
Alisya dan Bagas menikmati keindahan taman dekat apartemen Alisya. Mereka berdua terkadang mengobrol bahkan Alisya juga bertanya mengenai bunga, yang memilih bekerja di cafe bersama Bagas. Hingga ke obrolan random yang mereka bicarakan. Saat sedang asyik mengobrol, ponsel Bagas berdering.
" Tunggu sebentar ya, aku akan telfon dulu." kata Bagas dan pergi sedikit menjauh untuk mengangkat telfon masuk.
Alisya duduk sendirian, melihat orang-orang yang berlalu lalang di taman. Senyuman manis terukir di wajah gadis itu melihat sepasang kekasih sedang berduaan. Alisya seoalah membayangkan jika dirinya bersama Adrian.
" Baiklah, sebentar lagi kesana." ucap bagas mengakhiri telfonnya. Bagas kembali menghampiri Alisya.
" Al, sepertinya aku harus pergi. Ada urusan mendadak yang aku selesaikan. Gak apa-apa, aku tinggalin kamu disini atau aku antar kamu pulang ke apartemen dulu?" tanya Bagas dengan merasa bersalah karena harus meninggalkan Alisya sendirian.
" Gak usah, aku mau disini. Kamu pergilah." ucap Alisya dengan tersenyum.
"Baiklah, aku pergi dulu ya." ucap Bagas lalu pergi meninggalkan Alisya sendirian di taman.
Hari sudah semakin sore, Alisya sendirian didalam apartemen. Adrian masih belum juga pulang. Alisya mencoba menghubungi namun ponsel suaminya nampaknya tidak aktif. Alisya mulai merasa khawatir. Tidak berselang lama, ponselnya berbunyi. Terdapat sebuah pesan dari Adrian.
" Aku akan pulang telat. Kayaknya pekerjaan ini akan memakan waktu." Setelah membaca pesan itu, Alisya bisa tersenyum lega.
Adrian menggeliat diatas kasur, dia mengucek matanya. Dilihat tubuhnya diselimuti selimut. Adrian sudah tidak mengenakan apapun. Hanya selimut yang menutupi tubuhnya. Dia melihat kesamping, ada Tania dengan keadaan yang sama.
" Apa yang terjadi?" gumam Adrian melihat keadaan dirinya bersama dengan Tania.
Tania terbangun, dia menatap Adrian dengan tersenyum. Sedangkan Adrian tidak mengerti dengan apa yang barusan terjadi padanya.
" Makasih ya Adrian." ucap Tania lembut.
" Maksud kamu apa? Apa yang telah terjadi?" Adrian tidak percaya dengan keadaannya sekarang.
Bukannya menjawab, Tania bangun duduk di kasur dengan menyelimuti tubuhnya. " Kenapa kamu bertanya seperti itu? Bukannya tadi kamu menikmatinya?"
Adrian makin bingung, bukan itu jawaban dia inginkan dari Tania. Adrian memijit pelipis matanya. Mencoba mengingat kejadian yang sebelumnya terjadi. Di memori Adrian hanyalah dia meminum kopi dan sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
" Tania, apa kamu masukkan kedalam kopi itu? Kenapa kita bisa jadi seperti ini? Jawab!" bentak Adrian dia tidak terima dengan keadaan ini.
" Aku gak memasukan apapun di dalam kopi itu, Adrian. Kamu gak ingat, kamu duluan yang mencium dan mendorong ku kasur." jawab Tania.
Namun, tetap saja Adrian tidak mempercayai jawaban Tania itu. Dia membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan mulai kembali memakai pakaiannya yang sudah bertebaran dilantai.
" Adrian," panggil Tania melihat Adrian yang sibuk memakai pakaiannya kembali.
" Berhentilah menyebut namaku." ucap Adrian tanpa melihat kearah Tania.
" Aku tahu kamu marah karena kejadian yang baru saja terjadi. Tapi inilah kenyataan. Aku gak menyangka kamu bakal memenuhi keinginanku." ujar Tania.
Adrian menatap Tania dengan tatapan benci, seolah dirinya sudah memang sudah dipermainkan oleh Tania.
" Aku memang masih mencintaimu tapi bukan ini yang aku mau. Aku gak mau menyakiti hati Alisya." ujar Adrian.
" Kamu bilang kamu gak mau seperti ini? Adrian, kamu yang memulai semuanya. Kamu gak ingat, kamu yang mendorongku dan menyetubuhi ku. Aku memang sejak awal meminta, tapi aku gak memaksa. Kamu yang memulai." ujar Tania tidak menerima jika dirinya dituduh Adrian yang menyebut hal itu terjadi pada mereka berdua.
Adrian mengacak rambutnya, dia tidak bisa berkata-kata. Rasanya kepalanya seperti mau meledak. Dia takut, jika Alisya mengetahui semuanya. Maka berakhirlah sudah rasa kepercayaan Alisya kepadanya. Adrian mengambil kunci mobilnya dan keluar meninggalkan Tania yang menangis sendirian.
Alisya sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Melihat beberapa model pakaian bisnisnya yang akan dipromosikan melalui platfrom media sosialnya. Alisya tersenyum melihat komentar serta chat dari para pelanggan.
Saat sedang asyik dengan ponsel, bel pintu apartemen berbunyi. Reflek Alisya menjawab, " Tunggu sebentar."
Namun, Alisya mengurungkan niatnya untuk membuka pintu. Karena siapa lagi jika yang datang adalah suaminya. Tetapi pintu belum juga terbuka, Alisya menatap pintu masuk apartemen.
"Perasaan aku gak kunci pintu, kenapa dia gak masuk-masuk juga." gumam Alisya.
Alisya turun dari kasur dan berjalan menuju pintu. Dia membukakan pintu namun tidak satu orangpun diluar pintu apartemen. Alisya menengok ke kiri dan kanan tidak ada satu orang pun. Hingga kakinya menginjak sebuah amplop besar berwarna coklat muda.
" Amplop siapa ini?" gumam Alisya mengambil amplop itu.
__ADS_1
" Apa jangan-jangan amplop berisi dokumen kerja, Adrian?" gumam Alisya menutup kembali pintu.
Alisya melihat-lihat amplop itu. Dia merasa karena di dalam amplop itu bertulis " untuk Alisya" berarti amplop itu bukanlah amplop yang berisikan dokumen kerja Adrian. Alisya yang penasaran, mulai membuka amplop. Nampaknya berisi beberapa foto cetak. Awalnya Alisya tidak melihat gambarnya, saat dibalik ternyata gambar foto itu begitu membuat Alisya syok. Air matanya tiba-tiba menetes, hati begitu sakit melihat semua foto itu. Foto itu menggambarkan Adrian yang tertidur dalam keadaan tubuhnya yang ditutupi selimut bersama dengan Tania, mantan kekasih suaminya.
Alisya terus menangis, dia tidak menyangka jika Adrian akan membohonginya hari ini. Dilihat dari pakaian yang tergeletak di lantai, sepertinya pakaian yang baru saja Adrian pakai tadi pagi. Hatinya begitu sakit melihat semua foto itu.
Alisya mengambil ponselnya, segera dia menghubungi Dafa. Dia ingin Dafa menjemputnya untuk pulang ke Jakarta. Dia tidak sanggup melihat Adrian lagi.
" Kak Dafa, hiks.." panggil Alisya ditelpon sambil menangis.
" Ada apa Al?" jawab Daffa yang nada suaranya begitu khawatir karena baru kali ini gadis itu menelponnya dengan menangis.
" Tolong hiks.. jemput aku sekarang hiks.. Aku hiks.. mau pulang hiks.." ujar Alisya terbata-bata karena tangisan.
" Iya, sebenarnya apa yang terjadinya?" Dafa nampaknya begitu khawatir dia terus menanyakan Alisya, namun gadis itu hanya menjawabnya dengan menangis.
" Adrian hiks...hiks... tidur hiks... dengan Taniaaa hiks..." ucap Tania terbata-bata didalam telfon.
Dafa yang menerima telfon terkejut. Dia tidak menyangka jika Tania akan senekat itu.
" Baiklah, kamu kirim lokasi mu sekarang. Aku akan menjemput mu." ujar Daffa sebelum Alisya mematikan telfonnya.
Daffa lalu menghubungi Bagas.
" Hallo." jawab Bagas ditelpon.
" Cepat kirim alamat Tania sekarang." ucap Daffa tanpa basa-basi.
" Sabar dulu bro, kamu gak nanya kabarku selama di Surabaya."
" Cepat kirim alamatnya sekarang, aku tunggu!" ucap Dafa mempertegas kan maksud dari telfonnya.
__ADS_1
Daffa segera mengemasi pakaiannya untuk berangkat ke Surabaya menjemput Alisya.