Mengejar Cinta Mu

Mengejar Cinta Mu
BAWANG


__ADS_3

Happy Reading ❤️


Ini minggu keempat Tiara menikmati masa cutinya. Entah sampai kapan dia akan cuti yang jelas dia ingin sekali apa yang sudah dia impikan sejak dua tahun silam menjadi kenyataan. Walau Arya tidak pernah menuntut masalah anak tapi Tiara yakin, Arya pun sama seperti dirinya yang ingin juga segera diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk memiliki anak.


Saat ini Tiara sedang berada di rumah mertuanya. Membantu usaha rumah makan sederhana yang baru belum lama dibuka. Pesanan catering yang lumayan ramai serta rumah makan yang cukup ramai membuat orang tua Arya lumayan kewalahan. Rencananya nanti kalau modal Arya sudah cukup, kemungkinan dia akan memperbesar usaha keluarganya dan keluar dari Bramasta Group. Arya ingin usaha keluarganya bisa semakin berkembang.


Tiara mencuci tomat dan juga sayur di dapur catering bersama mertua dan juga pegawai lainnya. Selesai mencuci tomat dan sayur, Tiara juga membantu mengupas bawang merah. Baru mendekatkan diri dengan bawang saja dia sudah ingin muntah. Selain matanya yang cepat perih kali ini malah ingin muntah. Sepertinya Tiara memang tidak cocok bergelung di dapur. Dia lebih cocok untuk melobi klien daripada urusan masak-memasak. Untung saja kalau di rumah, Arya tidak pernah mempermasalahkan makanan apapun yang Tiara buat. Biasanya Tiara hanya memasak simpel. Seperti udang goreng tepung, ayam ungkep , ayam woku, tumis kangkung , pokoknya menu yang sederhana.


Rasa masakan Tiara biasa-biasa saja, tidak yang sangat enak tapi masih tergolong aman. Malah masakan Arya yang lebih enak. Bila tidak sibuk, Arya sering menggantikan istrinya memasak untuk sarapan atau makan malam. Kadang-kadang orang tua Arya juga datang membawakan makanan dari catering mereka.


Tidak enak dengan mertuanya, Tiara memaksakan diri membantu mengupas bawang, alhasil dia benar-benar tidak bisa menahan rasa mualnya. Tiara langsung saja menuju wastafel dan memuntahkan isi perutnya.


Ibu Arya langsung mendekat karena wajah menantunya terlihat begitu pucat.

__ADS_1


"Kenapa nak?" Tanya Ibu khawatir.


"Bau bawangnya bikin mual bu. Dulu waktu kecil memang aku tidak bisa nyium bawang tapi sekarang malah kembali kayak dulu" jawab Tiara apa adanya. Saat masih SD Tiara memang sangat anti dengan perbawangan. Entah itu bawang merah maupun bawang putih.


"Ya sudah jangan dipaksa, kamu istirahat saja di kamar. Wajahmu pucat sekali" ucap Ibu memaksa Tiara untuk beristirahat. Padahal Tiara sengaja cuti supaya dapat beristirahat dan cepat isi. Memang dasarnya tidak betah berdiam diri, jadinya dia datang ke rumah mertuanya dan membantu usaha catering mertuanya.


"Aku pulang saja kalau gitu ya, Bu. Bentar lagi juga Arya pulang" ucap Tiara sambil melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 4 sore.


Tiara pun mengangguk dengan cepat. Bukan tanpa alasan Tiara ingin pulang, dia lupa mengangkat jemuran dan cuaca juga sudah mulai mendung.


"Ya sudah, hati-hati ya" ucap Ibu pasrah.


Tiara pu pamit dan mencium punggung tangan mertuanya secara bergantian. 

__ADS_1


"Kenapa Tiara bu?" Tanya Bapak Arya yang tadi memang tidak melihat Tiara muntah.


"Muntah-muntah pak, katanya tidak bisa nyium bawang" jawab Ibu.


Bapak terdiam sejenak.


"Apa jangan-jangan mantu kita hamil?" Tebak Bapak kemudian.


Ibu nampak terkejut dan senang tapi dia juga tidak mau terlalu berharap. Kalau menyampaikan pada Arya takut anak dan mantunya malah jadi kepikiran.


"Sudahlah Pak. Jangan terlalu banyak berharap. Kita berdoa saja semoga segera nimang cucu" ucap Ibu yang tidak ingin terlalu berharap. Dia pernah berada di posisi Tiara yang ingin sekali memiliki anak kembali setelah Arya berusia 3 tahun , tapi ternyata Tuhan belum mengabulkan keinginannya itu sampai sekarang. Bapak dan Ibu hanya dikarunia satu anak padahal mereka tidak pernah menundanya.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2