
Hari berlalu seperti berkejaran hingga tidak terasa kini sudah tahun kedua pernikahan Arya juga Tiara. Di tahun kedua ini mereka masih belum dikaruniai seorang anak. Mereka berdua sama sekali tidak menundanya, hanya saja Tuhan memang belum mempercayakan mereka sebagai orang tua.
“Sayang, Apa tidak sebaiknya kita memeriksakan diri ke dokter?” tanya Tiara pada sang suami. Saat ini mereka berdua sedang duduk berdua di teras rumah mereka. Setelah satu tahun pernikahan, Arya berhasil membeli rumah sederhana tidak jauh dari rumah orang tuanya. Rumah satu lantai yang memiliki 3 kamar dan halaman yang tidak begitu luas tapi begitu nyaman dan asri. Setiap minggu mereka akan bersama-sama merawat kebun yang mereka buat dengan penuh cinta.
“Iya, sebaiknya juga begitu” jawab Arya seraya tersenyum.
“Aku akan daftar sekarang ya?” tanya Tiara pula dan Arya pun mengangguk sebagai jawaban.
Sebenarnya mereka sudah cukup bahagia walau hanya berdua. Tapi yang namanya orang tua pasti terus menanyakan tentang kehadiran cucu. Mau tidak mau mereka pun menjadi kepikiran tentang kehadiran buah hati di tengah-tengah mereka.
…
Jam empat sore mereka sudah tiba di salah satu klinik obgyn yang lumayan terkenal di kota mereka. Pasiennya per hari sangat banyak dan bisa mengantri sampai malam. Untung saja Tiara mempunyai kenalan perawat yang berjaga di sana hingga dia mendapat urutan pertama.
Dokter mulai memeriksa kondisi Arya dan Tiara, untung saja tidak ada masalah pada keduanya. Hanya saja dokter menyarankan agar mereka tidak terlalu kelelahan. Dokter juga memberikan vitamin serta menyarankan makanan apa saja yang harus mereka konsumsi dan hindari.
__ADS_1
“Apa aku cuti dulu ya yank?” tanya Tiara yang saat ini sudah berada di kamar mereka.
Arya mengelus rambut Tiara dengan sayang.
“Kamu tidak keberatan kalau harus cuti? Aku tau kamu tipe orang yang tidak bisa berdiam diri di rumah. Aku tidak ingin kamu malah menjadi stress” ucap Arya yang tidak ingin Tiara malah menjadi tidak nyaman.
Tiara membenarkan apa yang Arya katakan. Tiara ingat saat dulu dia kecelakaan dan harus berdiam diri di rumah dan itu sangat tidak mengenakkan.
“Mungkin lebih baik minta keringanan bekerja saja sama Papa ya?” saran Arya. Saat ini Tiara sudah menjadi asisten Ayahnya dan kerjaannya tentu saja sangat padat.
Tiara pun menganggukkan kepalanya.
“Iya kamu benar yank. Aku akan minta Papa mencarikan partner kerja saja” putus Tiara kemudian.
Arya tersenyum kemudian perlahan-lahan mendekatkan wajahnya pada istri cantiknya itu. Dia cium bibir manis dan candu milik istrinya dengan penuh perasaan. Mereka saling me nye sap dan me lu mat hingga ga i rah keduanya sudah di ubun-ubun. Tanpa sadar mereka saling melepaskan pakaian masing-masing. Saat tubuh mereka sudah sama-sama polos, Arya memulai penyatuan mereka. Gerakan yang awalnya lambat lama-lama berubah semakin cepat.
__ADS_1
Tanpa sadar keduanya men de sah dan saling memanggil nama masing-masing.
Arya yang awalnya mengukung istrinya merubah posisi hingga Tiara yang menjadi pengendali per cintaan mereka. Tiara menggerakkan tubuhnya dengan lihai hingga Arya keenakan di bawah sana.
“Terus sayang” de sah Arya yang sudah sangat ber ga i rah.
Tiara terus menggerakkan tubuhnya hingga mencapai puncaknya. Setelah Tiara lemas, Arya kembali memimpin kendali. Dia memompa semakin intens hingga dia pun menyusul istrinya mencapai surga dunia.
Cup.
“Terima kasih sayang” ucap Arya yang menghadiahi ciuman di kening Tiara.
“Aku berdoa semoga secepatnya Arya dan Tiara junior tumbuh di rahimmu” ucap Arya lalu membawa Tiara ke dalam pelukannya.
Bersambung...
__ADS_1