
"Sayang, Maafkan Aku ya” ucap Kristian sambil memeluk erat tubuh istrinya. Saat ini dia dan Ratih sudah berada di rumah mereka sendiri. Satu minggu kedepan Kristian akan bersama Ratih.
Ratih tidak menjawab, yang dia lakukan hanya menangis karena tidak tega melihat wajah suaminya yang sudah babak belur seperti ini. Kristian rela dipukuli tanpa melawan sama sekali.
“Sstt.. jangan menangis lagi” ucap Kristian sambil menciumi puncak kepala Ratih.
“Kasihan anak kita” ucap Kristian sambil tangannya turun membelai perut Ratih yang masih rata.
“Maafin Papa ya nak” ucap Kristian sambil terus mengelus perut istrinya.
Ratih yang memang terlalu baik akhirnya belajar untuk menerima permohonan maaf suaminya itu.
...****************...
__ADS_1
Satu minggu berlalu, tiba waktunya Kristian untuk tinggal di rumah istri pertamanya.
“Kamu hati-hati ya di rumah. Kabari Aku kalau ada apa-apa” ucap Kristian lalu mencium mesra bibir istrinya.
Ratih pun menganggukkan kepalanya saat ciuman mereka sudah berakhir. Kristian rasanya tidak tega meninggalkan istrinya yang sedang ngidam untuk tinggal seorang diri. Tapi Amara juga memerlukannya. Dengan berat hati Kristian meninggalkan Ratih untuk pulang ke rumah istri pertamanya.
Hari ini adalah hari minggu dan Kristian tidak pergi bekerja. Sesampainya di rumah Amara, Amara sudah terlihat seperti orang yang kehilangan arah. Dia memasuki depresi tahap awal tapi Kristian belum menyadarinya.
“Iya tidak apa ma. Apa kamu mau asisten rumah tangga juga?” tanya Kristian. Amara pun menganggukkan kepalanya dengan cepat.
“Nanti Papa carikan ya” ucap Kristian seraya merangkul istrinya untuk masuk ke dalam kamar.
Seharian itu Kristian mengajak Tira bermain karena Amara terlihat kurang sehat. Hingga hari ketujuh Amara masih juga tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia akan membaik. Mereka sudah ke dokter dan dokter mengatakan kalau Amara kelelahan dan banyak pikiran.
__ADS_1
Harusnya sepulang kerja Kristian kembali ke rumah Ratih. Tapi Tira sangat rewel dan Amara masih sakit. Dengan terpaksa Kristian menghubungi Ratih kalau dia tidak bisa pulang. Keesokan harinya pun begitu, tapi Kristian sudah sangat merindukan Ratih. Maka belum jam pulang kerja dia sudah permisi untuk menemui Ratih istri nya yang tidak pernah mengeluh. Walau tidak pernah mengeluh tapi Kristian yakin Ratih pasti kesepian. Kristian sengaja membawakan banyak makanan kesukaan Ratih.
“Sayang…” panggil Kristian saat memasuki rumah. Ratih yang saat itu sedang mencuci baju begitu terkejut melihat kedatangan suaminya.
Dia langsung menghentikan kegiatan mencucinya dan berhamburan ke pelukan Kristian. Kristian menciumi puncak kepala Ratih karena dia pun sangat merindukan istrinya itu. Kristian mencium bibir Ratih dengan mesra hingga mereka tidak bisa menahan hasrat yang sudah terpendam cukup lama. Di siang menuju sore itu mereka melakukan penyatuan dengan begitu menggebu-gebu tidak hanya sekali tapi berkali-kali.
“Maaf ya, Aku tidak bisa pulang sekarang. Amara masih sakit” ucap Kristian sambil memeluk erat tubuh istrinya.
“Mbak Amara sakit apa Kris? Tidak dibawa ke dokter?” tanya Ratih pula.
“Kenapa kamu memanggil nama? panggil Aku sayang seperti sebelumnya”mohon Kristian dengan tatapan sendu. “Kamu masih marah sama aku?” Dulu memang sebelum Kristian ketahuan mempunyai dua istri, Ratih selalu memanggilnya dengan sebutan sayang walau Kristian tetap memanggil nama. Tapi kini malah sebaliknya. Kristian yang memanggil sayang sedangkan Ratih memanggil nama.
Bersambung...
__ADS_1