pagi hari ini, meski menu yang terkesan lumayan sederhana namun rasanya tak kalah enak menurut lidah Adrian, karena istri tercinta memasak dengan penuh cinta untuknya.
" Sayang, semalam Jefri ke kantor, katanya kamu yang menelponnya. Baru ke kantornya seperti sedang buru-buru begitu, aku jadinya khawatir." Kata Adrian mengingat semalam saat Jefri datang dalam keadaan ngos-ngosan menuju kantor.
" Aku memang meneleponnya semalam, kamu pasti tahu kenapa aku begitu. Istri mana yang gak berpikir macam-macam jika telefonnya diangkat oleh sekretaris suaminya sendiri." Ujar Alisya memberikan penekanan pada kalimat sekretaris suaminya.
Adrian menyadari, dan merasa sangat bersalah. Dia tak menyangka jika begitu bertindak lancang seperti itu. Awalnya Adrian hanya berniat baik, apalagi selama ini pekerjaan selalu dibantu oleh Bella. Namun, Bella mulai menunjukan gelagat yang begitu lancang seolah tak sadar jika status mereka hanyalah bos dan sekretaris.
"Maaf ya sayang. Aku benar-benar gak tahu, aku harusnya lebih tegas padanya." Ujar Adrian.
Sama seperti biasa, Adrian akan mengantar Alisya ke butik sebelum menuju kantor. Dan lagi mereka bertemu dengan Bella yang sedang jalan kaki. Alisya lagi-lagi merasa jika Bella sengaja melakukannya, bagaimana tidak sudah dua kali gadis itu berjalan di jalan yang sama saat mereka pertama kali berjumpa dengannya. Adrian yang melihat, awalnya ingin bertindak masa bodoh. Namun teringat akan presentasi nanti, dan Bella sebagai sekertaris juga harus ada dalam rapat itu. Membuat hati Adrian luluh untuk memberikan tumpangan kepada Bella. Gelagat itu diketahui oleh Alisya membuat Alisya berkata, " aku mohon demi aku, jangan memberinya tumpangan, Adrian."
" Tapi sayang, nanti ada rapat. Aku juga gak mau dia telat." Ucap Adrian.
" Lalu dengan dia telat, kamu gak bisa berbuat apapun saat rapat. Selama kamu udah tahu proyeknya. Kamu bisa dengan gampang mempresentasikannya. Untuk apa kamu harus menunggu bantuannya, justru rasa iba dan kasihamu itu yang membuat ku semakin curiga padamu. Kamu bodoh atau gimana sih! Kamu sadar jika Bella udah dua kali lewat dijalan yang sama, dan kamu gak sadar jika itu memang disengaja." Kata Alisya.
" Justru pikiranmu itu, gak apa-apa diantara kami berdua, kamu selalu berpikir macam-macam." Adrian membantah karena menurutnya Alisya sudah keterlaluan.
" Buka otakmu! Sadar gak sih dulu juga kamu gak punya rasa kasihan. Kamu mulai menjadi kasihan padaku karena aku wanita yang tersakiti karena mencintaimu. Dan kamu gak sadar jika kamu mulai mencintaiku dengan mulai merasa kasihan padaku. Lalu kamu mulai merasa kasihan padanya, sadar gak selama ini aku khawatir jika rasa kasihan mu itu bakal berujung sama seperti ku. Yang kamu cintai karena kasihan. Berhentikan mobilnya disini, jika kamu ingin menampungnya!" Ujar Alisya agar Adrian paham dan mengerti kekhawatiran Alisya selama ini.
__ADS_1
Adrian terdiam, dia tak mengikuti apa yang Alisya inginkan, Adrian malah justru melajukan mobilnya menuju butik istrinya.