
Semenjak hamil, Alisya nampak murung dibandingkan seperti biasa. Ditambah Adrian selalu sibuk dengan pekerjaannya. Yang biasa pulang sore, kini Adrian terkadang pulang sampai larut malam. Meski begitu, Alisya mau tidak mau hanya bisa menerima tanpa memaksa Adrian untuk meninggalkan pekerjaan. Bahkan hari ini saja Alisya duduk di sofa sendirian sedangkan Adrian malah sibuk dengan pekerjaannya dan belum juga pulang. Alisya merasa bosan, dia mengonta-ganti channel TV untuk melihat hiburan mana yang memuaskan hatinya. Tetap saja semuanya tidak mengembalikan kepuasaan hatinya.
Tak berselang lama, Adrian baru saja pulang. Dia tersenyum menatap istrinya yang duduk tanpa melihat kearahnya.
" Tumben suaminya datang gak disambut." ucap Adrian biasanya setiap Adrian pulang Alisya selalu menyambutnya dengan pelukan.
Alisya menghela nafasnya jenuh, " Aku bosan." ucapnya.
" Bosan kenapa?" tanya Adrian lembut sambil menghampiri istrinya.
" Habisnya kamu sibuk terus." gerutu Alisya kesal.
" Mau gimana lagi sayang. Namanya juga pekerjaan, jadi mau tidak mau harus dikerjakan. Dan hari ini aku Bella memang sangat sibuk untuk ngurusin pertemuan klien nanti. Apalagi klien ini sangat penting, gak mungkin bagi aku untuk mengabaikannya." ujar Adrian dengan lembut agar istrinya bisa memahami dirinya.
" Emangnya kapan pertemuannya?"
" Di Bandung. Aku dan Bella akan kesana. Aku gak bisa mengajak mu sebab gak mungkin juga kamu bisa ikut, kamu harus ngurus bisnismu ,kan. Apalagi Bunga tengah sibuk dengan ujian skripsinya." ujar Adrian.
Dalam hati Alisya ada rasa tidak terima jika Adrian hanya pergi berdua dengan Bella. Namun, dia tidak bisa mengatakan rasa tidak ikhlas itu kepada suaminya. Karena Alisya tak mau jika itu akan mengganggu pekerjaan Adrian.
" Aku siapkan makan malam dulu ya, kamu mandi lah dulu." ucap Alisya.
" Aku udah makan kok. Aku langsung tidur soalnya capek." Adrian beranjak menuju kamar.
Tidak ada pelukan, tidak ada ciuman hangat. Entah kenapa pernikahan ini mulai terasa hambar oleh Alisya. Dan Alisya begitu kecewa, dia sudah menunggu suami pulang serta menanti agar bisa makan bersama. Namun, sayang Adrian malah justru sudah makan diluar dan meninggalkannya dengan memilih tidur duluan.
Merasa sangat kecewa, Alisya menjadi tidak nafsu untuk makan. Diambil semua makanan itu dan dimasukan kedalam tong sampah. Toh percuma disimpan, palingan besok makanan itu sudah basi. Dengan perutnya yang kian membesar, Alisya mengelusnya. Seolah mencoba menenangkan dirinya dan anaknya untuk tidak sakit hati dengan perlakuan Adrian barusan.
Alisya masuk ke dalam kamar, dia melihat Adrian sibuk dengan ponselnya. " Katanya tadi mau tidur?" ucap Alisya dengan nada kesal.
__ADS_1
" Iya, tadi Bella ngabarin ada hal yang urus makanya aku cek ponselku." ujar Adrian dengan arah pandangnya masih ke ponselnya.
Alisya merasa kesal, padahal sudah di rumah namun Adrian tetap sibuk dengan pekerjaannya. Apa salahnya pekerjaan itu ditunda besok saja. Kenapa sampai di rumah juga harus sibuk dengan urusan pekerjaan. Alisya duduk di meja riasnya, menggunakan scencare diwajahnya lalu tidur tanpa memperdulikan Adrian yang masih saja sibuk dengan ponselnya itu.
Alisya membaringkan dirinya dengan membelakangi suaminya. Alisya benar-benar kesal malam ini. Dia sudah menunggu dengan makanan, Adrian malah justru makan diluar. Sekarang dia pun sibuk dengan ponselnya yang katanya ada pekerjaan.
Setelah beres, Adrian meletakkan ponselnya di meja samping kasurnya. Lalu membaringkan dirinya menghadap Alisya yang memunggunginya. Adrian memeluk istrinya dari belakang dan mencium pipi istrinya sambil berbisik, " I love you." Alisya mendengar bisikan itu namun memilih menghiraukan karena sudah duluan sakit hati akibat sikap Adrian hari ini.
Disisi lain, Dafa sudah mulai membuka diri serta menerima Tania di kehidupan pernikahan mereka. Entah kenapa dia sudah menyadari perasaan itu namun sudah bagi untuk mendeskripsikan apa itu cinta atau bukan. Kehidupan pernikahan mereka begitu sama seperti pasangan baru pada umumnya. Mungkin ini rasanya menikah dengan orang yang mencintai kita, hidup berada sangat terjamin. Apalagi Tania selalu menyediakan kebutuhan yang Dafa inginkan. Hal itu membuat Dafa kepikiran untuk sesekali membahagiakan istrinya. Dia berencana mengambil cuti beberapa Minggu untuk bisa menikmati waktu berdua bersama dengan Tania.
" Kamu masak apa?" tanya Dafa ketika melihat Tania sibuk di dapur sedari tadi.
" Cuma masak hal yang simpel untuk kita makan malam." jawab Tania.
Dafa memeluk Tania dari belakang, Tania terkejut dengan tindakan Dafa yang seperti itu. Karena selama ini Dafa terkenal lembut namun tidak bisa bersikap romantis layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Pelukan Dafa seolah menghentikan aktivitas Tania.
" Kenapa berhenti? Gak apa-apa kan jika aku memelukmu seperti ini?" tanya Dafa dengan lembut.
" Gak apa-apa. Aku hanya ingin memelukmu saja." ujar Dafa.
Namun tatapan mata Tania menimbulkan tanda tanya sikap Dafa itu. Dafa merasakannya, " Kamu gak suka?"
" Bukan begitu. cuman tumben gitu loh." ucap Tania.
" Tan, aku menyadari satu hal dalam hidupku sekarang." ucap Dafa tersenyum memandang istrinya.
" Apa?"
" Kenapa aku baru sadar setelah menikah denganmu?" ucap Dafa membuat Tania penasaran.
__ADS_1
" Apa?" tanya Tania lagi.
" Perasaan ku terhadapmu sebenarnya sudah mulai tumbuh. Kenapa aku baru menyadarinya?"
" Maksud kamu?" Tania masih kurang mengerti dengan penjelasan Dafa.
" Aku mencintaimu, Tania." Ucap Dafa dengan lembut dan memeluk istrinya.
Tania mendengar itu, dia terkejut sekaligus bahagia ini adalah momen pertama Dafa mengatakan perasaannya. Selama berpacaran dan bahkan mereka menikah Dafa tidak pernah mengatakan kalimat itu.
" Kamu serius?" tanya Tania menangis haru sambil melepaskan pelukan Dafa padanya.
Dafa mengangguk, " Aku mencintaimu, istriku.. Maaf ya selama ini, aku..."
Belum sempat Dafa melanjutkan kalimat yang ingin dia utarakan. Tania sudah memotongnya dengan mendaratkan sebuah kecupan manis dibibir Dafa.
" Aku juga mencintaimu, Daf.. Aku sangat mencintaimu.." ucap Tania memeluk Dafa sambil terharu bahagia.
Ya, penantian panjang akan cinta terbalas ternyata membuahkan hasil, perasaan Tania terbalaskan. Meski banyak peristiwa jahat bahkan menyedihkan dibalik penantian panjang itu.
Dafa menyentuh kedua pipi istrinya, memberikan sebuah ciuman manis dibibir istrinya. Rasanya benar-benar bahagia, apalagi dilakukan dengan saling mencintai.
" Sabar dulu." ucap Tania mengehentikan ciuman itu. Takut jika akan berlanjut.
" Apa?" tanya Dafa.
" Kita makan malam dulu. Kamu pasti lapar,kan soalnya baru pulang kerja." ujar Tania kembali ke aktivitasnya semula.
" Iya, aku lapar.. Aku lapar ingin dan juga ingin mencicipi mu." ujar Dafa dengan polosnya.
__ADS_1
Tania yang mendengar hal itu, merasa malu. " Apaan sih! Lapar ya makan nasi. Bukan aku!" ucap Tania kesal.
Dafa kembali memeluk Tania, "Maaf ya." ucap lembut tepat didekat telinga Tania. Membuat Tania tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.