
Adrian bangun dari kasur, sedangkan Alisya masih tertidur pulas. Semalam Adrian tidak bisa tidur karena memikirkan apakah dia datang menemui Tania atau tidak. Jujur di dalam hatinya Adrian tidak bisa membohongi dia ingin kembali bertemu dengan Tania. Namun, saat dia memandang Alisya yang masih tertidur dia teringat bahwa dia tidak mau menyakiti perasaan gadis itu lagi. Adrian terus menimbang apakah dirinya menemui Tania atau tidak. Tetapi, kalau sekedar hanya bertemu, mungkin tidak masalah bagi Adrian. Dan juga tidak mungkin menyakiti hati Alisya juga.
Adrian ke mandi, dia mulai bersiap-siap untuk menemui Tania. Adrian mencoba pelan-pelan dalam membuka koper bahkan berjalan dari kamar mandi. Karena dia takut jika Alisya terbangun, pasti gadis itu akan menanyakan mau kemana. Tetapi saat Adrian hendak mengambil kunci mobil. Alisya terbangun, dia memandangi Adrian yang sudah rapi hendak ingin keluar.
" Kamu mau kemana?" tanya Alisya.
" Klien tadi malam kembali menghubungi ku ada hal yang belum kami selesaikan semalam. Jadi aku harus pergi pagi ini untuk menemui." ujar Adrian berbohong, padahal dia ingin menemui Tania.
" Tunggu sebentar.." ujar Alisya hendak bangun dari kasurnya.
" Al, eum.. maaf kali ini aku gak bisa ngajak kamu. Ini urusan serius, jadi aku gak bisa menunggu kamu lama-lama. Soalnya klien sudah menunggu dari tadi. Maaf, aku harus pergi sendiri kali ini." ujar Adrian mencium kening istrinya.
" Emangnya sepenting itu? Tinggal nunggu aku nyuci muka doang, apa susahnya?" gumam Alisya cemberut.
Namun, sayang tidak didengar oleh Adrian. Karena Adrian sudah menghilang dibalik pintu. Karena sendirian di apartemen, Alisya memutuskan untuk jalan-jalan sendiri disekitaran apartemennya.
Adrian melajukan mobilnya ke lokasi, yang dituliskan di kertas yang semalam ditulis oleh Tania. Awalnya kertas itu mau dibuang Adrian, karena dia merasa tidak perlu baginya untuk bertemu dengan Tania lagi. Namun, dia mengurungkan niatnya itu.
Tidak terasa mobil itu berhenti disebuah apartemen. Adrian keluar dari mobil dan mencari apartemen yang sesuai dengan alamat di kertas itu. Sesampainya di pintu apartemen, jarinya belum memencet bel. Adrian menghela nafasnya, mencoba mengatur emosinya agar tidak meluap melihat gadis itu. Jarinya mulai memencet bel pintu apartemen Tania.
" Tunggu sebentar." terdengar teriakan dari dalam apartemen.
Tania membukakan pintu, terlihat sebuah senyuman terukir diwajahnya melihat siapa yang datang menemuinya. Tania mempersilahkan orang itu masuk.
" Aku gak menyangka kamu bakal menemui ku hari ini. Awalnya aku mengira kamu gak akan menemui ku lagi." ujar Tania tersenyum.
Ekspresi wajah Adrian jutek, seoalah tidak memperdulikan senyuman manis yang Tania tunjukan padanya.
" Aku hanya ingin bertemu. Menyelesaikan semuanya." ujar Adrian tanpa ekspresi.
" Duduklah dulu." ucap Tania mempersilahkan Adrian duduk di sofa.
Adrian menatap jendela, kebetulan pemandangannya begitu cantik. Tidak disangka jika gadis itu memilih tempat tinggal yang bisa melihat pemandangan kota Surabaya.
" Ini minumlah, dan ada beberapa kukis untukmu." kata Tania meletakkan minuman serta kukis di atas meja.
__ADS_1
Adrian yang sedari tadi menatap pemandangan diluar jendela, hanya melihat Tania sekilas dan kembali memandangi jendela.
" Pemandangannya bagus ya." ucap Tania.
"Hmm."
" Adrian, aku tahu kamu masih sakit hati sama aku. Aku minta maaf, mungkin selama ini kamu dendam pada ku. Tetapi Adrian aku juga merasakan hal sama. Aku.." perkataan Tania dipotong oleh Adrian. Dia terlihat kesal dengan perkataan yang seolah dengan gampangnya meminta maaf.
" Merasakan hal sama? kenapa kamu gak mencari ku? kenapa kamu menghindari ku?" bentak Adrian, tidak bisa membendung emosinya.
" Aku tahu aku salah Adrian. Aku tahu itu! Kamu gak tahu apa yang aku rasakan. Adrian! Hidup ku dengan mu jauh berbeda. Itulah alasan kenapa aku merelakan kamu menikah dengannya. Aku sayang sama kamu, tapi aku gak bisa mendampingi mu. Kalau kamu memilih ku juga kamu pasti gak bisa hidup miskin, kan?" ujar Tania sambil menangis.
Adrian terdiam mendengar semua perkataan Tania. Dia menyadari akan hal itu, dia juga bisa menolak perjodohan yang sudah direncanakan oleh kedua orangtuanya. Adrian menatap wajah Tania yang menangis, dia merasa kasihan dengan gadis itu.
Adrian menghampiri gadis itu, dan mengangkat ibu jarinya untuk menghapus air matanya.
" Maafkan aku. Aku menyadari jika aku terlalu egois." ujar Adrian.
" Aku sayang sama kamu." ujar Tania memeluk Adrian, tangisan Tania kembali pecah.
Tania menghapus bekas air matanya, "Minum kopinya udah keburu dingin. Aku buat kopi sesuai dengan takaran gulanya sama seperti dulu." ujar Tania mempersilahkan Adrian meminum kopi buatannya.
" Iya," Adrian mengambil kopi itu dan meminumnya sedikit.
" Bagaimana? Apa ada yang kurang?" tanya Tania karena khawatir kopi buatannya tidak sesuai dengan selera Adrian.
" Selera ku masih sama. Dan ini rasa yang aku mau." ujar Adrian.
Suasana yang canggung sedikit menghilang. Tania mencoba membicarakan masa lalu mereka berdua. Adrian yang tadinya tidak merespon mulai terhanyut akan masa lalunya.
Sambil cerita Adrian sesekali meminum kopi. Tanpa terasa pandangan Adrian mulai memudar, Adrian menggeleng-geleng kepalanya sambil terus mengedipkan matanya. Samar-samar Adrian mendengar Tania memanggil namanya. Hingga akhirnya pandangan terasa gelap.
Alisya berkeliling kompleks area apartemennya. Tanpa sengaja dia bertemu lagi dengan Bagas. Alisya menghampiri kakak kelasnya itu.
" Hay kak." Sapa Alisya.
__ADS_1
" Eh! Alisya. kamu tinggal area sini juga?" tanya Bagas.
" Iya kak. Kakak ngapain disini?" tany Alisya melihat Bagas berada disini. Sebab dari kemarin dia tidak melihat Bagas disekitaran apartemennya.
" Oh, kebetulan lagi jalan-jalan. Karena pemandangan disini bagus aku sesekali ambil gambar." ujar Bagas.
" Oh gitu ya kak." ucap Alisya mengangguk.
" Kamu sendirian?" tanya Bagas melihat Alisya sendiri.
" Iya kak, soalnya Adrian lagi bertemu sama klien. Katanya urusan mereka belum selesai. Karena takut aku menunggu lama lagi, jadi dia pergi sendiri." ujar Alisya cemberut karena tidak ikut bersama Adrian.
" Ketemu klien? Oh gitu ya, kebetulan aku sendiri. Aku temani kamu jalan ya." kata Bagas menawarkan.
" Boleh kak, dari pada sendiri." ucap alisya.
Dari pada dirinya harus berjalan sendirian. Karena Adrian mungkin akan lama untuk pulang ke apartemen.
" Tapi Al, Adrian gak marah kan?" tanya Bagas karena takut seperti kejadian di cafe dulu.
" Tenang aja, aku akan kasih tahu Adrian kok." ujar Alisya mengambil ponselnya dalam tas kecil yang dibawanya.
Ternyata ada sebuah pesan dari Adrian yang belum Alisya baca. Alisya mulai mengirim pesan kepada Adrian, namun suaminya belum juga membalas.
" Bagaimana?" tanya Bagas karena merasa sudah lama menunggu.
" Kita jalan aja kak. Adrian masih belum balas." ujar Alisya.
" Baiklah."
Mereka berdua berjalan berdua. Bagas ingin mengajak Alisya kesebuah taman yang tidak jauh dari area apartemennya.
" Al, apa kamu bahagia?" tanya Bagas tiba-tiba.
" Kok kakak nanya begitu sih! Yang jelas aku bahagia. Ada apa?" tanya Alisya.
__ADS_1
" Gak apa-apa. Aku cuma ingin tahu saja." ucap Bagas tersenyum.