
Sejak saat itu Kristian dan Amara tidak pernah tidur bersama lagi. Kristian tetap adil seminggu di tempat Ratih dan seminggu kemudian di tempat Amara hingga kedua putrinya menginjak usia remaja. Tiara kelas 1 SMA sedangkan Tira kelas 3 SMA. Tapi Kristian menutup semua itu dari Ratih, Kristian tidak mau Ratih merasa bersalah.
Hubungan antara Amara pun seperti biasa, hanya saja mereka tidur terpisah dan Tira tentu tau tentang itu. Tira sebenarnya ingin sekali melihat Mama dan Papanya seperti kemesraan Papanya dengan Mama Ratih. Tapi belakangan Tira akhirnya tau kalau ternyata Amaralah yang tidak mau sekamar dengan Papanya karena Mamanya memaksa Kristian untuk berpisah dengan Ratih.
“Pa, Aku ingin sekali berangkat ke sekolah menggunakan mobil. Boleh ya pa? Sebentar lagi Aku kan lulus SMA” seperti biasa Tira selalu merengek minta dibelikan ini dan itu oleh Papanya. Kristian yang memang menyayangi kedua putrinya pun menganggukkan kepalanya.
“Yeyy… Thank You Papa” ucap Tira sambil mencium pipi Papanya dan berlari ke dalam kamar. Melihat itu Kristian hanya geleng-geleng kepala.
Keesokan harinya, sepulang bekerja Kristian bergegas menuju rumah Ratih. Dia sudah sangat rindu kepada istri dan juga anaknya.
“Pa..” ucap Tiara sambil mencium punggung tangan Ayahnya.
“Mama mana?” tanya Kristian setelah mencium kening putrinya.
“Di kamar pa, Sepertinya baru saja mau mandi” jawab Tiara.
“Papa ke kamar dulu ya” ucap Kristian dengan senyum terkembang. Mendengar guyuran air di dalam kamar mandi membuat Kristian tersenyum senang dan langsung masuk ke kamar mandi. Disana tentu saja dia tidak hanya mandi, tetapi melakukan hal yang sudah di tahan selama seminggu ini.
Seperti pengantin baru, Kristian membantu Ratih mengeringkan rambutnya. Mereka memang selalu romantis padahal sudah belasan tahun menikah.
"Ma, Papa mau belikan Tiara mobil" ucap Kristian sambil terus mengeringkan rambut istrinya.
"Jangan Pa, Tiara masih terlalu kecil untuk bawa mobil. Nanti saja saat kuliah ya" ucap Ratih berbicara sambil menatap pantulan wajah suaminya di cermin rias.
"Tapi Tira sudah minta mobil, nanti Tiara kira Papa pilih kasih" ucap Kristian yang tidak ingin kasih sayangnya dibilang berat sebelah. Padahal dia sangat menyayangi kedunya.
"Nggak akan Pa. Nanti Mama bilang sama dia kalau Papa juga akan belikan tapi saat dia sudah kuliah" jelas Ratih.
Kristian pun akhirnya setuju dengan saran istrinya.
"Mama sudah buat sop buntut dan Iga bakar kesukaan Papa lho" ucap Ratih sambil mengalungkan tangan di leher suaminya. Mereka sudah selesai bersiap dan hendak menuju meja makan.
__ADS_1
Kristian mencium bibir istrinya yang begitu menggoda.
"Terima kasih ya, Mama memang yang terbaik" ucap Kristian saat ciumannya telah berakhir.
Ratih tersenyum.
"Ayo, kasihan Tiara pasti sudah nungguin" ucap Ratih sambil menarik tangan Kristian menuju meja makan.
Benar saja Tiara sudah menunggu orang tuanya sambil berpangku tangan.
"Sudah lapar ya?" Tanya Ratih sambil mengelus rambut putrinya.
Tiara pun menganggukkan kepalanya.
"Maaf ya nak lama menunggu" Kristian yang menjawab sambil mengelus rambut putrinya.
Tiara kembali mengangguk tanda tak masalah.
"Pa.. Ma, minggu depan ada pertemuan orang tua murid, kalian bisa datang kan?: tanya Tiara pada kedua orang tuanya.
"Tentu sayang" sahut Ratih dan Kristian hampir bersamaan.
Saat hari pertemuan itu tiba, Amara jatuh sakit dan saat itu juga ada pertemuan orang tua murid di sekolahnya.
"Ma, Amara sakit. Jadi Aku tidak bisa ke sekolah Tiara. Kamu tidak apa-apa pergi sendiri kan Ma?" Tanya Kristian pada Ratih pada sambungan telepon.
"Iya gak apa-apa pa. Sudah dibawa ke dokter?" Tanya Ratih pula.
"Dokter sebentar lagi datang. Aku tidak bisa menemani karena harus menghadiri acara Tira menggantikan Amara" jelas Kristian.
"Iya pa. Semoga mbak Amara lekas sembuh ya" ucap Ratih sebelum mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
Ratih dan Kristian tidak pernah menyangka kalau hal yang tidak mereka sengaja ini membuat Tiara salah paham dan membuatnya tumbuh menjadi gadis Alpha yang keras terhadap hidupnya sendiri.
…
"Eh, itu bukannya Kakak kamu?" Tanya salah satu teman Tiara. Mereka saat ini sedang menunggu angkutan umum saat pulang sekolah.
Saat itu juga Tira lewat menggunakan mobil miliknya dengan atap yang terbuka. Tira tidak sendiri tapi dengan beberapa temannya.
Tiara pun menganggukkan kepalanya.
"Kamu gak minta Papa mu beliin mobil juga?"tanya teman Tira itu lagi.
Tiara hanya tersenyum tanpa berniat menanggapi. Tiara sudah terlanjur kecewa karena Papanya tidak jadi menghadiri acaranya di sekolah beberapa minggu lalu.
Sejujurnya Tiara bukan ingin dibelikan mobil juga, dia belum berusia 17 tahun hanya saja Tiara merasa Papanya tidak pernah mengutamakan dirinya. Sudah berkali-kali Kristian membatalkan janjinya pada Tiara.
Seperti saat ini, mereka akan pulang kampung ke rumah orang tua Ratih. Selain karena liburan sekolah, anak tertua dari Danu (Kakak Ratih) akan menikah, jadi Ratih, Tiara dan Kristian rencananya akan menginap disana.
Tiara sudah siap dengan tas ransel dan 1 koper yang berisikan keperluan lainnya. Dia dan Mamanya sudah menunggu di depan teras karena tadi Kristian menelpon mengabarkan kalau sudah berangkat.
Ponsel Ratih pun tiba-tiba berdering. Segera dia mengangkat panggilan tersebut. Ratih berbicara dengan si penelpon cukup lama yang Tiara yakini adalah Papanya.
“Papa gak bisa ya ma?” tanya Tiara saat Mamanya sudah menutup teleponnya.
“Iya, gak apa-apa kan? nanti papa nyusul” jawab Ratih sambil mengelus rambut putrinya.
“Iya, gak apa-apa kok Ma” jawab Tiara dengan tersenyum. Mendengar jawaban Tiara membuat Ratih tidak jadi menjelaskan alasan Kristian membatalkan rencana mereka. Amara kembali jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Tidak mungkin Kristian membiarkan Putrinya mengurus Amara seorang diri. Amara mengalami stress dan itu karena kesalahannya sendiri.
Dan kejadian seperti itu terus berlanjut. Tiara selalu mengatakan tidak apa-apa bila Kristian membatalkan acara mereka. Tiara tidak pernah menuntut penjelasan Papanya dan selalu terlihat baik-baik saja.
Kristian yang awalnya seminggu di tempat Amara kemudian seminggu di tempat Ratih menjadi lebih jarang di tempat Ratih. Itu karena setelah kematian Tira, Amara menjadi sangat depresi dan tidak mengenali dirinya. Perhatian Kristian jadi terpusat pada Amara karena dia sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain dirinya.
__ADS_1
Flashback Off