
Keesokan harinya, Tiara terus melihat ponselnya. Dia sudah membuka blokiran nomor Arya. Berharap Arya menghubunginya. Dari semalaman dia menunggu tetapi Arya tak kunjung menelpon.
“Sudah jam segini, kenapa Arya belum hubungi aku juga?” guman Tiara pelan.
Walau pelan tetapi Ratih yang duduk di sofa masih bisa mendengarnya. Dia tersenyum kecil. Anaknya memang jual mahal.
Jam 10 Pagi, Bapak dan Ibu Arya datang menjenguk.
“Makasih ya Bu, Pak sudah jenguk” kata Tiara sungkan.
“Maaf ya baru sempat kesini, Ibu dan Bapak ada kerjaan yang tidak bisa ditinggal. Dari kemarin Arya sudah minta ibu kesini. Dia belum ada kesini?” kata Ibu Arya.
“Kemarin pagi-pagi sekali Arya sudah kesini bu, tapi sayang Tiara belum sadar waktu itu” Mama Tiara yang menjawab.
“Mana kasihan sudah langsung di telpon boss nya minta balik ke Kota J” imbuhnya.
Cukup lama Bapak dan Ibu Arya disana tapi mereka harus segera kembali karena ada pengiriman makanan ke acara nikahan.
“Kamu masih kesal dengan Arya?” tanya Ratih saat Ibu dan Bapak Arya sudah pulang.
Tiara menggeleng.
“Kasihan Arya, jangan seperti anak kecil begini ya lain kali” kata Ratih lembut seraya mengelus rambut Tiara.
Tiara pun mengangguk sebagai jawaban.
“Sekarang makan dan minum obat lalu istirahat ya”.
Ratih membantu Tiara makan dan minum obat, kemudian membantu anaknya berbaring. Dia mengelus rambut Tiara penuh sayang sampai Tiara tertidur.
Ratih tersenyum ketika Tiara sudah tertidur. Efek obat memang sangat membantu Tiara cepat tidur. Setelah itu dia keluar ruang rawat Tiara untuk membeli makanan. Tepat saat itu juga Arya sampai.
“Mama titip Tiara ya” kata Ratih pada Arya. Arya pun mengangguk kemudian duduk di kursi di sebelah ranjang Tiara. Dia pandangi wajah Tiara yang sedang terlelap tidur.
“Tidur pun kamu cantik begini” guman Arya pelan sambil mengelus lembut puncak kepala Tiara. Takut mengganggu tidurnya. 30 Menit dia seperti itu tetapi Ratih belum juga kembali. Mungkin Mama Tiara sengaja supaya mereka berdua bisa menyelesaikan masalah yang ada. Lama menunggu Tiara yang sedang tidur hingga Arya pun ikut terlelap juga. Dia jatuhkan kepalanya di ranjang Tiara dengan tangan menggenggam erat tangan Tiara.
Tak lama Tiara terbangun, dia rasakan ada yang menggenggam tangannya erat.
Deg.
Jantung Tiara seperti tersengat listrik. Pria yang dia nanti-nantikan kehadirannya akhirnya ada disebelahnya.
__ADS_1
Tiara merasa dadanya sesak antara sedih dan bahagia di saat yang bersamaan. Bahagia akhirnya Arya kembali ke sisinya tetapi sedih karena kesalahpahaman ini dia harus mengalami kecelakaan. Dan semua ini murni karena kesalahannya sendiri hanya karena rasa cemburunya yang tidak beralasan. Tiara benar-benar menyesal.
Pelan dia mengelus rambut Arya. Arya yang merasa ada yang menyentuh kepalanya pun terbangun.
“Sayang” kata Arya seraya tersenyum. Tiara langsung menangis melihat wajah Arya yang terlihat begitu letih.
“Jangan menangis” kata Arya seraya memeluk Tiara. Kini Tiara sudah dalam posisi duduk.
“Maafin aku ya” kata Arya pula seraya mengelus punggung Tiara.
Tiara menggeleng, “Aku yang minta maaf, maaf udah kayak anak kecil” kata Tiara terisak.
Arya masih terus mengusap punggung Tiara dengan sayang. Entah kenapa Tiara terus saja menangis. Akhir-akhir ini dia memang sangat sensitif. Dia takut Arya pergi jauh darinya.
“Kenapa masih menangis?” tanya Arya sambil mencium puncak kepala Tiara.
Tiara menggeleng, “Aku juga tidak tahu kenapa” jawab Tiara.
“Apa kakinya sakit?”.
“Iya, aku terpental lumayan jauh, sampai naik trotoar” jawab Tiara.
“Lain kali hati-hati bawa motor, jangan ngelamun ya” Posisi Arya berdiri dengan memeluk Tiara sambil sesekali mencium puncak kepalanya.
“Kamu sakit?” tanya nya kemudian.
Arya menggelang, “Nggak kok yank, cuma capek aja lagi banyak tugas dari Pak Bram” jawab Arya sedikit berbohong.
Tidak bisa menerima jawaban Arya begitu saja Tiara malah kembali menangis. Menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi.
“Hei… hei… jangan nangis dong yank” kata Arya sambil menghapus bulir bening yang berhasil lolos dari mata sang kekasih.
Arya mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Tiara sekilas, kemudian kembali membawa Tiara dalam dekapannya.
“Aku kangen banget sama kamu yank” Kata Arya masih terus mengelus punggung Tiara.
“Aku lebih kangen sama kamu” kata Tiara sambil mengeratkan pelukannya.
Arya mengurai pelukannya, ditangkupnya wajah Tiara dengan kedua tangannya. Arya mengikis jarak hendak menghadiahi Tiara dengan ciuman yang sudah dari tadi dia tahan, tapi suara deheman menghentikan aksi mereka.
Hem.
__ADS_1
Papa. batin mereka kompak. Sontak saja mereka menjaga jarak aman. Arya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sangat malu kepergok hampir ciuman. Begitu pula dengan Tiara, wajahnya sudah bersemu merah.
Kristian yang saat itu baru saja masuk ke dalam ruangan bersama Ratih hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Baru datang Arya?” tanya Kristian yang menyadari kecanggungan karena kedatangan dirinya.
“I-iya pa” jawab Arya sedikit gugup.
“Ayo makan dulu, tadi Mama dan Papa beli makanan buat kamu, Kamu pasti belum makan kan?” ajak Ratih yang sangat yakin kalau Arya pasti belum makan. Dia bisa melihat penampilan Arya yang terlihat sedang tidak enak badan.
Arya pun mengangguk pelan sebagai jawaban. Di sofa yang lumayan besar. Arya , Kristian dan Ratih makan siang sambil mengobrol ringan. Sedangkan Tiara kembali tertidur.
“Kamu tidak kerja hari ini ya?” tanya Kristian memulai obrolan mereka.
“Kerja mulai besok pa, hari ini aku pindahan diberi kelonggaran sehari sama Pak Bram” jawab Arya.
Tiara yang sudah memejamkan mata pun seketika membuka matanya karena terkejut mendengar jawaban Arya.
“Jadi kamu sudah kerja di pusat lagi?” tanya Tiara.
“Iya, Pak Bram dan istrinya akan menetap disini”.
“Kok baru bilang?” gerutu Tiara sambil cemberut.
Arya bingung mau menjawab apa, takut Tiara tambah marah. Maklum akhir-akhir ini Tiara sangat sensitif.
“Sudah sudah, jangan diperpanjang. Ara jangan kayak anak kecil” tegur sang bunda.
Kristian geleng-geleng kepala, merasa aneh dengan sikap putrinya. Tiara yang selalu dewasa semenjak menjalin hubungan dengan Arya berubah 180 derajat menjadi sangat manja. Apa benar kata orang kalau sedewasa apapun wanita akan berubah manja bila bertemu orang yang tepat?.
“Maaf yank, Pak Bram mendadak juga ingin pindahnya” jelas Arya, berharap Tiara bisa mengerti.
Tiara masih cemberut dan kembali memejamkan matanya.
“Udah jangan dipikirin. Kadang-kadang Tiara memang begitu. Ayo makan lagi. Kamu pasti sakit kan ya? Wajah kamu pucat sekali” kata Ratih yang semakin menyadari bahwa Arya tidak baik-baik saja.
Tiara kembali membuka mata, diperhatikannya lagi wajah kekasihnya yang memang tidak baik-baik saja. Seketika kekesalannya langsung menguap berubah menjadi penyesalan, Secepat itu perasaannya berubah.
“Nggak ma, cuma lelah saja habis perjalanan jauh” jawab Arya.
“Kamu pulang saja istirahat ya, disini sudah ada Papa dan mama” kini Kristian yang angkat bicara.
__ADS_1
Bersambung...