
seminggu sudah Citra merawat Tommy di rumah sakit dan hari ini Citra ijin pulang ke rumah papa Juna yang ada di sana untuk memasak masakan kesukaan Tommy dan Tommy pun mengijinkan. kebetulan hati ini Tommy dinyatakan sudah boleh pulang ke rumah karena kondisinya yang sudah stabil. Papa Juna, Dika serta Dicky sudah menjemputnya di rumah sakit sedangkan para perempuan beserta anak-anaknya sudah dalam perjalanan menuju bandara karena sesuai dengan kesepakatan semua orang bahwa Tommy akan langsung dibawa pulang ke rumah utama agar semua memori yang sempat Tommy lupakan itu bisa kembali Tommy ingat sebab dokter sudah menyatakan bahwa amnesia yang Tommy alami saat ini adalah amnesia sementara saja dan bukan permanen namun bisa jadi permanen apabila Tommy dipaksa untuk mengingat memori atau kenangan yang dia lupakan. maka dari itu dokter menyarankan agar mengulang kembali apa yang pernah Tommy lakukan dulu agar secara perlahan ingatannya itu kembali muncul dengan sendiri agar amnesia yang diderita atau mie saat ini tidak semakin parah dan berujung dengan amnesia permanen.
Tommy yang sedari tadi menunggu kedatangan Citra di rumah sakit menjadi was-was dan tidak tenang karena belum melihat perempuan yang mengaku istrinya itu di sana karena tanpa sepengetahuannya bahwa semua perempuan dan juga anak-anak sudah dalam perjalanan menuju bandara dan kini hanya para laki-laki dewasa saja yang menjemput Tommy karena ada sesuatu yang direncanakan Dika dan Tommy tanpa sepengetahuan Papa juga untuk membuat sesuatu yang Dika dan Dicky yakini bisa memancing ingatan Tommy.
"kenapa lo dari tadi gue lihat gelisah gitu.?"tanya Dicky pura-pura tidak mengerti.
"Citra mana kok gue nggak lihat dia ya?"tanya Tommy celingak-celinguk memperhatikan setiap orang yang lewat karena saat ini keempat laki-laki dewasa itu sedang berjalan menuju lobi rumah sakit.
"oh Citra... sudah duluan ke bandara."jawab Dicky ambigu membuat Tommy penasaran dan juga kaget.
mendengar bahwa Citra sudah duluan ke bandara membuat hati Tommy tidak tenang dan juga ada rasa takut di dalam hati Tommy seakan-akan tak rela bahwa Citra meninggalkan dirinya.
__ADS_1
"kok nggak pamit sama gue katanya istri gue seharusnya dia pulang bareng sama gue dong."ucap Tommy sebel dan sedikit menaikkan nadanya.
Dika Dicky dan papa Juna yang mendengar jawaban Tommy seketika mengulum senyumnya agar tidak terlihat karena secara tidak sadar bahwa Tommy sudah mulai tergantung dengan kehadiran Citra.
"nanti juga lu bisa ketemu di Jakarta, atau mungkin Citra mau balik ke rumah orang tuanya dan nggak mau lagi ngurusin lo."ucap Dika memanasi.
"papa bisa minta sama sopir untuk melajukan mobilnya lebih cepat agar segera sampai di bandara."minta Tommy pada papa Juna tanpa menjawab ucapan Dika karena hati Tommy saat ini sedang panas.
"kenapa lu nggak rela ditinggal Citra?"tanya Dicky tepat mengenai hati Tommy.
"dia kan istri gue jadi gue wajar dong nggak mau pisah sama dia."ucap Tommy sewot.
__ADS_1
"yakin lu udah menerima dia sebagai istri lo atau hanya memanfaatkan ketulusan hatinya saja?"tanya Dika ingin mengetahui isi hati Tommy.
"yakinlah gua terima dia istri gue, karena setiap gue melihat dia hatiku itu nyaman dan tenang, dan gue juga nggak mau dia pergi jauh dari gue apapun alasannya."jawab Tommy mantap.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1